Minggu, 19 April 2026

Kesadaran Jaga Kebersihan Rendah, Pemicu Tingginya Kasus DBD

Berita Terkait

batampos.co.id – Kesadaran masyarakat menjaga lingkungan tetap bersih, masih sangat rendah. Kondisi ini salah satu pemicu tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Batam. Bahkan, data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, dalam dua bulan terakhir, Januari-Februari 2019 terdapat 166 kasus DBD. Yaitu, Januari terdapat 89 kasus DBD, serta Februari sebanyak 77 kasus. Dimana 89 pasien dinyatakan fositif DBD.

Kepala Dinkes Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan, saat ini terdapat tiga korban baru DBD. Mereka adalah warga Batuaji yang kini masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah (RSUD) Batam di Batuaji.

Menurut Didi, sistem fogging dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) merupakan cara paling efektif untuk membasmi sarang nyamuk aedes aegypti.

Tidak hanya itu, pihaknya juga meminta para camat dari setiap daerah mengaktifkan gotong royong, terutama pembasmian sarang nyamuk di rumah.

“Kesadaran masih kurang. Jadi, sekarang harus membangkitkan kesadaran masyarakat,” katanya, Kamis (7/3).

Sebelumnya Dinkes Kota Batam sudah mengeluarkan surat edaran melalui Wali Kota, agar RT-RW dan lurah menggalakkan PSN. Namun, kenyataannya belum maksimal.

Menurut Didi, hanya bebe-rapa perangkat RT saja yang maksimal dalam menjalankan program PSN di perumahan.

“Sekarang ini, banyak perangkat RT yang bergerak ketika sudah ada korban. Jika belum ditemukan, maka belum ada tindakan ataupun pencegahan yang dilakoni,” sesalnya.

PSN ini serentak diimbaukan kementerian ke seluruh wilayah di Indonesia. PSN sendiri, harus tepat dan fokus pada sasaran yakni air yang berhubungan langsung dengan tanah. Imbauan ini pun telah disampaikan di Batam. Dinkes juga sudah menjelaskan di setiap puskesmas untuk menggalakkan PSN ini.

Selama ini, sambungnya, Dinkes juga sudah banyak melakukan fogging. Sejak awal tahun ini saja, sudah ada 60-an kali fogging.

Berdasarkan data sementara, hingga saat ini sudah 89 korban DBD positif ditemukan di Batam.

Pihaknya saat ini berusaha memaksimalkan potensi Juru Pemantau Jentik Cilik (Jumantik) di setiap rumah. Dinkes menargetkan setiap rumah memiliki Jumantik Cilik.

“Jadi, anak-anak yang akan memantau. Kalau ditemukan, segera melakukan 4M Plus,” katanya.

4M Plus, yakni menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air secara rutin minimal seminggu sekali, mengubur tempat penampungan air yang tidak terpakai, dan memantau jentik nyamuk seminggu sekali.

Plus disini artinya menghindari gigitan nyamuk menggunakan repelen anti nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, melakukan larvasidasi, dan menggunakan kelambu.

“Karena DBD ini bukan lingkungan. Tapi kepadatan penduduk. Penduduk yang padat banyak sekali genangan air yang tak terpantau seperti dispenser, juga tempat bunga,” jelasnya.(rng)

Update