Kebijakan bagasi berbayar yang diterapkan sejumlah maskapai penerbangan tak hanya merugikan penumpang, tapi menimbulkan efek domino bagi sektor lain. Di Batam, dampak tersebut mulai dirasakan sektor pariwisata, perhotelan, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

CHAHAYA SIMANJUNTAK-FISKA JUANDA, Batam

Susana di terminal keberangkatan Bandara Hang Nadim, Batam tak seramai biasanya, Jumat (8/2) siang lalu. Beberapa calon penumpang juga terlihat melenggang santai. Tak diburu waktu. Begitu juga dengan para petugas bandara. Sepinya calon penumpang membuat mereka lebih banyak melihat ke layar ponsel masing-masing, sambil sesekali berbincang dengan rekannya.

Pandangan serupa terlihat di sudut kiri terminal keberangkatan. Beberapa porter pria berkemeja oranye dengan liris hitam tampak bergerombol. Tidak saling sapa. Masing-masing membawa troli dorong berwarna putih. Ada yang duduk di troli, ada juga yang berdiri santai sambil di belakang troli. Tak ada senyum di wajah mereka.

Mendadak mereka bergerak. Beradu cepat menawarkan jasa angkut koper saat mobil Innova hitam berhenti di depan terminal keberangkatan bandara. “Ada berapa bagasi, bu?” tanya Tobing, seorang porter kepada dua wanita yang turun dari mobil tersebut.

Satu wanita tampak menurunkan koper ukuran kabin dari bagasi mobil. Dengan ramah ia menolak tawaran sang porter. “Tak ada. Hanya tas kabin,” ujarnya sambil berlalu.

Begitulah gambaran suasana di terminal keberangkatan Bandara Hang Nadim selama beberapa pekan terakhir. Sejak Lion Air Group menerapkan bagasi berbayar, tak banyak penumpang yang menggunakan jasa porter. Karena mereka memang tak membawa barang bawaan yang berlebih.

Belum lagi kebijakan sejumlah maskapai menaikkan harga tiket yang membuat jumlah penumpang melalui bandara tersebut semakin sepi. “Sejak Lion Air menerapkan kebijakan ini, terasa sekali penurunan pendapatan yang saya terima setiap harinya,” ujar Rizal, porter di Bandara Hang Nadim.

Rizal mengaku, sebelum kebijakan bagasi berbayar diterapkan, rata-rata penghasilan bersihnya dari jasa porter bisa Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu per hari. Namun kini, untuk membawa pulang Rp 100 ribu saja setiap harinya, Rizal mengaku kesulitan. “Tak menentu sekarang. Biasanya sehari bisa dapat 10 sampai 15 orderan. Sekarang dapat tiga orderan saja sudah bersyukur,” ungkap Rizal.

Benar saja. Ketika koran ini masuk ke bangunan bandara, konter-konter check-in Lion Air terlihat sangat sepi. Antrean tidak lebih dari 10 penumpang. Sebab sebagian besar penumpang tidak membawa barang bawaan yang harus masuk bagasi pesawat. Sehingga proses check ini lebih cepat. “Tak ada masuk bagasi. Hanya koper kabin saja,” ujar Fitriyanti, 49, calon penumpang Lion Air tujuan Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (8/2) lalu.

Tak hanya konter check in, konter-konter jasa pengepakan (wraping) barang bawaan penumpang di Hang Nadim juga sepi. Sejak kebijakan bagasi berbayar diterapkan, semakin sedikit saja calon penumpang yang menggunakan jasa mereka. Imbasnya, omzet mereka juga terjun bebas.

Tia, petugas wrapping di Bandara Hang Nadim menyebutkan, biasanya dalam satu shift mereka bisa meraup penghasilan sebesar Rp 9 juta. Tapi kini omzet turun drastis hingga 80 persen. Dalam sehari, hanya bisa mengumpulkan sekitar Rp 2 juta saja. “Hari ini, saya baru mengumpulkan uang beberapa ratus ribu saja. Padahal sudah mau pergantian sif,” ungkap Tia.

