batampos.co.id – PLN Batam terus berupaya meminimalisir potensi terjadinya pemadaman bergilir akibat berkurangnya pasokan gas bumi selama sepekan mulai Sabtu (23/2) mendatang. Salah satunya dengan mencari alternatif pasokan gas dari sumur lain selain dari Grissik, Sumatera Selatan.
“Ini untuk mengurangi defisit pasokan gas. Kami akan usahakan dapat dari sumber lain di Blok Jambi Merang,” kata Humas bright PLN Batam, Yoga Perdana, Rabu (20/2).
Ia mengatakan tim PLN Batam masih berkonsolidasi dengan pemegang hak kelola sumur gas Jambi Merang di Jakarta.
Seperti yang diketahui bahwa pengelolanya adalah Pertamina Hulu Energi.
“Makanya kami belum bisa mempublikasi jadwal pemadaman karena masih belum tahu berapa pasokan gas nanti yang akan didapat. Tapi dengan tambahan pasokan ini, jumlah pemadaman bisa dikurangi,” tambahnya lagi.
Yoga menjelaskan, rencana pemadaman bergilir sebanyak tiga kali dalam sehari adalah skenario terburuk yang diperoleh jika pasokan gas yang diterima minimal. Namun, PLN Batam sudah menghitung skenario terbaik yang bisa mereka peroleh jika mengoperasikan pembangkit tenaga listrik diesel (PLTD) di Baloi.
Kata Yoga, PLTD Baloi merupakan pembangkit yang menggunakan bahan bakar solar. Kapasitasnya 37 Megawatt (MW). Selain itu, PLN Batam akan mengoperasikan pembangkit tenaga gas dengan memanfaatkan sisa pasokan gas 14 BBTUD.
“Maka kami bisa menghasilkan daya sebanyak 144 MW,” jelasnya.
Terpisah, Sales Area Head Manager PGN Batam Wendy Purwanto mengatakan, saat ini pihaknya hanya bisa mendistribusikan gas bumi dari sumur milik ConocoPhillips di Grissik, Sumatera Selatan.
“Karena kami berkontraknya dengan ConocoPhilips dan untuk transportasi gasnya juga hanya untuk transportasi gas dari Conoco,” ujarnya.

foto: batampos.co.id / rifki
Sebenarnya, PGN bisa mengambil gas dari sumur gas yang dikelola oleh Pertagas sebagai sub holding-nya. Apalagi Pertagas mengikutsertakan empat anak usahanya seperti PT Perta Arun Gas, PT Perta Daya Gas, PT Perta Samtan Gas dan PT Perta Kalimantan Gas.
Tapi hal itu memerlukan proses panjang karena banyak mekanisme yang harus dilalui.
Atau, PGN bisa mengambil gas dari sumur gas yang dikelola oleh anak perusahaan Pertamina lainnya. “Itu memungkinkan, tetapi banyak persyaratan dan regulasi yang harus dipenuhi,” paparnya.
Contohnya durasi kontrak yang tidak bisa sementara. Kontraknya harus jangka panjang minimal lima tahun hingga 20 tahun.
“Pasokan gas tersebut harus sudah ada penggunanya. Jadi kita tidak bisa beli jika gasnya hanya jadi cadangan,” ungkapnya.
Selain itu, PGN juga harus memastikan ke transporter gas apakah gas tersebut bisa diangkut ke Batam.
“Karena kapasitas transportasi juga terbatas. Untuk saat ini di Batam, alokasi normal sudah dipenuhi dari sumur Conoco,” katanya lagi.
Sedangkan dari sisi teknisnya, sumur gas harus terkoneksi dengan kompresor yang menuju Batam.
“Atau komposisi gas tersebut apakah memenuhi syarat atau tidak untuk dimasukkan ke pipa transmisi,” ucapnya.
Sementara itu, sejumlah kawasan industri yang memiliki pembangkit sendiri yang menggunakan bahan bakar gas akan mengoperasikan pembangkit cadangan yang berbahan bakar solar. Akibatnya, mereka harus rela membeli solar dalam jumlah yang banyak. Seperti pembangkit listrik di Kawasan Industri Batamindo, Batam.
“Mau tidak mau beli solar meskipun harganya tinggi. Pembangkit kami itu dual fuel bisa pakai solar dan gas,” kata Manager General Affair Batamindo, Tjaw Hioeng.
Tjaw mengatakan solar sangat tidak ramah lingkungan dan harganya mahal. Namun untuk menjaga proses operasional tenant, maka Batamindo harus menghidupkan pembangkit listrik berbahan bakar solar itu selama 24 jam.
Terpisah, General Manager (GM) PLN Area Tanjungpinang Fauzan mengatakan, dengan adanya pembatasan gas tersebut, pemadaman bergilir di Pulau Bintan memang tidak bisa dihindari lagi. Pihaknya sudah menyusun berbagai skenario pemadaman tersebut.
“PLN Batam secara keseluruhan kekurangan daya sampai 170 Megawatt. Tentu kondisi itu berimbas ke Pulau Bintan,” ujar Fauzan.
Menurutnya, setelah dikalkulasikan, khusus Pulau Bintan akan kekurangan daya sebanyak 30 Megawatt (MW). Kekurangan tersebut dihitung ketika PLTU Galang Batang dapat memberikan suplai daya sebanyak 12,5 MW. Selanjutnya adalah dari PLTD Air Raja sebanyak 9 MW. Sementara beban puncak di Pulau Bintan sebanyak 77 MW.
“Konsekuensi terburuk adalah pemadaman 3×3 jam sehari. Kita berupaya jangan sampai ada pemadaman saat dini hari,” ujar Fauzan.
Ditanya mengenai rencana pembangunan PLTU dengan kapasitas 2×100 MW di Bintan, menurut Fauzan sekarang ini masih pada tahap pembebasan lahan. Persoalan lainnya adalah lahan yang tersedia terbatas, sementara kebutuhan lebih dari yang tersedia.
“Target pembangunannya adalah pada 2020 mendatang. Kegiatan ini akan dilaksanakan oleh Unit Induk Pembangunan (UIP) PLN Sumatera,” kata Fauzan.(tim)
