Kamis, 23 April 2026

Pelatihan Naker Belum Sentuh Industri 4.0

Berita Terkait

batampos.co.id – Pemerintah Kota (Pemko) Batam melatih 7.093 baik pencari kerja (pencaker) maupun tenaga kerja (naker) sejak 2017 lalu. Namun demikian, hingga kini Pemko Batam belum melakukan pelatihan sektor digital atau industri 4.0.

“Untuk 4.0, belum ada. Nanti kami akan lihat polanya, arahnya seperti apa,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti usai pembukaan pelatihan naker dan pencaker tahun 2019 di Aula PIH Batamcenter, Selasa (19/2/2019).

Rudi justru menilai industri ini belum masuk di Batam, namun ia menilai ke depan Batam tentu akan mengarah ke industri tersebut.

“Industri ini belum masuk ya, mungkin akan mengarah ke sana,” kata dia.

Padahal, Batam dinilai penting posisinya sebagai digital hub Singapura ke daerah lain di Indonesia. hal ini mencuat dalam Investment Forum di Singapura yang dihadiri Presiden Joko widodo dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, September 2017 lalu. Dalam kesempatan itu, Jokowi menyampaikan hubungan kedua negara harus berbasis digital, dan Batam menjadi jembatan (hub) Singapura dengan daerah lain di Indonesia. Bahkan, di Batam kini telah tumbuh kawasan digital yang juga tersohor yakni Nongsa Digital Park.

Untuk diketahui, pelatihan yang kini dilakukan Pemko Batam yang sudah dan tengah berjalan jika dirinci pertahun adalah tahun 2017 lalu sebanyak 2.545 orang, pada tahun 2018 sebanyak 2.320 orang serta 2.228 orang pada 2019 ini.

“Untuk rincian tahun 2019 ini, yang pencaker 925 orang untuk 33 jenis pelatihan sedangkan peningkatan kemampuan naker jumlahnya 1.303 unuk 51 jenis pelatihan,” terang dia.

Rudi menilai, pelatihan diberikan baik untuk pencari kerja maupun peningkatan kompetensi pekerja. Menurutnya jenis pelatihan yang dilaksanakan setiap tahun berbeda-beda, disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Bidangnya bermacam-macam. Tapi sebagian besar industri, lalu pariwisata. Tahun ini kita lebih banyak pariwisata. Dari 51 jenis pelatihan, 20 di antaranya sektor pariwisata. Mulai dari front office, Bahasa Inggris pariwisata, sampai sekuriti pariwisata,” tuturnya.

Ia mengatakan, sumber daya manuasia terkait pengamanan di sektor pariwisata dipisahkan pelatihannya, karena sektor ini dinilai berbeda dengan sektor secara umum

“Protap (prosedur tetap) kerjanya tentu berbeda dengan sekuriti industri. Pariwisata mungkin lebih banyak keramahannya,” sambungnya.

Pelatihan kepariwisataan ini sangat dibutuhkan para pekerja di dunia pariwisata. Termasuk bagi warga Pulau Abang yang sudah terlatih menjadi pemandu wisata.

“Banyak yang sudah bekerja tapi belum punya sertifikasi. Misal pemandu untuk di Pulau Abang. Anak-anakl di sana sudah pintar menyelam tapi sertifikat tak ada. Dengan adanya sertifikat, turis akan lebih percaya. Pemandu ini sudah bersertifikasi, sesuai standar internasional,” ujarnya.

Rudi mengatakan pelatihan sudah berlangsung sejak Februari ini, dan diperkirakan selesai di September mendatang. Karena setiap pelatihan memiliki waktu dan tempat berbeda.

“Lama pelatihannya antara 5-20 hari,” sebutnya.

Wakil Walikota Batam Amsakar mengatakan, dirinya bersama Wali Kota Batam Muhammad Rudi sejak awal menempatkan peningkatan SDM merupakan satu dari empat gagasan mereka memimpin Batam. Dengan harapan kualitas SDM semakin baik dan semakin berdaya saing.

“Bukan pelatihan yang kacang-kacang, dalam bahasa lain bukan latihan yang ala kadar. Tapi bersertifikasi, bahkan bersertifikasi internasional. Inilah bentuk keberpihakan negara terhadap masyarakat Kota Batam,” kata Amsakar. (iza)

Update