batampos.co.id – Sejak awal tahun 2019, jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) terus menurun. Hanya saja, setiap bulan selalu ditemukan warga terserang penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti ini.
Misalnya di wilayah kerja Puskesmas Seilangkai dan Seilekop, Sagulung, sepanjang tahun 2019 ini, terdapat 37 kasus DBD. Kepala Puskesmas Seilangkai Yuliadi menyebutkan pada Januari terdapat 19 kasus. Terdiri 14 kasus di wilayah Kelurahan Tembesi dan di Seilangkai 5 kasus. Sedangkan di Februari ada 13 kasus atau turun dibanding bulan sebelumnya. Yakni di wilayah Kelurahan Tembesi 3 kasus, Seipelunggut 1 kasus, dan Seilangkai 9 kasus.
”Tidak ada yang sampai meninggal. Pihak puskesmas sudah melakukan upaya pencegahan melalui pelacakan kasus, abatisasi, fogging khusus, serta penyuluhan DBD ke posyandu kelompok masyarakat,” ujar Yuliadi, Rabu (6/3).
Untuk proses pencegahan, Yuliadi menyarankan masyarakat untuk rutin melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (Jumantik).
”Untuk laporan kasus DBD apabila ada indikasi warga yang sudah terjangkit, maka akan ditindaklanjuti dengan program (PE (Penyelidikan Epidemiologi) untuk memastikan sarang nyamuk di wilayah itu,” jelasnya.
Pihak puskesmas juga langsung melalukan penanganan bila ditemukan satu orang atau lebih yang positif terkena DBD. Lalu ada proses fogging apabila ditemukan jentik dari rumah ataupun bangunan.
”Intinya, untuk mencegah DBD, yang utama adalah menjaga kebersihan lingkungan dengan cara 3M plus dan gotong royong,” terangnya.
Kepala Puskesmas Seilekop Erizal mengatakan dalam sebulan terakhir ada lima kasus kasus DBD, dua di antaranya positif terjangkit. Saat ini sudah dirujuk ke rumah sakit. Warga yang terserang DBD adalah usia remaja sampai dewasa. Maka, melalui program PE, lanjut Erizal, untuk mengetahui potensi penularan dan penyebaran DBD berdasarkan gejala dialami pasien yang terjangkit.

”Jadi, melalui penyelidikan epidemiologi memang bisa mengetahui sebab penularan, karena bisa jadi nyamuk berasal dari tempat lain. Seperti satu kasus yang terjangkit pada anak sekolah, ternyata tidak ditemukan di tempat tinggalnya, melainkan di tempat ia bersekolah,” sebutnya.
Sementara itu, pihak Puskes-mas Batuaji juga serius menanggapi mewabahnya penyakit DBD di wilayah berpenduduk padat tersebut. Melalui kader posyandu, tim puskesmas bergerak memberantas jentik nyamuk dari rumah ke rumah.
Kepala Puskesmas Batuaji Fitriati menjelaskan, pembasmi jentik nyamuk ini akan dilakukan oleh jumantik yang sudah lama dibentuk.
”Jumantik ini sudah ada di setiap permukiman. Tim kami dan kader posyandu akan memaksimalkan kinerja jumantik dengan target satu rumah satu jumantik,” ujar Fitriati.
Menurut dia, jumantik dianggap penting karena mencegah penyebaran nyamuk yang menjadi sumber penyakit DBD untuk berkembang biak. Untuk nyamuk jenis aedes aegpety yang hidup di air bersih juga akan dibasmi para jumantik dengan menjalankan program tiga M (mengubur, menutup, dan menguras wadah penampungan air).
”Untuk pencegahan perkembang biakanya nyamuk akan dikerjakan tim jumantik tadi. Sedangkan untuk membasmi nyamuk melalui fogging (pengasapan),” ujar Fitriati.
Pengasapan, sambung Fitriati, sudah berjalan dengan baik hingga saat ini. Wilayah-wilayah yang terdeteksi ada penyebaran DBD sudah dilakukan fogging, seperti Perumahan Puri Mas, Rindang Garden, Griya Prima, dan beberapa perumahan lain di Tanjunguncang.
”Perumahan lain nanti menyusul karena tim masih terus bekerja,” jelasnya.
