
batampos.co.id – Kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Rusia tidak melulu soal penanggulangan terorisme. Dalam kunjungan kerja ke Rusia akhir pekan lalu, Menteri Koordinator Bidang, Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto turut membahas pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk institusi militer tanah air. Salah satunya pengadaan Sukhoi SU-35 untuk memperkuat TNI AU.
Menurut Wiranto, pengadaan pesawat tempur itu bakal dijadwal ulang.
”Tentang jangka waktunya,” ungkap dia saat diwawancarai di kantornya, Selasa (19/2). Selain jangka waktu, pembahasan alutsista itu juga terkait dengan skema pembayaran. Dia memastikan bahwa pihak Rusia sepakat dengan skema yang ditawarkan oleh Indonesia. Yakni pembayaran dengan imbal dagang.
Wiranto mengakui, semula pembelian pesawat tempur generasi terbaru itu sempat harus dilakukan dengan pembayaran langsung. Melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) skema tersebut lantas diubah menjadi separuh imbal dagang.
”Mereka (Rusia) setuju kok. Tinggal masalah teknis saja,” beber Wiranto. Untuk itu, pemerintah optimistis pesawat tempur tersebut bakal menjadi bagian keluarga besar matra udara.
Sebagai pesawat tempur generasi terbaru, Sukhoi SU-35 lebih unggul dibandingkan dengan Sukhoi SU-27 maupun Sukhoi SU-30. Rencananya pesawat tersebut bakal digunakan oleh TNI AU untuk menggantikan F-5 Tiger yang sudah dipensiunkan. Dengan begitu, para penerbang tempur dari Skadron Udara 14 Tempur segera memiliki alutsista yang bisa mereka gunakan untuk operasional.
Pasca F-5 Tiger purna tugas, para penerbang itu sempat tidak memiliki pesawat tempur. Lewat pengadaan Sukhoi SU-35, mereka bisa segera menjalankan tugas seperti sedia kala. Disamping punya kemampuan yang mumpuni, Sukhoi SU-35 dinilai tepat menjadi pengganti F-5 Tiger. Untuk itu, TNI AU turut serta memasukkan pesawat tempur itu ke dalam rencana strategis (renstra).
Apalagi, pesawat tempur itu dibuat oleh negara yang punya reputasi baik berkaitan dengan produksi alutsista. Namun demikian, terkait dengan hal itu Wiranto menyerahkan penilaian kepada KKIP atau Komite Kebijakan Industri Pertahanan.
”Yang menilai (kualitas alutsista) bukan saya. Yang menilai KKIP,” ungkap dia. Yang pasti, pemerintah terus mengupayakan agar pengadaan alutsista tersebut sesuai rencana.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menyampaikan bahwa proses pengadaan Sukhoi SU-35 masih berjalan dengan baik. Selaras dengan Wiranto, dia juga menerangkan, pihak Rusia sudah setuju dengan skema pembayaran yang ditawarkan Indonesia.
”50 persen dengan kita menjual kelapa sawit ke sana segala macam yang 50 persen kita bayar,” jelasnya.
Kontrak untuk pengadaan Sukhoi SU-35 memang sudah dilakukan oleh Kemhan pada pertengahan Februari tahun lalu. Namun, urusan imbal dagang sempat dibahas berulang kali.
Namun demikian, untuk urusan pembayaran Kemhan menyerahkan kepada Kementerian Keuangan (Kemenku) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag). ”Dua kementerian itu,” ungkap mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tersebut. (syn/)
