Sabtu, 25 April 2026

Investasi di Batam Terlihat Bergerak

Berita Terkait

invetsasi, industri

batampos.co.id – Terus meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi berkah tersendiri bagi Batam. Investasi asing terus berdata-ngan. Derasnya arus modal yang masuk ini akan membuka peluang bagi ribuan pencari kerja di Batam.

Dalam dua bulan ini saja, dipastikan ada dua investasi asing yang masuk ke Batam. Nilainya sebesar 205 juta dolar AS. Investasi baru itu akan tersebar di Kawasan Industri Batamindo dan Kawasan Industri Kabil.

“Di Batamindo investasi sebanyak 49,3 juta dolar Ame­rika dan memerlukan sekitar 1.300 tenaga kerja,” kata General Manager Batamindo, Mook Sooi Wah, Rabu (20/2/2019).

Mook menyebut, ada empat investasi asing baru di Batamindo. Yakni PT Pegatron dari Taiwan dengan investasi sebanyak 40 juta dolar AS, Maruho dari Jepang dengan nilai investasi 1,6 juta dolar AS, Sammyung dari Korea Selatan dengan nilai investasi 4,5 juta dolar AS, dan Simatelex dari Hongkong dengan nilai investasi 3,2 juta dolar AS.

Keempatnya bergerak dalam kategori industri manufaktur untuk elektronik.
Secara resmi pihak Batamindo telah menyerahkan gedung-gedung yang akan disewa dan ditempati keempat perusahaan asing tersebut. Saat ini keempat perusahaan itu tengah melakukan tahap persiapan operasional dan renovasi gedung.

“Diperkirakan April 2019 akan beroperasi secara bertahap,” paparnya.

Mook menjelaskan, investasi dari negara-negara Asia Timur tersebut masuk akibat perang dagang antara Amerika dan Tiongkok. Batam dengan segala insentif fiskal dan lokasi yang strategis men­jadi pilihan objektif bagi pa­­ra penanam modal asing itu.

Selain investasi baru, di Batamindo juga ada beberapa perusahaan eksisting yang akan melakukan ekspansi usaha.

Antara lain Excelitas, Rubycon, Ciba Vision, SIIX, NOK Asia Batam, dan Infineon. Total investasinya sebesar 66 juta dolar AS dengan rekrutmen tenaga kerja sebanyak 1.730 tenaga kerja.

Excelitas dikabarkan akan berinvestasi sebesar 5 juta dolar AS dengan rekrutmen tenaga kerja sebanyak 140 orang. Sedangkan Rubycon melakukan ekspansi usaha dengan investasi sebesar 4 juta dolar AS dengan rekrutmen tenaga kerja sebanyak 250 orang.

Menurut Mook, selain dampak perang dagang, meningkatnya investasi di Batam juga merupakan bentuk keberhasilan kinerja pemerintah, dalam hal ini Badan Pengusahaan (BP) Batam. Mulai dari masa kepemimpinan Lukita Dinarsyah Tuwo dan dilanjutkan oleh Edy Putra Irawadi. BP Batam dan pemerintah pusat, kata dia, banyak melakukan terobosan untuk mempermudah masuknya investasi.

“Dan tentunya Pak Rudi (wali kota Batam, red) yang terus menerus membangun infrastruktur jalan. Kami apresiasi sekali,” ucapnya.

Sedangkan investasi baru di Kawasan Industri Kabil antara lain investasi dari PT Enerco RPO International sebesar 90 juta dolar AS atau setara Rp 1,3 triliun (kurs Rp 14.500 per dolar AS).

PT Enerco RPO International saat ini tengah membangun kilang yang mengolah treated distillate aromatic extract (TDAE). TDAE merupakan produk turunan hasil pengolahan minyak mentah dan digunakan sebagai bahan baku utama industri ban dan karet sintetis.
Sedangkan untuk investor lainnya yang akan segera beroperasi di Kabil yakni PT Agri Energi Nusantara, PT Petro Papua Energi, PT Torrefaction Bioenergy Indonesia, PTEC Research & Development, dan anak perusahaan Djarum yakni PT AEN. Namun, nilai investasi dan jumlah rekrutmen belum bisa diketahui karena perusahaan yang bersangkutan belum mengon-firmasinya kepada pengelola kawasan industri.

Direktur Utama Kabil Citra Nusa yang mengelola Kawasan Industri Kabil Peter Vincent mengatakan, saat ini industri migas di Kabil sudah mulai mendapatkan order dari luar dan dalam negeri.

“Industri penunjang migas juga tengah bagus, sehingga saya yakin pertumbuhan rekrutmen tenaga kerja akan bagus seperti SMOE, Bredero Shaw, dan lainnya,” kata Peter.

Sedangkan Wakil Ketua HKI Kepri Tjaw Hioeng mengatakan, perkembangan investasi akan berjalan lancar jika iklim investasi tetap dijaga secara kondusif. Menurut dia, saat ini masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan yakni jalan menuju industri harus diperlebar, seperti di Kabil yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian pemerintah.

“Sering banjir dan sangat tidak memadai. Begitu juga dari Batuaji ke Simpang Kepri sering macet,” paparnya.

Kata Tjaw, investor juga memerlukan kenyamanan dan kepastian hukum. Banyak hal yang harus dibenahi karena ketika berusaha banyak terjadi sumbatan-sumbatan yang harus dihilangkan.

“Itu menghambat kinerja investasi seperti tata kelola upah dimana produktivitas pekerja yang menurun tetapi upah meningkat, soal keterampilan dan masalah regulasi yang kompleks, ketidakharmonisan antar instansi pemerintah,” tegasnya.

Tjaw berharap, Pemerintah Kota (Pemko) Batam akan terus melanjutkan pembangunan infrastruktur dengan fokus menghubungkan pusat-pusat industri dan membangun industri pemasok komponen dalam rangka menurunkan biaya logistik yang tinggi.

Selain itu, kehadiran klinik berusaha online single submission (OSS) dan garda pengawalan dan penyelesaian masalah juga sangat dibutuhkan. Sehingga diharapkan tidak ada lagi hal-hal yang menjadi penghambat investasi.

Terpisah, Kepala BP Batam Edy Putra Irawadi mengatakan, data investasi awal tahun ini merupakan permulaan yang baik di 2019. Hal ini membuktikan investor asing masih percaya dengan Batam.

“Alhamdulillah, kepercayaan terhadap Batam mulai naik lagi,” katanya singkat.

Ia mengatakan target investasi yang akan dicapai BP Batam selama empat bulan pertama 2019 berada di rentang angka Rp 900 miliar hingga Rp 1,1 triliun. Edy yakin target tersebut akan bisa dicapai karena ekspor tahun ini akan meningkat sebanyak 40 persen dibanding ekspor tahun lalu yang sebesar 9,3 miliar dolar AS.

Edy mengatakan ia akan menampung segala saran dan keluhan dengan mengumpulkan pengusaha sesering mungkin untuk berdialog soal investasi.

“Umumnya keluhan soal operasional dan soal perizinan. Contohnya bahan baku masih kena peraturan tata niaga padahal FTZ. FTZ itu kan vulgar, karena merupakan wilayah tanpa malaikat. Tak ada yang catat kebaikan dan keburukan,” paparnya.

Lalu mengenai izin ekspor juga untuk barang larangan terbatas. Padahal Batam adalah wilayah FTZ yang fokus berorientasi pada ekspor. Banyak pengusaha yang rela menghabiskan waktu untuk mengurus dokumen ekspor ke Jakarta hingga 10 hari lamanya. (leo)

Update