Sebelumnya Fitriati menyebutkan dua bulan pertama di tahun 2019 ini sudah 25 orang warga Batuaji yang dirawat karena positif DBD. Bulan Januari sebanyak 12 kasus dan Februari ada 13 kasus. Jumlah ini menunjukkan penyebaran DBD masih tinggi, apalgi tidak semua penderita DBD terdata di Puskesmas. Bisa saja berobat ke klinik atau rumah sakit swasta lainnya.
Di Bengkong Korban Meninggal
Jumlah penderita demam berdarah di Kecamatan Bengkong menurun. Jika pada Januari penderita DBD bisa mencapai puluhan, namun Februari hanya beberapa orang saja. Kepala Pukesmas Seipanas (Bengkong Indah) dr Anggrainie NW mengatakan dari data yang dilaporkan terdapat dua orang penderita DBD pada Februari di Keluhanan Bengkong Indah dan Sadai. Sedangkan hingga 5 Maret ini, penderita DBD tercatat hanya satu orang.
”Kalau dibandingkan bulan Januari itu jauh sekali menurun. Mudah-mudahan, ke depannya tak ada lagi yang terjangkit,” ujar dokter yang akrab disapa Anggi ini di ruang kerjanya, Rabu (6/3).
Ia menilai kesadaran masyarakat terkait DBD di wilayah kerjanya mulai meningkat. Bahkan petugasnya turun ke rumah-rumah warga untuk mengecek langsung jentik nyamuk aedes aegypti.
”Kemarin (Selasa,5/3, red), kami turun ke beberapa rumah warga di RW 8 dan 10. Dari 15 warga yang kami kunjungi, satu rumah warga positif ada jentik nyamuk aedes aegypti,” sebut Anggi.
Jentik nyamuk itu ditemukan di dispenser rumah warga tersebut. Karena itu, ia masih mengimbau warga agar lebih waspada terhadap genangan dan penampungan air bersih.
”Ini nyamuk elit, berkembang biaknya di air-air bersih, seperti penampungan air kulkas dan dispenser. Bahkan ada di pot-pot bunga. Jadi saya harap warga bisa lebih awas,” imbuhnya.
Menurut dia, masa inkubasi DBD di tubuh yang terjangkit berkisar 3-15 hari. Karena itu, warga diminta waspada jika anak menderita demam tinggi lebih dari tiga hari tanpa embel-embel sakit lain, seperti batuk dan flu.
”Jika anak demam tinggi lebih dari tiga hari, segera bawa ke dokter. Jangan sampai lengah karena risikonya sangat berbahaya. Intinya, kalau memang DBD, penderita harus banyak mendapat cairan,” jelas Anggi.
Hal senada dikatakan Kepala Pukesmas Tanjungbuntung dr Suriyati. Menurutnya, jumlah penderita DBD pada Februari dan Maret jauh menurun. Dimana pada Januari tercatat 25 warga terjangkit DBD, satu di antaranya meninggal dunia. ”Untuk bulan Februari dan Maret ini jauh menurun. Sebab, tim giat melakukan penyluhan ke rumah-rumah warga,” ujar Suriyati.
Terpisah, Kepala Puskesmas Sekupang Desi Atri mengatakan sudah membentuk kader Jumantik khusus pelajar yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sekupang. Pelajar diberikan pendidikan mengenai DBD dan dampaknya. Selain itu, mereka juga dibekali ilmu memberantas sarang nyamuk termasuk memantau jentik di tempat yang berpotensi menjadi sarang.
Desi menyebutkan, selama Januari jumlah penderita DBD di Puskesmas Sekupang sebanyak 11 pasien, Februari turun menjadi tujuh, sedangkan Maret masih belum tahu karena masih awal bulan.
”Kalau ada yang positif baru kita fogging. Radius 100 meter daru rumah penderita pasti di-fogging,” jelasnya.
Untuk menekan angka DBD ia meminta warga untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya.
”4M plus itu yang penting, karena mencegah lebih baik dari pada mengobati,” tutupnya.
Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam Didi Kusmarjadi meminta seluruh pegawai puskesmas untuk mensosialisasikan permasalahan ini kepada warga ada di wilayah kerja mereka.
”Ini tugas. Berati masih banyak warga yang belum sepenuhnya memahami. Makanya mereka minta fogging atau pengasapan sebagai solusi,” ujarnya.
Perilaku hidup sehat, menurutnya bisa menekan penyebaran penyakit DBD. Warga diminta lebih sering memantau jentik nyamuk di rumah mereka. ”Coba cek dispensernya, atau ada pot bunga. Mana tahu di sana ada,” sebutnya.(cr1/eja/she)
