foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Batam masih menarik bagi para pengembang properti (developer) di dalam negeri. Tak hanya level lokal, developer kelas kakap di tingkat nasional juga ramai-ramai membangun proyek hunian di pulau yang digadang menjadi kota industri ini.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Khusus Batam Achyar Arfan mengatakan, saat ini memang sudah banyak pengembang nasional yang masuk ke Batam. Sebagian sudah memulai proyeknya. Sebagian yang lain baru dalam tahap persiapan.

Yang terbaru, Triniti Property Group, juga memastikan akan mengerjakan proyek hunian vertikal di Batam.


“Nanti, Triniti masuk ke sini. Mereka akan bangun low rise building tujuh lantai di depan Sekolah Mondial di Pasir Putih,” kata Achyar, Senin (4/3), di Hotel Nagoya Hill, Batam.

Sebelum Triniti, kata Achyar, ada beberapa developer kelas kakap yang sudah menancapkan kakinya di Batam. Ada Sinar Mas yang membangun resort dan pemukiman di Nongsa. Kemudian Ciputra dengan proyek apartemennya di Nagoya dan Batam Center. Lalu ada Agung Podomoro yang membangun pemukiman terpadu, Orchard Park Batam, di Batam Center.

“Ada juga Bakrie Land yang sudah lama bangun proyek di Tiban. Dan dua lagi merupakan pengembang yang baru di Batam, yakni Pollux Habibie dan Oxley dari Singapura yang bangun high rise building,” jelasnya.

Proyek-proyek yang tengah dibangun saat ini antara lain proyek properti prestisius yang sedang dikembangkan di Batam, antara lain Pollux Habibie, Oxley Convention City, CitraPlaza Nagoya, Formosa Residence Nagoya, Orchard View, Puri Khayangan, Blitz Park, One Residence, The Nove Residence, dan lainnya.

Maraknya proyek properti kelas menengah ke atas ini, kata Achyar, membuka peluang pasar yang lebih luas. Bukan hanya konsumen dalam negeri, properti Batam bisa menyasar pasar asing. Khu-susnya di Singapura dan Malaysia.

“Makanya, kami saat ini tengah berupaya agar bagaimana kepemilikan properti oleh warga asing bisa dipermudah agar semakin menggairahkan industri properti di Batam,” ucapnya.

Sedangkan Deputi III BP Batam Dwianto Eko Winaryo pernah menyebut, nilai investasi yang masuk sepanjnang Desember 2018 sebanyak Rp 223 miliar terdiri dari investasi untuk properti sebesar Rp 153 miliar dan jasa sebesar Rp 70 miliar.

“Waktu kami sampaikan Oktober kemarin sudah ada Rp 5,2 triliun investasi yang sudah disetujui dan untuk tambahan investasi yang sudah disetujui Skep dan Spj-nya ini totalnya jadi Rp 5,423 triliun,” ucapnya.

Dwi mengungkapkan, saat ini investasi memang tengah menggeliat dari lahan tidur. Contohnya PT Rarantira yang memiliki lahan di depan kantor Kadin Batam akan segera membangun lahannya.

Sebelumnya, BP Batam memang menyetujui rencana investasi properti sebesar Rp 343 miliar di atas lahan tidur di Batam pada Oktober 2018.

“Sekarang investor silakan berjanji. Janji itu akan dijadikan adendum. Baru kami akan evaluasi berdasarkan janji tersebut,” ungkap Dwianto.

Dengan kata lain, BP Batam akan mengawasi proses pembangunan properti di atas lahan tidur sesuai dengan jangka waktu yang sudah disetujui.

“Jika bangun 500 unit rumah contohnya, dua hingga tiga tahun itu sangat logis. Tapi ada juga yang minta waktu pembangunan hingga tahun 2092 di atas lahan 50 hektare, ya kami tak mau,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan, pembangunan properti, khususnya perumahan, jangan dibuat bertahap-tahap.

“Rumah tak bisa tahap-tahap. Kalau tahap pertama laku sekian persen, maka bisa lanjut tahap kedua tanpa menunggu rumah tahap pertama selesai terjual semua,” pungkasnya. (leo)

Loading...