batampos.co.id – Pada tahun politik ini, rawan sekali sejumlah pihak menjadikan setiap kesempatan untuk berkampanye. Namun antisipasi sudah dilakukan pengasuh Ponpes Darul Hadits Alfaqihiyyah, Jalan Aris Munandar. Pada acara Haul Akbar ke-58 Maha Guru Al-Ustadzul Imam Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih Al-’Alawy dan haul ke-28 Maha Guru Al-Ustadzul Imam Prof Dr Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih Al-’Alawy itu, pihak pesantren melarang ada narasi politik. Larangan itu terpampang pada banner di area pesantren yang bertuliskan: ”Maaf, mohon tidak menyampaikan narasi politik dan berkampanye di area haul”.

Kepala Humas Pesantren Darul Hadits Alfaqihiyyah Ir Kukuh Abdul Aziz menjelaskan, banner itu sengaja dipasang. Sebab, dalam momen politik seperti saat ini kerap orang mengambil kesempatan untuk menyampaikan narasi politik.

”Kami ingin menegaskan bahwa Pondok Pesantren Darul Hadits Al Faqihiyyah secara institusi tidak memihak kepada calon presiden yang mana pun. Hal ini untuk menjaga marwah pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan,” tegas Kukuh.


Sejumlah tokoh penting hadir di acara ini. Antara lain Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Wali Kota Malang Sutiaji. Sedang para ulama besar antara lain Syeikh Samih Hadramaut dari Yaman, Habib Abdullah bin Abdurrahman al Muhdor dari Tarim Madinah, dan KH. Abdul Qoyyum Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Habib Abdullah bin Abdurrahman al Muhdor menyampaikan agar seluruh umat Islam tidak boleh ghibah (menggunjing orang lain) dan tidak boleh memakan barang haram. Sebab, menurut dia, perlakuan seperti itu membahayakan diri sendiri.

”Memakan barang haram dapat menimbulkan maksiat,” terangnya dalam bahasa Arab.

Sedangkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan bahwa pondok pesantren adalah lembaga terbaik untuk memberikan kontribusi keilmuan bagi masyarakat.

”Pesantren adalah tempat untuk menciptakan kader-kader Islam yang berakhlakul karimah,” ujarnya. (hqq/c1/abm)

Loading...