Rabu, 29 April 2026

Pelaku UMKM Minta Kebijakan Bagasi Berbayar Dihapus

Berita Terkait

batampos.co.id – Kebijakan maskapai berbiaya murah meng­hapus layanan bagasi cuma-cuma berimbas pada usaha oleh-oleh di Batam. Pa­ra pelaku usaha mengaku om­zet mereka turun hingga 35 per­­sen karena konsumen mem­batasi pembelian oleh-oleh.

Pemilik Annisa Bolu Batam Arianto mengatakan, penerapan bagasi berbayar pada maskapai penerbangan memang secara langsung berdampak pada penjualan. Hal ini diperparah oleh tingginya harga tiket pesawat yang membuat jumlah penumpang semakin sepi.

“Omzet turun sekitar 35 per­sen. Sebab mayoritas pelanggan kami warga domestik, sekitar 70 persen,” ujar Arianto, Selasa (26/2/2019).

Arianto berharap, pemerintah segera mengakhiri situasi buruk ini supaya para pe­laku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bisa kembali meningkatkan omzet.

Di satu sisi, Arianto tidak mau tinggal diam dan menunggu kebijakan baru dari pemerintah. Untuk menyiasati turunnya omzet, ia mencoba mencari pasar baru ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Ia berharap oleh-oleh khas Batam bisa dijual di negeri jiran itu.

“Beberapa hari lalu saya dari Singapura dan Malaysia, ketemu teman-teman travel agar bisa men-support usaha kami,” terang Arianto.

Hal senada diakui Pemilik Kek Pisang Villa Denni Del-yandri. Sejak diberlakukan kebijakan bagasi berbayar oleh maskapai berbiaya murah atau LCC, penjualan Kek Pisang Villa terus tergerus.

“Turun sekitar 30 persen,” kata Denni, Selasa (26/2).

Denni mengatakan, selain akibat bagasi berbayar, turunnya penjualan oleh-oleh di Batam juga disebabkan oleh sepinya arus penumpang lewat bandara. Ini merupakan imbas dari tingginya harga tiket sehingga jumlah penumpang juga turun.

Sebab, kata Denni, pasar Kek Pisang Villa merupakan warga atau penumpang domestik. Sehingga ketika penumpang pesawat rute domestik turun, otomatis penjualan oleh-oleh juga berkurang.

“Pasar kami memang lebih ke lokal. Bukan wisman,” katanya.

Namun lebih dari itu, lanjut Denni, lesunya usaha UMKM saat ini juga disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang memang tengah menurun.

“Harga tiket dan bagasi berbayar ini hanya sebagian imbasnya. Kalau saya melihat juga karena kondisi ekonomi,” ujarnya.

Diceritakannya, Minggu lalu ia baru saja pulang dari Jakarta dengan maskapai Garuda Indonesia. Biasanya, pada Sabtu dan Minggu, jumlah penumpang yang menaiki maskapai itu selalu penuh. Namun, hari itu berbeda, hanya berisi hampir setengahnya.

“Teman-teman saya juga bilang begitu. Jadi, menurut saya, tak hanya karena bagasi Lion berbayar. Tapi lebih pada dampak ekonomi secara global,” terang Denni.

ilustrasi
foto: batampos.co.id / putut ariyo tejo

Terpisah, anggota Komisi II DPRD Batam Mulia Rindo Purba meminta Kementerian Perhubungan bersama dengan maskapai untuk mengkaji ulang harga tiket pesawat dan kebijakan bagasi berbayar. “Sangat memberatkan masya-rakat. Makanya harus dikaji ulang kebijakan ini,” katanya.

Menurut Rindo, UMKM harus disokong oleh seluruh elemen masyarakat. Pemerintah harus bisa mendorong pertumbuhan UMKM sebagai garda terdepan pertumbuhan ekonomi bangsa.

“Makanya harus dipermudah UMKM dalam pemasarannya. Kalau bagasi mahal, maka dipastikan pemesanan akan berkurang. Makanya harus ada kebijakan mempermudah ini,” katanya.

Sedangkan General Manager Divisi Marketing Bandara Hang Nadim Batam Benny Syahroni mengatakan, harga tiket mahal serta penerapan bagasi berbayar tidak hanya mengurangi niat masyarakat untuk menggunakan maskapai penerbangan sebagai moda transportasi. Tapi juga mengurangi pendapatan dari beberapa tenant di lingkungan Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Tenant-tenant yang terimbas yakni pedagang oleh-oleh serta suvenir di lantai II Hang Nadim. Lalu juga pelaku usaha wraping di terminal keberangkatan. Tak hanya itu saja, para porter juga merasakan dampak atas kebijakan ini.

“Pendapatan mereka turun hingga 15 persen,” ucap Benny, kemarin.

Tiket mahal dan bagasi berbayar menjadi salah satu penyebab turunnya omzet para pelaku usaha di lingkungan Hang Nadim. Saat ini, kata Benny, penumpang cenderung mengurangi barang bawaan supaya tidak dikenakan biaya tambahan untuk membayar bagasi.

Sebelumnya diberitakan, kurangnya minat masyarakat menggunakan moda transportasi udara menyebabkan dibatalkannya ratusan penerbangan dari Bandara Hang Nadim. Januari lalu, Hang Nadim mencatat sebanyak 555 penerbangan dibatalakan. Lalu dari 1 hingga 10 Februari, sebanyak 138 penerbangan juga dibatalkan. (*)

Update