
batampos.co.id – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi mengakui jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, selain pola hidup masyarakat, perubahan musim yang melanda wilayah ini jadi faktor utama peningkatan penyakit yang ditimbulkan gigitan nya-muk aedes aegypti tersebut.
“Desember 2018 lalu musim hujan, jadi (efeknya) banyak penderita di Januari,” ujar Didi, Kamis (14/2/2019).
Dinkes mencatat, pada Januari 2019 kemarin sedikitnya ada 89 penderita DBD yang dinyatakan positif. Sementara sebulan sebelumnya atau Desember 2018, jumlah penderita 72 orang. Sehingga, terjadi kenaikan jumlah penderita saat berakhirnya musim hujan dan masuk ke musim cuaca panas dalam beberapa bulan belakangan ini.
Banyaknya kasus DBD tersebut membuat Dinkes meminta masyarakat waspada. Tak hanya itu, warga juga diminta cepat tanggap jika ada keluarga yang memiliki ciri-ciri menderita DBD.
Seperti, demam tinggi, nyeri pada otot, mual, dan muntah, sakit kepala, dan kelelahan. Sebab, jika penanganannya lambat tentu sangat membahayakan penderita.
“Kami terus mengimbau penerapan 4M plus, cuma faktanya memang belum maksimal,” sebutnya.
4M plus artinya menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air secara rutin minimal seminggu sekali sekaligus memantau jentik nyamuk, dan mengubur tempat penampungan air yang tidak terpakai. Plus di sini artinya menghindari gigitan nyamuk menggunakan repelen antinyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, melakukan larvasidasi, dan menggunakan kelambu.
Sementara di Puskesmas Sekupang, sepanjang 2019 ini sudah ditemukan 11 penderita DBD.
“Januari ada tujuh kasus dan bulan ini ada empat kasus. Semua lokasi (yang ditemukan penderita) sudah di-fogging,” kata Kepala Puskesmas Sekupang Desi Atry, Kamis (14/2/2019).
Ia menjelaskan, pengasapan sudah dilakukan di beberapa titik. Di antaranya, Perumahan Parabola Tanjungpinggir, Tiban I dan beberapa lokasi lainnya yang ditemukan penderita positif DBD.
“Hari ini (kemarin, red) ada dua titik yang kami fogging,” ucapnya.
Desy menyebutkan, selama proses penyidikan epidemiologi (PE), sarang nyamuk banyak ditemukan di sekitar rumah penderita.
Seperti, di dispenser dan barang-barang bekas hingga penampungan air milik warga.
”Radius 100 meter sudah di-fogging semua. Kami berharap ke depan di wilayah tersebut tidak ada korban lagi,” katanya.
Pihaknya saat ini juga terus menyosialisasikan gerakan memberantas sarang nyamuk dengan benar. Selain itu ada juga pembentukan juru pemantau jentik (Jumantik) di setiap rumah. Warga juga diminta lebih peduli dan menerapkan 4M plus.
“Kalau pemberian abate (bubuk pembunuh jentik nyamuk) khusus untuk penampungan air yang sulit dijangkau saja,” imbuhnya.
Sementara di RSUD Embung Fatimah Batam di Batuaji, data pasien rawat inap dan jalan pada Januari 2019, terdapat 11 pasien terdiagnosa dan terjangkit DBD. Satu pasien di antaranya meninggal dunia yakni warga asal Bengkong Laut.
Lalu, di Februari ada empat pasien terdiagnosa. Dari data tersebut, pasien DBD masih didominasi usia anak-anak dan remaja.
Novi, Humas RSUD Embung Fatimah Batam menganjurkan warga yang mengalami gejala-gejala yang mengarah pada DBD, agar segera datang ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat untuk memastikan gejala awal demam atau panas tubuh termasuk DBD atau tidak.
“Untuk pasien yang jauh dari faskes bila perlu dirawat inap, ketimbang rawat jalan. Terlebih, memastikan kondisi pasien apabila benar pulih baru diizinkan pulang,” ujarnya.
Sebelumnya, Puskesmas Seipancur mencatat dari Januari 2019 ada lima orang terjangkit DBD. Pihak Puskesmas Seipancur mengklaim sudah memberikan pelayanan dan pencegahan DBD di lingkungan sekitar, baik berupa tenaga medis dan sosialisasi ke masyarakat.
“Nantinya ditinjau kembali di titik manakah yang dianggap rawan terjangkit DBD,” kata Kepala Puskesmas Seipancur Hatta Syaifullah, Rabu (13/2/2019).
Faktor kebersihan, sambung dia, menjadi salah satu penyebab utama. Pasalnya, lingkungan di sekitar Kecamatan Seibeduk yang dekat dengan Dam Duriangkang dan juga saluran air, berpotensi memperbanyak munculnya nyamuk aedes aegypti penyebab DBD.(yui/cr1)
