batampos.co.id – Kota Air yang sebelumnya akan dibangun Badan Pengusahaan (BP) Batam di Teluk Tering sebenarnya diperuntukkan sebagai lokasi kawasan ekonomi khusus (KEK).

“Pengembangan KEK Kota Air akan berfokus sebagai kawasan bisnis dan finansial dan ujungnya menuju sebagai pusat finansial dengan penerapan offshore banking,” kata Kasubdit Humas BP Batam Muhammad Taofan, Kamis (7/2/2019).



Kota air menempati area 1.500 hektare.

BP Batam sudah memiliki masterplan untuk pembangunan Batam hingga tahun 2045. Masterplan ini mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87/2011 tentang Rencana Tata Ruang Batam, Bintan, dan Karimun.

Ada sejumlah kawasan baru yang akan dikembangkan BP Batam.

Selain Kota Air di Teluk Tering, BP Batam akan membangun Nagoya Kedua di sekitar Pulau Bokor dengan luas 2.000 hektare.

Ketiga Kota Elang Laut di Tanjungpinggir dengan luas 200 hektare.

Keempat Kota Nongsa Crow dengan luas 2.400 hektare.

Kelima Kota Marina City seluas 120 hektare dan keenam yakni Kota Shipyard di Tanjunguncang seluas 1.000 hektare.

Khusus Kota Air akan dibangun memanjang dari Teluk Tering di Batam Center sampai ke wilayah Bengkong.

Sehingga nantinya Kota Air akan terintegrasi dengan Pelabuhan Batuampar menjadikannya pusat kawasan bisnis dan finansial terpadu.

“Dalam konsepnya, BP berperan sebagai pemilik Hak Pengelolaan Lahan (HPL) di sana. Karena itu juga berperan sebagai pemilik aset dan membentuk badan usaha yang mengelola Kota Air,” ungkapnya.

Konsep bisnisnya yakni BP sebagai pemilik aset menjual atau menyewakan gedung kepada penyedia jasa seperti bank, perusahaan asuransi, penjaminan, design house, pembiayaan, dan perusahaan sekuritas. Kemudian juga real estate, perhotelan, jasa pelabuhan penumpang, jasa pelabuhan kapal pribadi atau pesiar, pariwisata, pendidikan internasional, pelatihan, pertunjukan seni dan budaya.

“Penyedia jasa tersebut akan menggandeng klien dari perusahaan asing, perusahaan domestik, pedagang, eksportir, importir, pekerja asing, pekerja domestik, dan wisatawan,” ungkapnya lagi.

BP Batam sebagai pemilik aset akan menerima uang sewa sebagai pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Aktivitas bisnis di Kota Air ini dijamin akan beragam dan terfokus pada industri keuangan dan pariwisata.

Dari industri keuangan, akan ada jasa perbankan, asuransi, penjamin kredit, penjamin infrastruktur, jasa pembiayaan ekspor, jasa pembiayaan real estate, perusahaan kartu kredit, dan sekuritas.

“Selain keuangan, bisnis jasa lainnya seperti MICE center, data centre, pembuatan animasi, pariwisata, human resources consultant, dan lainnya,” kata Taofan.

Kehadiran Kota Air yang berperan sebagai KEK bisnis dan jasa akan meroketkan pertumbuhan ekonomi Batam. Tapi sebelumnya, BP Batam harus mencari investor yang bisa diajak mengembangkan Kota Air ini.

Rencana Kota Air ini bergulir saat BP Batam masih dipimpin Lukita Dinarsyah Tuwo. Namun, digagas oleh Pemimpin BP Batam sebelumnya, Hatanto.

Setelah Lukita diganti, nasib Kota Air inipun menjadi tanda tanya karena tugas Eddy Putra Irawadi sebagai kepala BP yang baru hanya untuk mempersiapkan pedoman bagi wali kota Batam sebagai ex officio Kepala BP Batam. Eddy dilarang mengambil keputusan strategis.

Ketika ditanya soal nasib perencanaan Kota Air ini, Taofan hanya tersenyum dan menjawab singkat.

“Saya tidak bisa jawab. Coba ditanya langsung (ke atasan, red),” tegasnya. (leo)

Loading...