batampos.co.id – Marketing and Branding Manager Harris Hotel Batam Center Dilla Bachmid mengakui tingginya harga tiket pesawat dan kebijakan bagasi berbayar oleh sejumlah maskapai LCC berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan dan tingkat hunian hotel di Batam.

Beberapa grup dari Jawa yang akan berkunjung ke Batam dan menginap di Harris Hotel Batam Center bahkan dibatalkan. ”Grup dari daerah Jawa itu harusnya ke kita, tapi batal karena tiket dan bagasi itu,” ujar Dila, Jumat (8/2).

Ia menduga, rombongan yang batal ke Batam itu kemungkinan besar mengalihkan tujuan wisatanya ke daerah yang masih berada di wilayah Jawa. Sebab transportasinya bisa ditempuh melalui jalur darat. Sehingga lebih murah. Sementara untuk ke Batam harus ditempuh melalui jalur udara atau jalur laut.

”Kondisi ini sudah kami rasakan sejak Januari 2019 lalu,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Kepri, Andika Lim. Diakuinya, tingkat kunjungan wisatawan Nusantara (wisnus) tahun ini paling rendah diban-dingkan tahun sebelumnya.

”Wisman kita akui cukup tinggi. Tapi domestik, sejak tiket mahal dan bagasi berbayar, kita mati suri,” ucapnya.

Menurutnya, banyak wisatawan lokal wait and see dan memilih tidak berpergian ke daerah-daerah di dalam negeri. Bahkan, ketika ada wisatawan lokal asal Pekanbaru yang ingin bermain golf ke Bintan, mereka memilih terbang ke Singapura dikarenakan mahalnya tiket Pekanbaru-Batam.

”Biasanya mereka ke Batam dulu baru Bintan. Mahalnya biaya tiket ini tentu akan memperkuat posisi negara tetangga,” sesal Andika.

Selain itu, usaha kecil menengah di Batam ikut merasakan dampak mahal tiket dan kebijakan bagasi berbayar pesawat. Bahkan banyak pengusaha UKM yang akan gulung tikar akibat kebijakan tersebut.

”Ini yang sangat kita prihatinkan. Di saat kunjungan wisman naik, domestik malah mati suri. Kondisi ini tentu tidak akan baik untuk Batam yang notabenenya ditunjang sebagai daerah pariwisata,” ucapnya.(adiansyah/rengga)