ilustrasi

batampos.co.id – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam akan segera menertibkan peredaran ponsel bekas dari Singapura yang marak di Batam.

Berkoordinasi dengan instansi lain terkait seperti Bea Cukai Batam, Disperindag akan menindak pengusaha yang mendatangkan produk tersebut karena menyalahi aturan yakni Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 17 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Barang Modal dalam Keadaan Tidak Baru atau Bekas.

”Kalau itu memang benar diimpor ke Batam dan diperjualbelikan bebas, itu sudah menyalahi aturan tata niaga. Itu harus kompak segera ditindaklanjuti dan ditertibkan dengan sinergitas bersama instansi lain terkait,” terang Gustian, Rabu (6/2/2019).

Ponsel bekas Singapura yang beredar tentunya tak memiliki nomor IMEI yang teregistrasi di Indonesia. Karena itu, pihak Disperindag sesegera mungkin juga akan berkoordinasi dengan instansi yang mengurusi sektor lalu lintas barang. Selain itu, Disperindag juga akan berkoordinasi de-ngan pihak kepolisian untuk menertibkan penjualan ponsel eks Singapura yang nomor registrasinya berupa IMEI tak terdaftar di Indonesia.

Sementara Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI) Bea Cukai Batam Sumarna mengatakan, Bea Cukai Batam saat ini sedang mengumpulkan data tangkapan sekaligus memetakan di pelabuhan ilegal mana saja ponsel bekas Singapura itu masuk ke Batam.

”Kawan-kawan dari Penyidikan dan Penindakan (P2) Bea Cukai Batam saat ini lagi fokus menganalisa terkait jalannya masuk barang ilegal tersebut,” ujarnya dalam pesan singkatnya.

Sebelumnya, maraknya peredaran ponsel bekas eks Singapura yang dijual bebas di Batam mendapat tanggapan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla saat berkunjung ke Batam, akhir pekan lalu. Jusuf Kalla saat itu meminta peredaran ponsel bekas Singapura di Batam harus segera diselesaikan oleh aparat terkait dan instansi terkait di Batam.

”Harus segera diselesaikan, itu jelas melanggar aturan,” tegas JK.

Diberitakan sebelumnya, maraknya penjualan ponsel bekas eks Singapura di Batam dilakukan terang-terangan. Bahkan, sebagian pedagang dengan bangga memajang kalimat promosi bahwa ponsel itu eks Singapura untuk menarik konsumennya. Marak-nya perdagangan ponsel bekas Singapura mendapatkan pennolakan dari beberapa pelaku usaha atau pemilik konter yang memasarkan ponsel baru dan bergaransi.

Seperti pemilik konter ponsel yang berlokasi di kawasan Nagoya, Anto. Maraknya penjualan ponsel eks Singapura di Batam memukul penjualan ponsel baru bergaransi.

”Kami sudah lama mengeluhkan hal itu, tapi harus mengadu kemana? Kalau dibilang penjualan ponsel baru bergaransi kalah jauh peminatnya dibandingkan ponsel bekas eks Singapura di Batam, saya katakan iya. Penyebabnya karena ada ke-timpangan atau disparitas harga, dimana ponsel bekas Singapura lebih murah dibandingkan dengan ponsel baru bergaransi,” papar Anto.

Bahkan soal kualitas, Anto mengakui, ponsel eks Singapura memiliki ketahanan yang tak kalah bagus dibandingkan dengan ponsel baru bergaransi.

”Kelemahan ponsel eks Singapura itu, kalau rusak tak ada garansinya, serta IMEI-nya tak teregistrasi di Indonesia. Kalau dijual lagi harganya juga jatuh. Beda dengan ponsel baru bergaransi,” terangnya. (gas)