batampos.co.id – Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, perkembangan kredit perbankan di Batam mengalami penurunan pada triwulan IV 2018 lalu.

“Total penyaluran kredit perbankan pada triwulan empat tercatat sebesar Rp 50,71 triliun atau tumbuh lambat 6 persen dibanding triwulan sebelumnya,” ungkap Gusti, Kamis (28/2).

Meski begitu, Gusti menyebut kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di Kepri pada triwulan keempat masih jauh dari batasan NPL bermasalah, yakni 5,0.

“Tingkat NPL di Kepri pada triwulan keempat yakni sebesar 3,56 persen dibanding triwulan ketiga sebesar 3,38 persen. Masih jauh dari ambang batas,” ucapnya.

Penurunan ini disebabkan oleh penurunan kredit konsumsi dan kontraksi kredit investasi.

“Penyaluran kredit konsumsi melambat dari 7,62 persen pada triwulan ketiga menjadi sebesar 6,98 persen pada triwulan keempat,” paparnya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Batam Achyar Arfan mengakui, daya beli properti di Batam sepanjang 2018 lalu memang cenderung turun. Namun, Achyar mengklaim penurunan hanya terjadi pada kelompok konsumen tertentu saja.

“Realisasi KPR 2018 tidak jelek-jelek amat. Masih lebih baik dibanding tahun 2017,” Achyar, Kamis (28/2).

Achyar mengatakan, animo pengembang juga saat ini semakin besar. Buktinya adalah kuota stan pameran REI Expo 2018 yang akan digelar pada 22 April mendatang sudah habis.

“Jumlah pengembang semakin banyak sehingga lebih kompetitif. Masih dua bulan lagi, tapi stand REI Expo sudah diborong semua,” ucapnya.

Selain pengembang, Achyar mengatakan, perbankan juga semakin berani memberikan tenor lebih panjang kepada para pembeli rumah. Tenor pelunasan KPR bahkan ada yang mencapai 20 tahun.

“Karena harga rumah jauh lebih cepat naik dibanding gaji,” katanya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua Persatuan Perbankan Nasional (Perbanas) Kepri, Daniel Samzon. Ia mengatakan, maksud dari tenor panjang untuk pelunasan KPR bukan semata-mata untuk mengejar target, tapi juga untuk memudahkan generasi milenial memiliki rumah.

“Tujuannya untuk permudah generasi muda agar bisa membeli rumah. Cicilannya tidak terlalu tinggi sehingga tidak memberatkan,” ungkapnya.

Cicilan KPR selama 20 tahun sudah diperhitungkan matang-matang oleh perbankan. Tenor ini mengikuti standar usia lunas. Bagi pegawai negeri, batas usia lunas yakni usia 55 tahun. Dan bagi pegawai swasta, yakni usia 50 tahun.

“Kalau pegawai negeri, usia lunasnya pas dengan jarak usia memasuki masa pensiun. Ini semua agar generasi muda tak dipusingkan oleh besarnya cicilan rumah selama ini,” katanya.

Mengenai pertumbuhan KPR, Daniel mengakui ada peningkatan. Besarannya kecil, masih dalam rentang sekitar 10 persen.

“Mengenai rumah-rumah yang gagal bayar, dari tahun ke tahun juga selalu ada. Tapi itu tidak serta merta menandakan ekonomi tengah menurun,” ungkapnya.

Ia menyebut secara umum kemampuan daya beli masya-rakat Batam termasuk bagus. Khususnya kalangan me-nengah ke atas. Terbukti, apartemen maupun rumah landed masih tetap tinggi peminat.

Ia juga yakin ke depan, semangat masyarakat untuk memiliki rumah juga akan terus meningkat. Apalagi jika kondisi ekonomi Batam makin membaik dan lapangan pekerjaan makin luas, daya beli masyarakat akan semakin membaik.

.(leo)