batampos.co.id – Dam Tembesi dipersiapkan sebagai cadangan air minum untuk daerah Batuaji dan Sagulung. Rencananya, pengelolaan dam ini akan dilelang dalam waktu dekat. Tetapi sayang, belum beroperasi kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Sudah rusak parah akibat pe­nam­bang pasir ilegal.

Kemarin, Rabu (27/2), sejumlah truk pengangkut pasir keluar masuk ke dalam kawasan dam. Tidak ada yang menghalangi. Seolah pekerjaan tambang di sana legal. Padahal sebaliknya, penambangan di sana ilegal karena sudah merusak ratusan hektare lahan. Bahkan tanah penggalian pasir dibuang ke dalam dam hingga menyebabkan pendangkalan.

Hutan di kiri kanan dam yang mestinya dijaga sudah hancur lebur.

“Masih lanjut terus (pe­nam­bangan pasir, red). Kan tidak pernah ada razia. Cuma tahun lalu sempat ada razia, tetapi itu pun tidak ada yang ditangkap. Makanya mereka lanjut lagi,” kata Mitro, petani sayur di sana.

Mitro mengaku sejak pukul 07.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB setiap hari, truk keluar masuk ke kawasan dam. Bah-kan alat berat siaga di sana untuk mengisi pasir ke dalam truk.

“Setahu saya kalau sudah matahari terbit sudah langsung ada yang angkut pasir,” sebutnya.

foto: batampos.co.id / dalil harahap

Dari pantauan Batam Pos kemarin, sebagian besar truk pengangkut pasir masuk dari jalan tanah di sampaing SPBU Jalan Trans Barelang. Saat malam hari, plang di sana akan tertutup. Tetapi sekitar pukul 07.00 WIB sudah dibuka kembali.

Dari SPBU Jalan Trans Barelang tersebut sudah sangat jelas terdengar mesin diesel meraung-raung membersihkan pasir setelah digali dengan alat berat. Padahal pos Direktorat Pengamanan (Ditpam) BP Batam tak jauh dari kawasan tersebut.

Bahkan lokasi tambang baru terus bermunculan di sepanjang bibir Dam Tembesi. Tidak saja berdampak kerusakan ancaman pendangkalan dam tapi juga aktivitas pe­nam­bangan makin dekat ke permukiman warga.

Seperti terlihat di pinggir dam seberang Kampung Tani Sidomulio, Tembesi. Ada sekitar tiga lokasi tambang pasir yang mengeruk lahan perbukitan dekat Perumahan Medio Raya, Tembesi.

Aktivitas penambangan tidak saja menggunakan mesin penyedot pasir tapi juga alat berat jenis beko.

Pantauan di lapangan alat berat mengeruk tahan keras lokasi perbukitan. Sementara mesin penyedot pasir melakukan penyedotan di lokasi yang sudah dikeruk oleh alat berat itu. Puluhan truk pengangkut pasir ramai hilir mudik di sekitar lokasi tambang dan masuk melalui jalan tanah dekat SPBU depan Perumahan Taman Cipta, Tembesi.

Kondisi lingkungan di sekitar lokasi tambang tanpak tandus. Lahan perbukitan tak ada lagi pepohonan. Bibir dam juga demikian. Lumpur dan tanah hasil penyulingan pasir dibuang begitu saja ke arah dam, sehingga merusak tumbuhan dan pepohonan di sekitaran bibir dam.

Sumardi, petani sayur di perkebunan Sidomulio mengatakan, dam di sekitar lokasi tambang pasir tersebut tak sedalam saat awal digenangi air. Kedalaman dam berangsur berkurang karena sisa penye-dotan pasir mengalir masuk ke dalam dan.

“Awal-awal masih banyak pohon. Tapi sekarang lihat saja sendiri, ranting pohon (yang mengering) kembali muncul ke permukaan,” ujar Sumardi.

Dampak lain akibat maraknya aktivitas tambang ilegal itu adalah kerusakan lingkungan perbukitan yang berbatasan langsung dengan permukiman warga. Jika tambang ini terus berlangsung maka perbukitan di sekitar dam akan terkikis habis.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Batam Helmy Hemilton menyayangkan sikap Pemerintah Kota (Pemko) dan BP Batam yang tidak tegas melakukan penindakan terhadap penambangan pasir ilegal itu. Di mana wacana untuk penertiban hanya sebatas angan-angan saja.

“Kalau memang rutin patroli ke sana, saya yakin tambang pasir itu akan berhenti. Tetapi sayang itu tidak dilakukan,” katanya.

Helmy mengatakan Pemko Batam lewat Dinas Lingkungan Hidup harusnya bisa berkoordinasi dengan Dinas Pertambangan Provinsi Kepri. Juga dengan pihak BP Batam sebagai pemilik lahan dan Dam Tembesi.

“Ini patut dicurigai kenapa sampai tidak ada tindakan dari pemerintah. Kami juga berharap polisi turun tangan. Ini aneh dan patut diduga ada yang bermain di sini. Udah berlangsung puluhan tahun tetapi tidak ada yang ditangkap dan sampai pengadilan,” ungkapnya.

Menurut politikus Partai Demokrat itu, kerusakan yang ditimbulkan penambang pasir ilegal di Dam Tembesi tersebut sudah sangat parah. Bahkan sudah sampai ke bibir dam.

“Dam Tembesi itu untuk masa depan Batam. Kenapa tidak kita jaga bersama. Kok malah seperti dibiarkan rusak,” ujarnya.

Tak hanya tambangpasir ilegal, di sekitaran Dam Tembesi juga marak aktivitas pertanian. Mitro, salah satu yang mengelola lahan di sana. Ia ikut bertani setelah melihat banyaknya warga yang menggarap lahan di sekitar kawasan dam. Ada yang menanam singkong, pisang, bayam, dan tanaman muda lainnya.

“Banyak di sini yang berkebun, bukan kami saja. Lagi pula kami kan tidak merusak lahan yang ada di sini. Kami hanya mengelolanya saja,” ujarnya.(ian/eja)