Senin, 6 April 2026

Hasil Survei BNNP Kepri dan LIPI di Batam 22 Ribu Pelajar Terpapar Narkoba

Berita Terkait

batampos.co.id – Kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di Batam kian mengkhawatirkan. Data Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri menyebutkan, saat ini setidaknya ada 22.361 pelajar di Batam yang terpapar narkoba.

Kepala BNNP Kepri Brigjen Richard Nainggolan mengatakan data tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2018. Jumlah tersebut lebih tinggi dari jumlah penyalahgunaan narkoba dari kalangan pekerja yang hanya mencapai 11.660 orang.

Richard Nainggolan
foto: batampos.co.id / dalil harahap

“Para pelajar ini terindikasi kebanyakan menggunakan narkoba jenis ganja, obat sakit kepala (yang dikonsumsi melebihi dosis), dan inhalant (lem),” kata Richard Nainggolan, Senin (4/3).

Jika dibandingkan dengan daerah lain, angka penyalahgunaan narkoba oleh pelajar di Batam masih tergolong rendah. Namun, Richard yakin hasil survei tersebut seperti fenomena gunung es. Artinya, angka yang sebenarnya bisa saja lebih banyak lagi.
Sebab dari hasil pengungkapan BNNP Kepri sendiri, selama ini banyak ditemui kasus penyalahgunaan narkotika oleh kalangan pelajar. Termasuk adanya kedai sabu di Bengkong yang diungkap BNNP Kepri, beberapa waktu lalu. Kedai sabu ini jelas-jelas menyasar kalangan pelajar.

“Kasus pelajar terlibat narkoba ini baru terungkap satu dan dua. Tapi yang tidak terungkap mungkin banyak,” ucap Richard.

Dari penelitian LIPI tersebut juga terungkap, 5 dari 100 orang pelajar mendapatkan narkoba di lingkungan sekolah. Awalnya mereka mengaku hanya coba-coba karena penasaran. Namun, lama-lama menjadi kecanduan.

“Kebanyakan mereka remaja yang sedang mencari jati diri, tapi terjebak di lingkungan pertemanan yang salah,” ujar Richard.

Masuknya narkoba ke kalangan pelajar juga disebabkan kebiasaan pelajar yang suka mengunjungi tempat hiburan malam.

“Untuk penindakan kami berusaha memutus mata rantai peredaran narkoba, dengan menindak bandar-bandar sabu,” ungkap Richard.

Tapi BNNP tidak bisa bekerja sendirian. BNNP Kepri membutuhkan bantuan dari semua pihak agar dapat mencegah peredaran narkoba dan menumpas para bandar sabu.

“Saya sudah koordinasi dengan Pemko Batam terkait hasil data ini. Sejauh ini masih sebatas koordinasi. Saya berharap juga bantuan masyarakat memberikan informasi ke kami,” ucap Richard.

Selain itu, Richard juga berharap peran serta masya-rakat dan para orangtua. Mereka diharapkan melaporkan temuan kasus narkoba ke Loka Rehab di BNNP Kepri.

Namun, sejauh ini jumlah laporan ke Loka Rehab BNNP Kepri dinilai masih minim. Setiap bulannya, hanya ada dua hingga tiga orang yang melaporkan diri secara sukarela.
Padahal, kata Richard, undang-undang telah menjamin pelapor kasus korban narkoba ke Loka Rehab tidak akan diproses hukum. Selain itu, identitas diri pelapor juga akan dirahasiakan.

“Selama menjalani rehab juga gratis, tidak dipungut biaya,” ungkap Richard.

Kepala Bidang Brantas BNNP Kepri Bubung Pramiadi menambahkan, dari hasil pemeriksaannya selama ini, para pecandu umumnya terjebak dalam jeratan narkotika akibat ajakan teman dekat.

“Biasanya kalau sekali (pakai) belum kecanduan, tapi setelah melewati tiga kali baru menimbulkan efek ketagihan,” ucapnya.

Terkait dengan sabu di kalangan pelajar atau lingkungan pendidikan, Bubung menuturkan, sejauh ini jajarannya tidak menemukan adanya bandar yang khusus menye-diakan sabu untuk pelajar. Karena dalam peredarannya, pecandulah yang mencari bandar. Bukan bandar atau pengedar narkotika yang mendatangi pecandu.