Baik Tia maupun Rizal berharap kebijakan bagasi berbayar ini hanya sementara. Kalaupun kebijakan ini bertahan lama, mereka berharap maskapai no frills lainnya, seperti Citilink, tidak menerapkan kebijakan serupa. Sebab jika semua maskapai menerapkan bagasi berbayar, dampaknya akan lebih parah lagi. Bahkan bisa berimbas pada PHK.

Imbas dari kebijakan bagasi berbayar ini juga turut dirasakan para pemilik usaha dan tenant UMKM yang menjual souvenir dan oleh-oleh di Bandara Hang Nadim. Pusat oleh-oleh yang menempati lantai dua bandara itu terlihat sepi pengunjung.

Tenant Kek Pisang Villa, misalnya. Sejak kebijakan bagasi berbayar diterapkan, omzet penjualan oleh-oleh khas Batam itu terus turun. “Grafik penjualan di sana turun terus,” ujar Manajer Operational Villa Corp, Fauzan Afriyanto di Batam Center.

Ia menyebutkan, sebelum ada kebijakan bagasi berbayar ini, minimal ada 100 kotak bolu Kek Pisang Villa terjual setiap harinya di konter Hang Nadim. Bahkan 60-80 kotak disebar ke masing-masing konter mitra setiap harinya.

“Tapi sekarang, terjadi penurunan rata-rata 30 kotak dari masing-masing konter. Langsung kentara,” ungkapnya.

Tak hanya di bandara, penurunan omzet juga terjadi di toko-toko cabang Kek Pisang Villa. Rata-rata omzetnya turun hingga 25 persen.

Senada dengan Fauzan, Duty Free, toko yang menjual aneka suvenir dan oleh-oleh khas Batam serta aneka minuman bebas pajak di Hang Nadim mengaku penghasilan mereka menurun 60-70 persen setiap harinya.

Paulus Amat Tantoso, pemilik Toko Duty Free, mengaku kaget setelah mengecek laporan penjualan dalam dua bulan terakhir. Jika dibandingkan dengan akhir Desember 2018 lalu, penjulan awal 2019 ini jauh lebih sedikit.

“Omzet turun drastis. Persentasenya parah, 60 sampai 70 persen. Khusus di Hang Nadim paling parah,” ujar Amat saat ditemui di Nagoya, Batam, belum lama ini.

Wakil Ketua Kadin Kepri Bidang Perdagangan dan Keuangan itu lantas mempertanyakan faktor penyebab mengapa kebijakan bagasi berbayar itu diterapkan baru sekarang dan kurang sosialisasi. “Apakah pemerintah hanya menutup telinganya saja? Ini masyarakat, pelaku usaha, semuanya menjerit lho. Ini tak wajar,” katanya.

Jika kebijakan ini terus dipertahankan, ia khawatir efek domino yang akan timbul akan semakin meluas.

“Bukan hanya perdagangan, pariwisata juga akan dirugikan,” katanya.

Menurunnya penjualan oleh-oleh ini juga berpengaruh terhadap penurunan jumlah penyimpanan bagasi. Operasi Groundhandling Gemalindo, Dedi Habibie mengatakan, biasanya barang penumpang yang masuk bagasi rata-rata per harinya mencapai dua ton. Namun kini hanya di kisaran 400 kilogram saja.

“Banyak petugas yang menganggur, tak banyak bekerja,” ujar Dedi ketika ditemui di Nongsa, Jumat (8/2) lalu.

Ia mengatakan, terjadi perubahan karakteristik penumpang yang tadinya membawa lebih dari satu koper, kini ada kecenderungan penumpang membawa sedikit barang supaya bisa masuk ke kabin. “Itu terjadi baik pesawat yang datang atau mau berangkat,” ucapnya.

Walaupun sampai saat ini baru Lion Air Group yang menerapkan bagasi berbayar, tapi dampaknya sudah luar biasa. Sebab sampai saat ini Lion Air menguasai sebagian besar rute penerbangan yang dilayani dari dan ke Hang Nadim.

Direktur Badan Usaha Bandar Udara Hang Nadim Suwarso merinci, Lion Air melayani 23 rute penerbangan dari Batam setiap harinya. Dan setiap rutenya, Lion Air mendapatkan kuota penerbangan lebih dari satu.

