batampos.co.id – Setelah sekian lama terpuruk, perekonomian Kepri mulai bangkit. Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri mencatat pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 5,34 persen pada triwulan IV tahun 2018.

Sementara secara kumulatif (c-to-c), ekonomi Kepri pada 2018 tumbuh sebesar 4,56 persen. Angka pertumbuhan tersebut jauh lebih cepat dibandingkan tahun 2017 yang hanya tumbuh 2,00 persen.

Loading...

Jika dibandingkan dengan triwulan IV-2017 (q-to-q), ekonomi Kepri pada triwulan IV-2018 tumbuh sebesar 3,07 persen. Dari sisi produksi, sebagian besar kategori lapangan usaha mengalami pertumbuhan. Tiga kategori yang memberikan andil pertumbuhan terbesar antara lain kategori pertambangan dan penggalian 1,52 persen; kategori industri pengolahan 0,46 persen; dan kategori administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib 0,31persen.

“Dalam lingkup regional, PDRB Kepulauan Riau triwulan IV-2018 memberikan kontribusi sebesar 7,94 persen terhadap PDRB Pulau Sumatera,” kata Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Kepri, Zunadi, dalam rilisnya kepada Batam Pos, Rabu (6/2/2019).

Zunadi mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV tahun 2018 tersebut lebih banyak didorong oleh pertumbuhan sektor industri pengo-lahan yang memberikan andil 1,80 persen.

Sedangkan dari sisi penge-luaran, komponen pembentukan modal tetap bruto memberikan kontribusi sebanyak 3,87 persen.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid mengatakan pertumbuhan ekonomi Kepri yang bagus ini bisa menjadi tolak ukur tanda kebangkitan ekonomi Provinsi Kepri.

“Sebagaimana kita ketahui bahwa porsi perekonomian Kepri itu disumbang oleh perekonomian Batam sebesar 70 persen. Itu artinya kebangkitan ini bisa dipandang sebagai kebangkitan ekonomi Batam juga,” ungkap Rafki, Rabu (6/2/2019).

Menurut Rafki, pertumbuhan ekonomi ini merupakan kerja keras dari Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemko Batam selama setahun ini membenahi investasi dan perizinan di Batam. Terlihat dari porsi Pembentukan Modal Tetap Bruto yang mencapai pertumbuhan 3,87 persen di tahun 2018 lalu.

Kebangkitan ekonomi Batam baru akan benar-benar dirasakan tahun depan. Karena tahun ini masih tahap awal persiapan masuknya investasi baru ke Batam dan daerah lain di Kepri. Prosesnya bisa cukup lama. Sehingga dampak ekonominya baru akan terasa tahun depan.

Rafki berharap perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok berlangsung lebih lama lagi. Sehingga diaharapkan akan lebih banyak lagi investor dari dua negara itu yang ekspansi atau relokasi ke Indonesia, terutama Batam.

“Prediksi saya perang dagang ini masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Sehingga Indonesia khususnya Kepri harus memanfaatkan peluang meraih investasi ini,” katanya.

Sedangkan Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hioeng mengatakan, pertumbuhan positif ini tidak lepas dr pertumbuhan industri pengolahan yang memberikan andil sekitar 1,8 persen. (leo)

Loading...