ilustrasi

batampos.co.id – Industri di Kepri memiliki potensi untuk menjadi motor ekspor Indonesia di masa depan. Syaratnya adalah pemerintah mau memberikan bantuan untuk memperbaiki kualitasnya dan mau mendorong industri kecil agar menjadi komplementer dari industri besar.

“Produk industri perlu didorong untuk yang tumbuh masuk ke pasar ekspor. Baik dari perbaikan kualitas, desain, packaging, ataupun diikusertakan di pameran,” kata guru besar Fakultas Ekonomi dan Binis Universitas Padjadjaran (Unpad), Ina Primiana, Selasa (5/2/2019).

Ina yang juga Sekretaris I PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ini mengatakan perlu dilakukan survey untuk memasuki pasar yang sudah menjadi tujuan ekspor atau pasar lainnya.

Saat ini, produk industri yang ada di Kepri berbeda dengan lainnya karena bersifat untuk keperluan domestik dan terus mengalami ekspansi.

Tapi belakangan ini, gairah industri seperti Sat Nusapersada yang mulai ekspor ke Amerika dianggap sebagai langkah awal yang baik.

Pemerintah perlu mendorong agar industri kecil mampu menjadi pemasok bagi industri besar. “Hal ini berpeluang meningkatkan daya saing produk karena biaya bahan baku berasal dari lokal yang tentunya akan lebih murah daripada impor sehingga harga kompetitif,” paparnya.

“Selain itu, hilangkan berbagai hambatan yang terjadi pada rantai pasok untuk menekan biaya ekonomi tinggi. Mudahkan proses perizinan dan prosedur untuk ekspor dan mengembangkan sarana logistik terpadu untuk menekan biaya,” ucapnya.

Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) di Kepri pada triwulan terakhir 2018 tumbuh positif sebesar 3,79 persen dibanding triwulan sebelumnya.

Begitu juga dengan industri manufaktur mikro dan kecil (IMK) yang tumbuh 7,77 persen pada triwulan keempat 2018. (leo)