Sabtu (2/2/1019) lalu saya kurang menikmati penerbangan Surabaya-Batam. Tidak nyaman lahir-batin. Kebetulan, akhir 30 Januari-1 Februari, saya menghadiri rapat tahunan Jawa Pos Group. Yang namanya keluar kota, tidak afdol jika pulang dengan tangan kosong. Minimal bawa oleh-oleh.

Jumat, 1 Februari, saya bersama IT Jawa Pos Jaringan Media Nusantara (JJMN) berangkat ke Sidoarjo. Cari drone. Dapat. Belinya di Jatimtoys. Tak jauh dari Bandara Juanda.

Beratnya tidak sampai 2 kilogram. Lalu, saat hendak pulang, Sabtu itu, saya bersama Manajer Keuangan Riau Pos, Hendro Kusbianto jalan-jalan ke Pasar Genteng, Surabaya. Tak jauh dari Tunjungan Plaza. Ya, cari oleh-oleh.Seingat saya, total belanjaan saya tidak sampai Rp 500 ribu. Beratnya 4,8 kilogram. Kalau ditotal dengan drone, berat belanjaan saya 5,8 kilogram.


Tibalah saya di bandara, Sabtu siang sekira pukul 12.00. Sebenarnya saya hendak membawa tas berisi pakaian dan drone ke kabin. Tapi oleh petugas, saya hanya boleh membawa satu. Akhirnya saya pilih drone untuk dibawa ke kabin. Soalnya masih baru, meskipun ringan. Hehehehe.

Petaka pun terjadi. Total pakaian kotor dan oleh-oleh mencapai 14 kilogram. Lebih berat pakaian kotor. Bagasi berbayar pun menjerat. 1 kilogram dibanderol Rp 46 ribu. Dikali 14, maka saya harus membayar Rp 644 ribu.

Bukan soal uangnya. Karena tetap saya bayar. Tapi kagetnya. Biasa gratis tapi malah bayar. Saya pun tersenyum. Harga oleh-oleh ditambah “pakaian bekas”, lebih murah dibanding biaya bagasi. Tapi it’s oke. Saya mencoba ikhlas. Meskipun batin agak sakit. Hehehehehe.

Mungkin ini adalah salah satu contoh kecil dampak bagasi berbayar. Bukan hanya saya. Tapi juga, mungkin menimpa penumpang lain. Juga daerah wisata. Semua terdampak.
Penerapan bagasi berbayar menimbulkan multiplier effect. Tidak hanya penumpang.

Daerah wisata juga kena getahnya. Gara-gara penumpang takut bayar bagasi, mereka pun enggan belanja. Pulang tidak bawa oleh-oleh.

Tidak hanya bagasi berbayar yang menuai kontra. Mahalnya harga tiket juga meneror penumpang. Bahkan, saya dapat info, penumpang pesawat mengalami penurunan.

Lumayan anjlok. Kabarnya, ada satu pesawat yang cuma diisi empat penumpang.

Harga tiket yang saya beli tempo hari, mahalnya dua kali lipat. Tidak seperti biasa. Rencana pulang ke Balikpapan pun batal. Harganya menggila. Akhirnya, saya memutuskan kembali ke Batam. Padahal, biasanya harga tiket Surabaya-Balikpapan tidak sampai Rp 1 juta.

Bak buah simalakama. Di satu sisi, maskapai ingin meningkatkan keselamatan. Di sisi lain, mereka ditinggal penumpang. Maju kena, mundur kena.

Apa benar penyebab kecelakaan pesawat karena bagasi? Atau karena tiket murah? Atau keduanya? Saya tidak bisa jawab. Tidak bisa pula menyimpulkan. Ada ahlinya.

Namun yang pasti, menurut keterangan dari ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia Kepulauan Riau (Kepri), Irwandi Azwar, para travel agent mengubah titik jemput wisatawan ke Singapura atau Kuala Lumpur. Buntut mahalnya tiket.

Ini kabar buruk. Mestinya, titik jemput dilakukan di Batam. Lalu, silakan melancong ke luar negeri. Seolah-olah, upaya pemerintah membangun infrastruktur sia-sia. Percuma jalan lebar kalau wisatawan enggan ke Batam.

Alangkah baiknya pemerintah turun tangan ikut menyelesaikan persoalan ini. Tidak ada salahnya meninjau ulang harga tiket pesawat dan kebijakan bagasi berbayar. Mungkin ada standar untuk keduanya. Tidak serta-merta harus bayar semua.

Efek tiket mahal dan bagasi berbayar sangat besar. Bisa mematikan pariwisata. Dampaknya, pemerintah, pengusaha, masyarakat, hingga pelaku UKM kena getahnya.
Semoga ada solusi atas kejadian ini. Sehingga, upaya untuk membangkitkan industri pariwisata Batam bisa terealisasi. (*)

Loading...