Selain ajakan teman, maraknya peredaran narkoba di kalangan pelajar juga dikarenakan perilaku pelajar sendiri yang umumnya memiliki rasa penasaran. Dari sana, mereka mulai coba-coba. Dan selanjutnya, me-ngonsumsi narkoba dianggap sebagai salah satu gaya hidup.

“Pelajar lebih sering menggunakan ganja. Tapi, kini sabu juga mulai merebak masuk di kalangan pelajar karena adanya paket hemat Rp 50 ribu,” ucap Bubung.

Pengguna sabu, kata Bubung, memiliki kecenderungan tidak akan menggunakan ganja. Sebaliknya, pengguna ganja tidak akan menggunakan sabu.

“Karena efek dua narkoba ini bertolak belakang. Ganja itu membuat malas, ngantuk lemas. Sedangkan sabu membuat menjadi semangat,” bebernya.

Kabid P2M BNNP Kepri Nurlis mengatakan fenomena maraknya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak. Khususnya para guru. Mereka diharapkan bisa mendeteksi dini pelajarnya yang menggunakan narkoba melalui perilaku kesehariannya di sekolah.

“Karena waktu mereka ini lebih banyak dihabiskan bersama guru di sekolah,” ungkap Nurlis.

Menurut Nurlis, deteksi dini ini bisa dilakukan dengan melihat perubahan perilaku si pelajar. Misalnya, pelajar menjadi pemalas. Atau sering terlambat dan bahkan bolos sekolah.

Padahal sebelumnya ia merupakan siswa yang pendiam dan rajin.

“Tapi kadang perubahan ini tidak secara cepat, kadang pelan-pelan,” tuturnya.

Nurlis mengatakan, setiap narkoba memiliki efek berbeda. Apabila ada anak yang suka tidur atau malas-malasan di sekolah, hal ini patut dicurigai. Apakah menggunakan narkoba jenis ganja, atau karena faktor lain.

“Apalagi kalau matanya merah dan setiap saat izin keluar kelas. Itu membuat indikasi penggunaan ganja semakin kuat,” ucapnya.

Sedangkan pelajar yang menggunakan sabu, pembawaanya selalu riang dan gembira.

“Pokoknya terlihat aktif luar biasa,” ujarnya.

Kebiasaan-kebiasaan seperti ini, kata Nurlis, haruslah jadi perhatian guru maupun orangtua. Apabila ada perubahan sikap, orangtua dan guru harus menyikapi secara serius.

“Mencari tahu penyebabnya, jangan sampai terlambat. Bila memang terindikasi, laporkan segera. Agar bisa disembuhkan segera,” ungkap Nurlis.

Terpisah, guru SD yang diamankan BNNP Kepri di Batuaji beberapa waktu lalu, Iw, membenarkan beberapa hal yang disampaikan Kepala dan Kabid Brantas BNNP Kepri. Ia mengatakan saat menggunakan narkoba untuk pertama kali, tidak ada menimbulkan efek candu.

“Rasa tersiksa malah, tapi kedua kalinya terus diajak kawan. Ketiganya diajak kawan juga. Tapi setelah itu, cari sendiri,” ucapnya.

Kepada Batam Pos, IW mengaku sudah mengonsumsi narkoba sejak akhir 2013. “Saya masih ingat, waktu itu ada acara pesta di pulau (Sarang, Belakangpadang). Saya diajak teman untuk menggunakan itu,” ujarnya.

Iw menuturkan saat itu, dirinya tidak memiliki masalah keluarga maupun masalah di tempatnya bekerja. “Murni ajakan kawan,” katanya.

Setelah beberapa kali me-ngonsumsi sabu, Iw mengaku belum berani membeli sabu langsung ke bandarnya. Iw membelinya melalui perantara temannya.

Penggunaan sabu, kata Iw, menjadi pendongkrak sema-ngatnya mengajar. Ia bebe-rapa kali mengonsumsi sabu saat akan menyusun rencana proses belajar mengajar.

Seperti diketahui, selain Iw, petugas BNNP Kepri mengamankan satu lagi guru SD di Batuaji, Ka, pada Kamis (21/2) lalu. Iw dan Ka ditangkap saat tengah mengonsumsi sabu di asrama guru di kompleks sekolah tersebut. (*)

Update