“Mereka itu melayani penerbangan Batam ke Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa hingga internasional ke Subang di Malaysia. Seharinya saja, mereka ada memiliki 32 flight keberangkatan. Kalau ditambah kedatangan, 64 flight semuanya,” ungkap Suwarso.

Jumlah 64 penerbangan yang dijalani Lion Air adalah penerbangan normal atau biasa dijalani. Maskapai ini bisa mendapatkan tambahan penerbangan apabila ada lonjakan penumpang. “Jadi, pantas saja terjadi penurunan omzet di berbagai bidang usaha di bandara,” ungkapnya.

Sementara maskapai Citilink hanya melayani 8 rute dengan 12 penerbangan seharinya.

“Tak banyak. Hanya rute Jakarta, Medan, Padang, Surabaya, Pontianak,” ungkap Suwarso.

Sedangkan Garuda Indonesia saat ini hanya melayani satu rute dari Hang Nadim, yakni Batam-Jakarta (Soekarno-Hatta), dengan jumlah penerbangan 3 kali sehari. Sedangkan rute ke Padang, Pekanbaru, dan Palembang yang biasa dijalani Garuda, untuk sementara waktu tak beroperasi.

Suwarso mengatakan, dari analisanya selama ini, calon penumpang maskapai no frills cenderung lebih sering membawa barang lebih banyak dibandingkan calon penumpang pesawat dengan layanan full service.

Terkait hal yang dirasakan petugas wrapping, porter, dan penjual oleh-oleh, serta para pelaku usaha UKM di bandara dibenarkan oleh Suwarso. Ia mengatakan sejak penerapan bagasi berbayar, ia sudah meminta jajarannya melakukan pemantauan.

“Ya memang ada penurunan,” ungkapnya.

***

Sebenarnya, ada empat maskapai berbiaya rendah untuk penerbangan domestik berbagai rute di Indonesia yang menerapkan bagasi berbayar bagi para penumpangnya. Di antaranya Lion Air, Wings, Airasia, dan Citilink. Lion Air Group menjadi maskapai yang baru saja menerapkan aturan tersebut.

Ada beberapa alasan kenapa bagasi berbayar ini diterapkan. Di antaranya, untuk menyiasati efisiensi penumpang saat bepergian, meningkatkan efektifitas kinerja operasional maskapai, serta memaksimalkan aspek keselamatan.

Departemen Perhubungan, dalam laman resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang diakses Sabtu (9/2) lalu menyebutkan, kebijakan penerapan bagasi berbayar untuk maskapai no frills tersebut telah disetujui Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dengan mengacu kepada PM Nomor 108 Tahun 2015.

Dalam pasal 21 Peraturan Menteri Perhubungan tersebut tertulis mengenai ketersediaan bagasi bagi seluruh kelompok pelayanan mempunyai ketentuan. Di antaranya, a. kelompok full service, paling banyak 20 kg tanpa dikenakan biaya, b. kelompok medium service, paling banyak 15 kg tanpa dikenakan biaya, dan c. no frills (LCC) dapat dikenakan biaya.

Mengacu kepada kepada ketentuan maskapai no frills tersebut, Lion Air dan Wings Air memberlakukan ketentuan baru tarif bagasi yang dihitung dengan berat mulai 5 Kg sampai 30 Kg. Daftar rincian tarif bagasi Lion Group ini, untuk bobot 5 kg sebesar Rp 155 ribu, 10 kg Rp 310 ribu, 15 kg Rp 465 ribu, 20 kg Rp 620 ribu, 25 kg Rp 755 ribu, dan 30 kg Rp 930 ribu.

Jauh sebelum kebijakan ini diterapkan di Indonesia, maskapai Airasia juga sudah menerapkan kebijakan tarif bagasi berbayar untuk penerbangannya. Untuk penerbangan domestik, Airasia memberi kemudahan bagasi gratis 15 kg. Lewat dari bobot tersebut dikenakan biaya dengan tarif Rp 88 ribu untuk 20 kg, Rp 105.600 untuk 25 kg, Rp 176 ribu untuk 30 kg, dan Rp 308 ribu untuk bobot bagasi 40 kg.

