ilustrasi13

batampos.co.id – Kemajuan teknologi semakin tak bisa dihindari. Industri di Batam saat ini tengah bergerak ke arah revolusi industri 4.0. yang ditandai dengan penerapan teknologi dalam sistem operasional industri.

“Era digitalisasi ini berpotensi memberikan peningkatan net tenaga kerja hingga 2,1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025 di seluruh dunia,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI), Tjaw Hoeing, Rabu (6/3).

Disamping itu, revolusi industri 4.0 yang berbasis digitalisasi ini jauh lebih ramah lingkungan.

“Terdapat potensi pengurangan emisi karbon kira-kira 26 miliar metrik ton dari tiga industri yakni elektronik sebenayak 15,8 miliar, logistik sebanyak 9,9 miliar dan otomotif sebanyak 540 miliar,” paparnya.

Namun, revolusi industri 4.0 ini juga dapat menghilangkan sekitar 1 hingga 1,5 miliar pekerjaan sepanjang tahun dari tahun 2015 hingga 2025. Penyebabnya karena posisi manusia dapat digantikan dengan mesin otomatis.

“Dan di masa depan, 65 persen murid sekolah dasar di dunia akan bekerja pada pekerjaan yang belum pernah ada hari ini,” ungkapnya.

Meskipun begitu, revolusi industri 4.0 ini memang tak bisa ditolak, karena berbagai lini kehidupan sudah mulai menerapkannya. Mulai dari sistem pendidikan, pemerintahan, sistem transaksi jual beli, pelayanan kesehatan dan lainnya.

“Saat ini berbagai macam kebutuhan manusia telah banyak menerapkan dukungan internet dan dunia digital sebagai wahana interaksi dan transaksi,” ungkapnya lagi.

Di Batam sendiri, sudah ada sejumlah perusahaan yang menerapkan teknologi 4.0 dalam operasionalnya, seperti Infineon Technologies, Siix, Ciba Vision, Schneider Electric, Rubycon, Flextronics dan lainnya.

Penerapan teknologi 4.0 dianggap dapat mengakomodir perusahaan industri saat ini, dimana sekarang upah terus meningkat di kisaran delapan persen tiap tahun, tapi produktivitas pekerja menurun.

“Selalu terjadi ketidakseimbangan antara kenaikan upah dan penguatan produktivitas dan keterampilan kerja (BLK). Lalu sering juga terjadi unjuk rasa,” katanya.

Ia juga meminta agar pemerintah membenahi regulasi yang dianggap berbelit-belit. Implementasi di lapangan masih banyak yang belum on the track. Kemudian kementerian dan lembaga punya sistem online masing-masing yang belum tentu terintegrasi.

“Contohnya Kemenperin dengan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS). Kemendag dengan Intrade, Ditjen Imigrasi dengan Izin Tinggal Online dan lainnya,” paparnya.

Di tempat terpisah, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mulai mengumpulkan ide-ide cemerlang dari Batam untuk mewujudkan Indonesia yang siap memasuki era industri 4.0.

“Untuk sampai kesana, penting bagi kita untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan iklim investasi yang kondusif dan inklusif guna mendukung lebih banyak lagi penciptaan lapangan pekerjaan,” kata Staf Ahli Menteri PPN/Bappenas Bidang Pemerataan dan Kewilayahan, Oktorialdi.

Selanjutnya menciptakan iklim usaha yang memudahkan orang dalam berinvestasi di Batam. Mengingat di Batam, ada banyak kawasan Industri yang mayoritas diisi oleh Perusahaan Modal Asing (PMA).

“Dan nantinya dibutuhkan orang-orang yang tidak tergantikan oleh mesin. Itulah tantangannya yang sangat besar untuk menciptakan ke arah sana,” jelasnya lagi. (leo)