batampos.co.id – Meskipun sedang memasuki masa transisi peralihan pimpinan, Badan Pengusahaan (BP) Batam tetap akan menjalankan program untuk mengawal investasi.

“Rencana investasi 2019 itu terdiri mengawal pelaksanaan komitmen rencana 20 bisnis penanam modal asing (PMA) dan PMDN yang sudah mendapatkan alokasi lahan,” kata Kasubdit Humas BP Batam, Muhammad Taofan, Rabu (6/2/2019).

Begitu juga dengan mengawal rencana Pegatron yang merupakan perusahaan elektronik Taiwan kedua terbesar setelah Foxcon yang akan segera beroperasi di Batamindo pertengahan tahun ini.

“Lalu rencana ekspansi produksi di Sat Nusapersada, dimana produksi HP Xiaomi naik dari 1 juta unit per bulan menjadi 2 juta dan pembangunan proyek proverty Nuvasa Bay seluas 230 hektar,” ungkapnya.

Kemudian pengembangan Bandara Hang Nadim dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).Nilai investasinya Rp 4 triliun. Pengembangan Water Treatment Plant (WTP) Tembesi dengan skema KPBU dan nilai investasinya Rp 300 miliar.

Selanjutnya adalah pengembangan Kawasan Wisata Tembesi yang meliputi pembangunan resort, villa dan theme park seluas 90 hektar. Investornya adalah gabungan perusahan lokal dan Tiongkok. Nilai investasinya 1 miliar dolar Amerika untuk delapan tahun.

“Dan pengembangan kawasan wisata Pulau Tonton yang terdiri dari resort, apartemen, theme park seluas 28 hektar. Investor lokal dan dari Korea dengan nilai investasi Rp 4 triliun untuk lima tahun,” ucapnya lagi.

Disamping itu, BP akan memetakan berbagai regulasi penghambat investasi untuk usulan relaksasi kebijakan pemasukan barang modal dan bahan baku.

“Serta pembenahan tata kelola alokasi impor barang konsumsi. Serta pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Hang Nadim dan Nongsa dan peningkatan kapasitas SDM,” katanya.

ilustrasi

Terpisah, Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing mengatakan investor akan semakin senang jika perizinan dipermudah lewat satu pintu saja.

Dengan perizinan di bawah satu koordinasi, maka akan mempermudah investor. Batam didesain untuk bersaing dengan negara ASEAN lainnya sehingga pemerintah juga harus memberikan tambahan insentif.

Pria yang akrab disapa Ayung ini mengatakan, selama ini calon investor yang datang ke Batam selalu membandingkan Batam dengan negara sekitar seperti Vietnam, Malaysia, dan lainnya.

“Selain perizinan di sana lebih mudah, beberapa negara tetangga sudah mulai membuka pengembangan kawasan ekonomi yang bagus dan penuh insentif,” paparnya.

Ayung mengatakan, tak jarang calon investor yang mengeluh-kan repotnya mengurus izin di Batam karena ada perizinannya yang harus diurus ke BP Batam tapi ada juga perizinan yang mesti diurus di Pemko Batam. Contohnya izin lingkungan. Sementara itu, regulasi di bidang ketenagakerjaan, khususnya Tenaga Kerja Asing (TKA), harus diurus via online.

“Khusus yang TKA masih sering tak nyambung online-nya. Sebelumnya bisa diurus di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Batam. Seharusnya semua itu dijadikan di satu tempat,” tegasnya. (leo)