ilustrasi

batampos.co.id – Investor baru dari Asia Timur yakni dari Jepang dan Hongkong akan masuk ke Batam dan beroperasi di Batamindo. Penanam Modal Asing (PMA) asal Jepang yakni PT Maruho Hatsujyo sudah konfirmasi akan segera beroperasi dalam tempo tiga bulan.

“PT Maruho sewa gedung dengan ukuran 1.000 meter persegi. Nilai investasinya 1,6 juta dolar Amerika dan akan merekrut 70 pekerja. Mereka memproduksi spring wire atau kawat pegas,” kata Manager General Affair Batamindo, Tjaw Hoeing, Sabtu (9/2).

Tjaw mengatakan bahwa Maruho juga akan berorientasi pada ekspor. Setelah Maruho, perusahaan asal Hongkong yakni PT Simatelex Manufactory juga akan segera beroperasi di Batamindo.


“Simatelex bergerak di bidang manufaktur industri peralatan listrik rumah tangga dan industri peralatan elektrotermal rumah tangga dengan nilai 3,2 juta dolar Amerika dan akan merekrut 120 karyawan untuk tahap awal,” ungkapnya.

Tjaw mengungkapkan bahwa limpahan investasi ini merupakan dampak dari perang dagang berkepanjangan antara Amerika dan Tiongkok. Apalagi, Amerika akan meningkatkan bea masuknya menjadi 25 persen kepada produk ekspor dari Tiongkok.

“Banyak perusahaan yang memindahkan pabrik manufakturnya dari Tiongkok ke tempat lain termasuk Batam. Kabarnya Vietnam yang berbatasan langsung dengan Tiongkok sudah kewalahan menampung limpahan industri dari Tiongkok. Jadi ini sebuah kesempatan besar,” katanya lagi.

Namun, meskipun menjadi sasaran pabrikan dari Tiongkok, Batam tetap punya kelemahan. Di Tiongkok, pabrikan utama bersanding harmonis dengan pabrikan pemasok komponen dan bahan baku. Sehingga biaya produksi sangat murah. Sedangkan di Batam tidak seperti itu.

“Kalau tak punya industri penghasil bahan baku, maka biaya produksi akan tinggi karena harus impor bahan baku dari luar negeri. Di Tiongkok sudah semua. Coba di Batam dibangun supply chain industry, pasti daya tariknya akan semakin meningkat,” ucapnya.

Kemudian, persoalan birokrasi juga harus dibenahi, contohnya soal urusan ekspor impor. Investor harus mengurus izin pemasukan barang ke Kementerian Perdagangan di Jakarta. Jika barangnya terkait dengan kesehatan, maka harus mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan. Ini butuh waktu yang lama.

“Sebuah perusahaan punya banyak pabrik di masing-masing negara yang ada kawasan perdagangan bebasnya. Mereka akan membandingkan perlakuan di masing-masing negara tersebut,” ungkapnya. (leo)

Loading...