foto: batampos.co.id / cecep mulyana

batampos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mengimbau warga yang ingin melakukan pengasapan atau fogging untuk mengatasi berkembangnya jentik nyamuk khususnya penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD), agar mengikuti prosedur yang benar. Jenis dan dosis obat yang digunakan untuk pengasapan juga harus sesuai standar.

“Obatnya khusus dan harus aman bagi lingkungaan sekitar agar tidak menimbulkan dampak bagi warga yang terkena asap fogging,” kata Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi, Jumat (15/2).

Ia menyebutkan, sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jenis obat yang digunakan untuk pengasapan adalah Zeta Sipermetrin. Obat ini aman bagi manusia karena terbuat dari tanaman chrysanthemum.


“Dosisnya harus pas. Kalau obatnya sesuai dengan anjuran tak apa mereka melakukan fogging. Jangan asal fogging, itu yang berbahaya,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa dampak negatif kalau fogging tak sesuai dengan prosedur seperti dampak lingkungan yang ditimbulkan dari asap fogging yang obatnya tak sesuai dengan ketentuan.

“Kalau asal fogging nyamuknya malah kebal. Penggunaan obat kalau tak sesuai nanti warga batuk karena menghirup asap fogging tersebut,” jelas Didi.

Untuk itu, jika warga merasakan dampak pasca fogging, bisa langsung mendatangi ruang perawatan.

“Tapi kalau obatnya sesuai, saya rasa aman dan tak ada masalah. Makanya kami minta kalau ada yang mau fogging, mohon berkoordinasi dengan Dinkes, biar bersinergi dan fogging berjalan sesuai prosedur,” imbuhnya.

Menurut Didi, jika semua berkoordinasi akan lebih baik. Pihaknya tidak bisa melarang orang melakukan fogging, sebab belum ada payung hukumnya.

“Kalau ada yang mau bantu fogging tak apa, asalkan sesuai dengan yang kami jalankan. Ada tahapan tentunya mulai dari temuan korban, Penyelidikan Epidemiologi (PE) hingga pengasapan,” bebernya.

Dinkes sangat terbuka jika ada yang ingin membantu memberantas sarang nyamuk. Untuk itu, pihaknya mengajak semua pihak bersama-sama berkoordinasi. Kalau dibutuh-kan, Dinkes akan membantu memberikan informasi kadar obat dan cara fogging yang benar.

“Kalau ada yang bantu tentu kami sangat senang. Sebab angka DBD juga cukup tinggi akhir-akhir ini,” tutupnya.

Sementara di Bengkong dan sekitarnya, masyarakat diminta lebih sadar dan jeli terhadap perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti, penyebab DBD. Sebab, satu bulan saja, jumlah penderita DBD di Bengkong mencapai puluhan orang.

Camat Bengkong M Tahir mengatakan ada beberapa faktor yang jadi penyebab mudahnya nyamuk tersebut berkembang biak. Di antaranya suhu tak menentu di Januari dan Februari, banyaknya warga yang menampung air karena kesulitan air bersih (bahkan dari air hujan), ketidaksadaran warga terhadap keberadan jentik nyamuk seperti di pot bunga, tempat pembuangan air di kulkas, hingga tempat-tempat penampungan air bersih lainnya.

“Aedes aegypti berkembang biak di air bersih. Nah, ini yang tidak diketahui warga. Mereka baru sadar saat ada tetangga yang terkena DBD. Jika masih di luar lingkungan lain, masih banyak yang cuek,” ujar Tahir.

Menurut dia, jumlah penderita DBD di Bengkong pada Januari cukup tinggi. Hal itu didapat dari laporan di dua kelurahan. Bahkan, di antara puluhan penderita, ada beberapa yang meninggal.

“Laporan yang saya terima dari dua puskesmas, yakni Tanjungbuntung dan Bengkong Indah, jumlah penderita bulan ini saja naik signifikan,” tutur Tahir.

Kepala Pukesmas Tanjungbuntung, dr Suriyati membenarkan jumlah penderita DBD di Januari cukup tinggi. Bahkan jumlah penderita satu bulan di Januari tiga kali lebih tinggi dibanding kasus 2018. Dari 25 kasus, satu orang meninggal dunia.

“Tahun 2018 hanya 9 penderita, itu satu tahun. Sedangkan bulan Januari di tahun 2019 sudah ada 25 kasus. Untuk bulan Februari, belum kami rekap,” ujarnya.

Kepala Pukesmas Seipanas (Bengkong Indah) dr Anggrainie NW juga mengamini tingginya angka penderita DBD. Selama bulan Januari tercatat dua orang balita meninggal dunia.(yui, she, cr1)

Loading...