Suasana kawasan Nagoya terlihat cantik dengan gemerlap lampu yang menerangi kawasan tersebut..
F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id– Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Batam belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Untuk diketahui 2015 lalu Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah meneken kerjasama rencana pembangunan PLTN Batam.

Kepala Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) RI, Yus Rusdian Akhmad, mengatakan sebagai lembaga pengawas, BAPETEN telah diberi informasi perihal rencana tersebut.

“Mengenai kegiatan itu, kami belum melihat pada tingkat yang serius, masih tahap mencari kelaikan,” ucap dia usai Sosialisasi dan Diskusi Rancangan Undang-Undang tentang Sosialisasi Ketenagaatoman di Harris Hotel, Selasa (26/2/2019).

Karena secara teknis masih dalam tahap penjajakan, ia mengatakan, BAPETEN belum masuk pada ranah yang lebih jauh. Berbeda jika ada kepastian, kapan PLTN akan dibangun.

“Tahap uji kelaikan ini akan menjawab, betul kah Batam butuh atau tidak, kalau iya kapan,” imbuhnya.

Menurutnya, BAPETEN seperti namanya menitikberatkan pekerjaannya pada pengawasan, baik sebelum PLTN dibangun terlebih ke depan jika sudah terwujud. Dalam hal ini, BAPETEN juga memastikan pertanggungjawaban PLTN kepada masyarakat.

“Misal ada kekhawatiran masyarakat, kami harus hadir di sana,” tambahnya.

Ditanya, perihal radius PLTN dengan pemukiman warga, ia menerangkan jauh dekatnya dengan pemukiman warga namun dititikberatkan pada sejauh mana dampak ke masyarakat.

“Intinya ini terkait uji kelaikan, kalau laik terus, kalau tidak jangan. Pada dasarnya nuklir fleksibel, diaturnya bukan kilometer, tapi sejauh mana penduduk terjaga, safetynya,” kata dia.

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam Jefridin yang hadir mewakili Wali Kota Batam Muhammad Rudi menyampaikan sebagai daerah yang perkembangan pembangunannya sangat ditopang oleh sektor industri Batam sangat membutuhkan kecukupan dan keberlanjutan ketersediaan pasokan energi listrik.

Hal ini dapat dilihat pada konsumsi listrik daya besar (240 KVA hingga 30 MVA) yang digunakan oleh industri besar, hotel, apartemen dan segmen bisnis besar lainnya di Kota Batam yang bertumbuh sebesar 4% hingga September 2018 lalu, dengan konsumsi daya sebesar 80 juta KWH/ bulan.

Total supply tenaga listrik Kota Batam adalah sebesar 303,43 MW yang berasal dari pembangkit berbahan bakar gas dan batubara yang berada di Panaran, Tanjung Kasam dan Tanjung Sengkuang.

Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan listrik kedepan di Kota Batam dan mempertimbangkan fluktuasi harga gas dan batubara, maka perlu dilakukan upaya pemanfaatan sumber energi baru sebagai alternatif untuk menciptakan ketahanan energi di Kota Batam.

“Pemanfaatan energi nuklir untuk mendukung keberlangsungan ketahanan energi di Kota Batam merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan, mengingat sumber energi baru ini menurut banyak pihak lebih ekonomis dan lebih ramah terhadap lingkungan dengan persyaratan harus terkelola dengan prudent dan professional,” ucapnya.

Sementara dalam situs resmi BATAN RI, disebutkan, sejalan dengan keinginan berbagai daerah untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan listrik, Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Pulau Batam termasuk daerah yang tertarik untuk membangun PLTN.

Kerja sama antara BATAN dengan Badan Penguasahaan (BP) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam telah ditandatangani tahun 2015. Kerja sama tersebut diantaranya untuk mengetahui potensi energi nuklir dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik di Pulau Batam. Pulau Batam yang bertumbuh dengan pesat sebagai kawasan industri, perdagangan dan pariwisata membutuhkan infrastruktur ekonomi yang kuat, termasuk pasokan listrik untuk mempertahankan keberlangsungan pertumbuhannya.

Dari seluruh investasi asing ke Indonesia, Batam menyumbangkan sekitar 11 % dan diantara wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia 30 % nya merupakan wisatawan ke Pulau Batam. Pertumbuhan industri juga meningkat pesat, terutama industri pesawat terbang dan galangan kapal. Pertumbuhan tersebut harus ditopang dengan kecukupan pasokan listrik.

Dalam upaya mendorong Batam untuk terus berkembang menjadi kawasan industri yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan listrik, Badan Pengusaahaan (BP) Batam dan BATAN menjalin kerja sama mengembangkan energi nuklir untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Sejak tahun 2015, BATAN sudah menugaskan Tim untuk melakukan studi awal (pre-elemenary study) untuk mengetahui potensi wilayah Batam dibangun PLTN. Selain dengan BATAN, BP Batam juga menjalin kerja sama dengan Rosatom, salah satu Badan Usaha Milik Pemerintah Rusia untuk mengembangkan PLTN di Pulau Batam.

Guna mendapatkan masukan dari berbagai pihak, termasuk dari para penentu kebijakan energi (pemerintah), pakar energi dan listrik, praktisi dan akademisi, serta masyarakat luas terkait dengan potensi Pulau Batam dibangun PLTN, BATAN bekerja sama dengan Politeknik Negeri Batam akan menggelar seminar nasional dengan mengangkat topik

“Peran Energi Nuklir dalam Pengembangan Industri Nasional dan Peningkatan Kualitas SDM”. Seminar akan menghadirkan pembicara dari Kementerian Koordinator Kemaritiman, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Ristek Dikti, BATAN, BP Batam, International Atomic Energy Agency (IAEA), dan Politeknik Negeri Batam. (iza)