foto: batampos.co.id / cecep mulyana

batampos.co.id – Mimpi buruk bagi dunia usaha di Batam terus berlanjut. Pasalnya PT JNE menghentikan pengiriman barang melalui jalur udara setelah tarif kargo pesawat terbang naik 300 persen.

Hal ini diyakini dapat menjadi hambatan bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) atau usaha lainnya yang mengandalkan jasa pengiriman lewat udara. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid mengatakan prihatin dengan kondisi penerbangan saat ini.

“Selain harga tiket yang naik dan bagasi berbayar, ongkos kargo udara juga naik signifikan. Kenaikan ongkos kargo ini akan memiliki dampak berantai kepada sektor lain,” ucapnya, Jumat (8/2/2019).


Ketika jasa pengiriman membayar biaya kargo yang semakin mahal, maka mereka akan membebankan kepada konsumen.

“Kebanyakan konsumen perusahaan jasa pengiriman ini adalah para penjual online. Sehingga mereka juga akan mengenakan harga yang lebih tinggi kepada produk yang dijualnya akibat biaya kargo yang tinggi tersebut,” ucapnya.

Lebih lanjut lagi, para pembeli online akan mengurangi konsumsinya terhadap barang-barang yang dijual online Sehingga permintaan terhadap barang-barang online akan tertekan.

“Hal ini akan bermuara pada melemahnya daya beli masyarakat. Kemudian akan berdampak pada penyempitan lapangan pekerjaan sehingga pengangguran akan meningkat dan menekan laju pertumbuhan ekonomi,” paparnya.

Memang ada pilihan untuk mengganti jasa pengiriman ke moda angkutan darat dan laut. Namun, dampaknya adalah waktu pengiriman yang lebih lama. “Sehingga para penyedia jasa pengiriman belum mempersiapkan diri untuk beralih ke moda lain,” ungkapnya.

Ia juga mendengar ada desas desus bahwa asosiasi jasa pengiriman akan menggelar gerakan boikot angkutan udara.

“Namun sifatnya hanya sporadis saja. Belum memberikan solusi untuk pengusaha jasa pengiriman,” katanya.

Rafki menyarankan agar pemerintah sebaiknya segera mencarikan solusi untuk hal ini.

“Ibaratnya masyarakat sekarang ini sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tarif tiket pesawat naiknya bersamaan dengan naiknya tarif barang bagasi dan juga tarif kargo udara,” tegasnya.

“Pada ujungnya nanti tindakan menaikkan tarif serempak ini jadi bumerang bagi maskapai penerbangan sendiri sehingga banyak pihak yang dirugikan,” ungkapnya.

Pengusaha jual beli online pun sudah banyak yang menjerit, bahkan sejak ongkos pengiriman via pesawat dinaikkan. Ketua Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Aptiknas) Kepri, Brian Lase mengatakan pengusaha jual beli online juga mengeluhkan kenaikan dari ongkos pengiriman.

Dalam jual beli online, ada lima hingga sepuluh komoditas barang yang diperjualbelikan. Dua yang paling populer adalah barang elektronik dan pakaian.

“Banyak pembeli keberatan. Mereka bertanya-tanya kok bisa naik. Kita tak tahu harus menjawab seperti apa karena itu kebijakan pusat,” ucapnya.

Terkadang, pembeli malah membatalkan pesanannya. Sehingga penjual merugi.

“Kalau penjualan turun lima persen itu sudah biasa. Tapi ini sudah turun 30 persen,” ujarnya. (leo)

Loading...