
batampos.co.id – Dampak kenaikan harga tiket pesawat dan penerapan bagasi berbayar sejumlah maskapai penerbangan kian meluas. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor yang paling merasakan imbas paling berat dari situasi ini.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengungkapkan tingginya harga tiket otomatis mengurangi minat masyarakat bepergian dengan pesawat. Sehingga penjualan pusat oleh-oleh juga akan turun.
Kondisi ini diperparah dengan kebijakan sejumlah maskapai yang menerapkan bagasi berbayar. Kebijakan ini secara langsung akan membuat para penumpang pesawat mengurangi atau bahkan meniadakan barang bawaan karena tidak mau membayar biaya bagasi pesawat.
“Kenaikan tiket ini sebenarnya dari Desember sudah mahal sekali. Secara kasat mata nampak bandara saat ini sepi sekali,” kata Gusti Raizal di Hotel Radisson Batam, Senin (25/2).
Ditanya soal angka, Gusti mengaku belum mendapat laporan resminya. Namun, ia memastikan sektor UMKM sangat terpukul dengan kondisi saat ini.
“Saya belum dapat angkanya. Tapi kenaikan harga tiket ditambah dengan bagasi berbayar berdampak pada UMKM,” paparnya.
Gusti mengatakan, saat ini penumpang pesawat enggan membeli oleh-oleh maupun souvenir untuk dibawa ke daerah tujuan. Alasannya karena takut dikenakan biaya bagasi yang mahal.
Bahkan tak jarang ada penumpang yang mengeluh karena biaya bagasi yang harus dibayar lebih mahal dari nilai atau harga oleh-oleh yang dibawa.
“Jadi sekarang orang yang datang dan keluar lebih banyak orang yang bertugas dinas dan kantor saja. Kalau untuk orang-orang yang ingin liburan terkena dampak,” ucapnya.
Selain UMKM, Gusti juga menyebut dampak bagasi berbayar dan mahalnya tiket pesawat ini meluas ke sektor lainnya. Seperti perhotelan, pariwisata dan turunannya. Namun, ia mengaku masih akan mengkaji lagi data-data validnya.
Selain memukul sektor usaha, kenaikan harga tiket dan penerapan bagasi berbayar juga berpotensi mengerek inflasi di Batam dan Kepri. Bahkan Gusti menyebut kenaikan inflasi ini sudah mulai terjadi sejak akhir tahun lalu.
“November tahun lalu inflasi Batam di bawah nasional, Desember kita kesulitan kendalikan.”
Gusti mengatakan, situasi ini telah menjadi perhatian tim pengendali inflasi daerah (TPID) Provinsi Kepri. Bahkan anggota TPID Kepri seperti wali kota maupun gubernur Kepri telah mengirim surat ke Presiden Joko Widodo untuk meminta agar kebijakan tiket dan bagasi maskapai ini ditinjau kembali.
Menurut Gusti, kebijakan harga tiket maupun tarif bagasi berbayar merupakan ranah pemerintah pusat. Sehingga pihak daerah tidak bisa mengontrol harga-harga tersebut.
Hal ini berbeda dengan harga-harga bahan makanan dan volatile food yang bisa dikendalikan daerah. “Bahan makanan bisa ditekan dari target 5 persen jadi 3,48 persen pada akhir tahun 2018. Ini hasil koordinasi yang baik di daerah,” katanya.
Sementara Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, hingga kemarin pemerintah pusat belum merespons surat yang dikirim Wali Kota Batam Muhammad Rudi, beberapa waktu lalu. Dalam suratnya Rudi meminta Presiden Joko Widodo meninjau ulang kebijakan bagasi berbayar dan kenaikan harga tiket pesawat.
“Sampai sekarang tak ada jawaban, kami menunggu,” kata Amsakar, Senin (25/2).
Walau belum mendapat jawaban, pihaknya berharap pemerintah pusat menjadikan pembahasan harga tiket salah satu isu yang harus segera didapat penyelesaiannya.
“Mudah-mudahan itu jadi pemikiran serius karena tak hanya berpengaruh pada keluar masuk orang, tapi juga barang,” imbuhnya.
Tarif Bagasi Belum Naik

Sementara Lion Air Group memastikan saat ini belum ada kenaikan tarif bagasi setelah sempat mengalami perubahan pada 16 Februari lalu.
“Kami masih menggunakan tarif bagasi yang ditetapkan 16 Februari,” kata District Manager Lion Air Group Batam M Zaini Bire, Senin (25/2).
Ia membenarkan sebelumnya ada wacana perubahan untuk kedua kalinya setelah naik per 16 Februari 2019. Namun hingga pembaharuan yang diterimanya pada Senin (25/2) siang, belum ada perubahan tarif.
“Sampai detik ini tidak ada update terbaru,” ungkapnya.
Tarif bagasi Lion Air Group sempat mengalami perubahan pada 16 Februari sejak kebijakan bagasi berbayar resmi diterapkan pada 22 Januari lalu. Perubahan tarif terjadi baik untuk pembelian bagasi prepaid untuk 5 kilogram, 10 kilogram, 15 kilogram, maupun juga pembelian bagasi di konter check in.
Untuk pembelian bagasi prepaid, mengalami sedikit kenaikan. Misalnya untuk bagasi per 5 kg untuk rute Batam ke Jakarta, sebelumnya Rp 140 ribu naik menjadi Rp 175 ribu. Rute Batam ke Medan sebelumnya Rp 80 ribu, naik menjadi Rp 95 ribu. Batam ke Pekanbaru biasanya Rp 55 ribu per 5 kg, saat ini menjadi Rp 65 ribu.
Begitu juga dengan rute Batam-Surabaya. Jika sebelumnya tarif prepaid-nya Rp 120 ribu per 5 kg, saat ini naik menjadi Rp 140 ribu. Lalu rute Batam ke Padang naik dari Rp 65 ribu menjadi Rp 80 ribu.
Namun, tarif bagasi untuk pembelian di konter check in di bandara turun. Untuk rute Batam-Jakarta, tarif per 1 kg biasanya Rp 55 ribu, kini turun menjadi Rp 48 ribu.
Sementara rute Batam-Medan yang sebelumnya Rp 30 ribu, saat ini turun Rp 27 ribu per kg. Begitu juga untuk rute Batam ke Padang, sebelumnya Rp 24 ribu kini turun menjadi Rp 21 ribu per kg-nya. (ska/leo)
