
batampos.co.id – Hilda Delvia br Pakpahan, istri almarhum Bripka Kristian Poltak Bosta Sitorus, datang ke redaksi Batam Pos, Senin (4/3) lalu. Selain menceritakan kesedihannya karena kehilangan suami tercinta.
Hilda juga menegaskan bahwa kehidupan rumah tangganya selama ini dengan Kristian sangat harmonis. Hal itu diutarakan untuk menepis kabar yang menyebutkan bahwa latar belakang kematian sang suami adalah masalah keluarga.
Kristian ditemukan meninggal di kantornya, Mapolsek Batuampar, Rabu (13/2). Polisi menyebutkan, ia meninggal karena menembak kepala sendiri dengan pistol temannya.
Hilda menuturkan, pagi hari sebelum kejadian ia masih sempat sarapan bareng. Selepas sarapan, ia dan anak-anak melepas Kristian yang hendak berangkat ke kantor. Seperti biasa, kata dia, Kristian mencium dan memeluk kedua anaknya.
Sekitar pukul 10.00, Kristian kembali ke rumah karena akan mengantar Hilda mengurus SIM ke Mal Pelayanan Publik di Batam Center. Mereka berboncengan dengan sepeda motor berdua. Hilda sangat menikmati perjalanan mereka hari itu, karena sudah lama tidak pergi bersama dengan sepeda motor.
”Seperti masa pacaran dulu,” ujarnya.
Selesai mengurus SIM, mereka kembali ke rumah. Ada hal yang membekas di memori Hilda saat perjalanan pulang. Sembari memeluk sang suami, keduanya membahas tentang persiapan ulang tahun sang istri.
”Dia bilang, nanti dirayakan Sabtu (16/2) saja ya, karena kerja setengah hari. Saya pun mengangguk senang,” kenang Hilda yang berusaha menahan air mata.
Di rumah yang mereka tempati di Blok III, juga tinggal kedua orangtua Kristian. Setelah makan siang, Kristian kembali ke kantor. Sebelum berangkat, ibu almarhum sempat bertanya apakah ia akan ke kantor lagi siang itu.
”Iya Mak, ada janji jumpa seseorang di kantor habis makan siang,” jawab Kristian, seperti diceritakan Hilda.
Tapi, Kristian tak memberitahu siapa orang yang ingin ia temui itu. Hingga pukul 14.00 WIB, di tengah keheningan istirahat siang di rumah mereka, isak tangis pun pecah.
Empat orang tamu yakni Wakapolsek Batuampar, satu rekan almarhum di tim buser narkoba, dan dua anggota polisi yang tidak dikenal Hilda mendatangi rumahnya dengan membawa kabar bahwa Bripka Kristian telah tiada.
”Mereka menyampaikan Kristian (panggilan almarhum) meninggal di kantor dengan meminjam senjata api milik temannya,” jelas Hilda.
Ia yang berusaha untuk tidak mengenang hari itu, menyingkat cerita dengan informasi yang didapat ketika pemakaman.
”Singkat cerita, di saat pemakamanlah saya baru mendengar bahwa suami saya meninggal pukul 13.27 WIB, yang hanya sekitar 37 menit selang waktu sejak dia berpamitan dari rumah,” tegasnya.
Belum lagi terkait simpang siur pemberitaan tentang latar belakang peristiwa yang seketika muncul dengan dugaan bunuh diri. Jelas hal itu menambah kepedihannya dan keluarga yang ditinggalkan.
”Saya tidak menerima pemberitaan seperti itu, karena sampai detik ini kami pihak keluarga masih menunggu hasil autopsi forensik dan pemeriksaan lainnya terhadap jenazah almarhum. Sudah lebih tiga minggu hasil itu belum kami terima,” ungkap Hilda bercucuran air mata.
Ia bahkan memastikan peristiwa tersebut sangat jauh kaitannya dengan masalah keluarga. Didampingi ayah almarhum, Tunggul Sitorus; adik almarhum, Muda Sitorus; dan abang almarhum dr Adventius Keliat, Hilda berkisah tentang keseharian almarhum yang merupakan anak keempat dari enam bersaudara itu.
Pria yang dikenalnya sejak 10 tahun belakangan, dengan masa pacaran yang memakan waktu sekitar enam tahun hingga berumah tangga di 2014, almarhum adalah sosok yang penyayang.
”Kami bahkan tidak pernah bertengkar,” ucapnya yang dibenarkan ayah almarhum.
Untuk urusan pekerjaan, ia pun tak pernah menutupi dari sang istri. Siapa temannya, baik orang lama maupun orang yang baru dikenal, serta apa yang dikerjakan, kerap diceritakan ke Hilda, bahkan juga ke orangtua almarhum.
Terkait senjata api, Hilda mengatakan bahwa almarhum sangat tidak tertarik untuk menggunakannya. Menurut almarhum, itu sangat berisiko, maka itu ia menolak untuk memegang senjata pribadi.
”Dia telah lulus psikotes untuk kepemilikan senjata api, namun tidak dilanjutkan ke pengurusan administrasinya,” beber wanita bergelar sarjana sosial dari Universitas Pelita Harapan, Jakarta itu.
Lebih lanjut, Hilda menuturkan cita-cita sang suami menjadi polisi bergelar sarjana hukum bahkan magister hukum. Kepindahannya dari tim buser Polresta Barelang ke penyidik Polsek Batuampar untuk mengejar cita-citanya.
”Kuliahnya yang dimulai 2006 sempat terbengkalai karena kerjaan. Setelah pindah tempat inilah dia bisa menyelesaikan tugas akhirnya dan akan diwisuda tahun ini dengan nilai terbaik sebagai sarjana hukum dari Uniba,” paparnya.
Luapan hati yang baru mampu diutarakannya kini, diharapkan bisa meredam pemberitaan yang beredar selama ini. ”Kami percaya jajaran kepolisian dapat bekerja dan bertindak sesuai dengan kebenaran dan aturan hukum yang berlaku,” tutupnya.(febby)