Sedangkan untuk penerbangan internasional, para penumpang hanya diberi kebebasan 7 kg untuk kabin dengan ukuran tidak lebih dari 56cm (T) x 36cm (L) x 23cm (P). Maksimal dua barang bawaan, yakni koper kabin atau backpack, serta tas kecil (tas laptop, sling bag, dan tas kecil lainnya).

Berdasarkan pengalaman Batam Pos pada Minggu (6/1) lalu, akibat mahalnya biaya penerbangan domestik yang hampir 2,5 lipat lebih mahal dari harga tiket rute internasional, akhirnya memilih menggunakan maskapai penerbangan Airasia dengan rute Silangit (DTB)-Kuala Lumpur (KUL), hanya dikenai tiket Rp 687.600/orang. Harga tersebut sudah termasuk beli bagasi 20 kg seharga Rp 210 ribu (ada penambahan 5 kg seharga Rp 10 ribu) dengan membeli paket Premium Flex.

Dengan membeli paket Premium Flex ini, penumpang rute internasional juga diberi bonus makan di pesawat dan juga bebas memilih kursi dengan biaya minimum. Penerbangan internasional, biayanya lebih murah dibanding penerbangan domestik.

***

Kebijakan sejumlah maskapai menerapkan bagasi berbayar dan menaikkan harga tiket membuat sektor pariwisata di Batam terpukul. Kunjungan wisatawan domestik terus menurun. Karenanya, Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengaku akan mela-yangkan protes ke pemerintah pusat. Tak tanggung-tanggung, ia akan berkirim surat langsung ke Presiden Joko Widodo.

“Pariwisata kita terganggu, maka kami minta (penerapan bagasi berbayar dan tiket mahal) ditinjau kembali,” kata Rudi, Jumat (8/2) lalu.

Tidak hanya itu, ia juga meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam untuk berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata, Kementrian Perhubungan serta Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI. Tujuannya sama, yakni mendesak pemerintah pusat agar masalah bagasi berbayar dan mahalnya harga tiket itu segera ditinjau kembali.

“Sifatnya segera,” imbuhnya.

Marketing and Branding Manager Harris Hotel Batam Center Dilla Bachmid mengakui tingginya harga tiket pesawat dan kebijakan bagasi berbayar oleh sejumlah maskapai LCC berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan dan tingkat hunian hotel di Batam. Beberapa grup dari Jawa yang akan berkunjung ke Batam dan menginap di Harris Hotel Batam Center bahkan dibatalkan.

“Grup dari daerah Jawa itu harusnya ke kita, tapi batal karena tiket dan bagasi itu,” ujar Dila, Jumat (8/2).

Ia menduga, rombongan yang batal ke Batam itu kemungkinan besar mengalihkan tujuan wisatanya ke daerah yang masih berada di wilayah Jawa. Sebab transportasinya bisa ditempuh melalui jalur darat. Sehingga lebih murah. Sementara untuk ke Batam harus ditempuh melalui jalur udara atau jalur laut. “Kondisi ini sudah kami rasakan sejak Januari 2019 lalu,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Kepri, Andika Lim. Diakuinya, tingkat kunjungan wisatawan Nusantara (wisnus) tahun ini paling rendah dibandingkan tahun sebelumnya. “Wisman kita akui cukup tinggi. Tapi domestik, sejak tiket mahal dan bagasi berbayar, kita mati suri,” ucapnya.

Selain wali kota Batam, Pemerintah Provinsi Kepri juga akan meminta maskapai Lion Air dan Wings Air meninjau kembali aturan penerapan berbayar bagasi. Gubernur Kepri Nurdin Basirun menyebut kebijakan ini banyak dikeluhkan masyarakat.

“Akan kami sampaikan ke pusat. Minta maskapai Lion Group meninjau kembali kebijakan itu,” ujar Nurdin, belum lama ini.

Menurutnya, kebijakan bagasi berbayar yang baru dilakukan tersebut membawa efek negatif terhadap berbagai sektor, khususnya kepada para pelaku usaha oleh-oleh dan juga tenant-tenant yang ada di bandara.

“Ya pastilah pendapatan mereka menurun. Bagasi dikenakan biaya. Misalnya beli oleh-oleh Rp 10 ribu, tapi harus bayar biaya bagasinya Rp 30 ribu. Siapa yang rela?” ujarnya. ***