Selasa, 7 April 2026

Melihat Antusias Siswa SMPN 57 Tempati Gedung Sekolah Baru

Berita Terkait

Sempat menumpang belajar di SDN 003 dan SDN 004 Sekupang, ratusan siswa-siswi SMPN 57 Batam kini bisa menempati gedung sekolah milik sendiri. Mereka riang karena tak perlu masuk siang lagi.

”Jangan diinjak,” teriak Maharani kepada beberapa orang kawannya yang hendak melewati teras berkeramik putih. Kala itu, dia baru selesai mengepel beberapa bagian lantai tersebut.

Maharani adalah siswi SMPN 57 Batam. Saat itu, ia bersama teman-temannya yang lain tengah sibuk membersihkan beberapa ruangan dan teras sekolahnya. Cuaca terik tidak menghalangi antusias siswa-siswi SMPN 57 Batam untuk menata dan merapikan area di kawasan sekolah.

Maklum, saat itu mereka baru saja menempati gedung baru SMPN 57 Batam di Patam Lestari, Sekupang, Batam. Gedung itu memang belum lama ini selesai dibangun dan baru ditempati untuk belajar, Senin (4/3) kemarin. Karena itu, sebagian siswa terlihat tengah sibuk membersihkan sekitar ruang kelas yang akan mereka tempati.

”Kami senang, akhirnya kami bisa menempati gedung sekolah milik sendiri,” ujar Maharani gembira, yang di-sambut anggukan kepala siswa SMPN 57 Batam lainnya, Putra, yang berdiri di sampingnya.

Gedung sekolah yang sebelumnya sempat mengalami kendala penyelesaian pembangunan itu, akhirnya selesai dikerjakan dan layak ditempati. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam menganggarkan Rp 4,3 miliar untuk pembangunan gedung sekolah itu.

Sebelumnya, 151 siswa SMPN 57 Batam harus menumpang belajar di dua sekolah berbeda selama dua tahun. Yakni, di SDN 003 Sekupang selama sekitar satu tahun. Kemudian, disambung menumpang di SDN 004 Sekupang selama delapan bulan.

”Iya, karena ruang sekolah sebelumnya (SDN 003 Sekupang, red) tak cukup lagi menampung siswa SMPN 57 setelah PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) Juli tahun lalu. jadi kami mencari sekolah lain yang bisa kami tumpangi,” kata Kepala SMPN 57 Batam Nyamini yang dijumpai di sela-sela kesibukan berbenah gedung baru.

Perempuan kelahiran Nganjuk ini menuturkan, setelah hampir dua tahun menum-pang, akhirnya siswa bisa memiliki gedung sendiri. Ia mengaku baru menerima informasi sudah boleh pindah ke gedung baru ini pada Sabtu, (2/3) lalu.

”Katanya boleh ditempati Senin, makanya hari ini (kemarin) kami gotong royong membersihkan sekolah,” kata dia.

Kegembiraan memang dirasakan keluarga besar SMPN 57 Batam. Dengan memiliki gedung sekolah sendiri, mereka tak harus mengalah masuk sekolah siang hari seperti sebelum-sebelumnya.

Ya, selama ini, jadwal masuk pagi kala itu hanya dirasakan siswa SDN 003 dan SDN 004 Sekupang, si empunya sekolah yang mereka tumpangi. Setelah dua sekolah itu memulangkan muridnya, barulah siswa SMPN 57 Batam bisa belajar.

Tak heran, kata Nyamini, banyak siswa yang antusias dan bersemangat ketika diberitahu informasi mereka pindah ke gedung baru dan bisa merasakan masuk sekolah pagi hari.

”Alhamdulillah, kami tak lagi masuk siang dan tidak numpang lagi,” imbuh perempuan yang sebelumnya bertugas di SMPN 11 Batam ini.

Nyamini menyebutkan, para siswa nantinya akan menempati empat ruang kelas. Saat ini, jumlah siswa sebanyak 151 orang. Ia merinci, kelas delapan ada satu kelas, kelas tujuh tiga kelas.

”Jadi baru empat yang dipakai, sisanya enam kelas untuk persiapan PPDB tahun ini yang rencananya diadakan Juli mendatang,” jelasnya.

Meski telah menempati gedung baru, Nyamini tak melupakan jasa jajaran akademik SDN 003 dan SDN 004 Sekupang.

”Terima kasih buat bantuannya selama ini untuk kedua sekolah,” ucapnya.

Ia mengenang, banyak tantangan yang dihadapi saat SMPN 57 Batam baru dibuka. Sebagai sekolah yang belum memiliki gedung dan menumpang, ada siswa yang enggan berangkat ke sekolah.

”Dulu ada siswa yang dijemput (pihak sekolah) karena tidak mau datang ke sekolah (karena tak punya gedung),” ceritanya.

Meskipun begitu, ia sangat bersyukur karena selama ini, siswanya dinilai cukup bertanggung jawab selama menumpang di sekolah lain. Mereka sangat menjaga ruang kelas yang ditempati.

”Kami tekankan, jangan sampai fasilitas milik sekolah dirusak. Saya harap hal positif itu diteruskan di sini,” tambahnya.

Meskipun fasilitas terbatas dan belum ada perangkat komputer, namun pihaknya telah berhasil menggelar ujian semester berbasis komputer.

”Tahun ini kan kami belum dapat bantuan. Sebab UN (Ujian Nasional) masih menggunakan kertas. Ujian semester kemarin kami menggunakan laptop milik siswa. Ke depan mungkin kami bisa nyusul UNBK (Ujian Nasional Berbasis Kompetensi),” lanjutnya.

Tahun ini, ia juga mendapatkan bantuan dari Disdik Batam untuk semenisasi lapangan yang berada di depan kelas.

”Sekarang debunya cepat bertebaran ke gedung, padahal baru disapu. Jadi kemarin kami sudah dapat informasi mau dibantu untuk peningkatan fasilitas sekolah ini,” ucap perempuan 46 Tahun ini.

Saat ini, ada sembilan pegawai yang bertugas di SMPN 57 Batam. Dua Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tujuh tenaga honorer.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Batam Hendri Arulan mengatakan bangunan sekolah sempat terkendala penyelesaiannya karena kontraktor tidak bisa bekerja sesuai kontrak. Bangunan dua lantai ini memiliki sepuluh kelas. Pemko mengucurkan anggaran Rp 4,3 miliar. Sebelumnya, gedung ditargetkan selesai Desember lalu.

”Meskipun begitu, sekolah tetap rampung dan akhirnya bisa ditempati siswa,” sebutnya.
Hendri menyebutkan, sebelumnya Disdik juga telah merampungkan pembangunan SMPN 56 Batam yang berlokasi di Tiban Lama. Siswa dulunya menumpang selama empat tahun di gedung serba guna Kelurahan Tiban Lama dan SDN 010 Sekupang.

”Meskipun ada kendala, sekolah berhasil diselesaikan dan siswa tak lagi menumpang,” kata dia.

Hendri menyebutkan, masih ada beberapa sekolah numpang belajar lainnya yang menjadi pekerjaan rumah (PR) untuk dituntaskan pasca PPDB tahun lalu. Pihaknya menambah dua SMPN yaitu 58 dan 59 Batam. Kedua sekolah tersebut belum memiliki gedung sendiri.

”Bertahap tentu kami tuntaskan. Tahun ini rencananya kami akan bangun SMPN 58 dulu, sebab lahannya sudah ada. Ke depan yang lain menyusul,” ungkap Hendri.(yui)

Update