Sosok Benny Andrianto merupakan figur penting dalam kesuksesan PT Adhya Tirta Batam (ATB). Tangan dinginnya mampu membawa ATB meraih berbagai prestasi terbaik di kancah nasional. Sehingga, saat ini Batam dikenal lewat pengelolaan air bersihnya yang nyaris sempurna dengan cakupan pelayanan mencapai 99,5 persen.

RIFKI SETIAWAN LUBIS, BATAM

Sabtu, 23 Februari diwarnai dengan langit yang cerah. Dan momen pagi di penghujung pekan tersebut sudah lama dinanti oleh puluhan orang yang berbaris rapi di depan Gedung ATB yang berlokasi di Sukajadi, Batam.


Puluhan orang tersebut merupakan awak media dari seantero Kota Batam. Mereka berkumpul untuk mengikuti acara Media Gathering ATB 2019. Dalam acara ini, media berkesempatan untuk mengetahui bagaimana cara ATB dalam memenuhi kebutuhan air bersih di Batam.

Berdasarkan jadwal, acara diisi dengan tiga kegiatan utama. Pertama, pemaparan materi dan tanya jawab yang berlokasi di Gedung ATB. Kedua, kunjungan ke Waduk Tembesi dan Waduk Duriangkang. Dan ketiga, acara outbond di Hotel Harris Resort Barelang.

Sesi pemaparan materi dan tanya jawab diisi langsung oleh Presiden Direktur ATB, Benny Andrianto. Acara ini dimulai tepat pada pukul 09.00 WIB saat lelaki berkacamata ini mulai menyapa awak media yang memenuhi ruang rapat ATB.

Pria Jawa kelahiran 24 April ini berasal dari Jogjakarta. Tutur katanya sangat khas sekali karena memiliki dialek Jawa yang kental. Namun intonasi suaranya tidaklah lembut, melainkan tegas berwibawa.

“Saat ini, ATB telah menjadi benchmark perusahaan air minum dengan pengelolaan yang terbaik, efisien dan profesional,” katanya memulai pembicaraan.

Ia kemudian melanjutkan sepanjang tahun, ATB selalu dikunjungi sebagai rujukan untuk studi banding perusahaan daerah air minum (PDAM), DPRD dan pemerintah daerah dari kota lain.

“Suatu anugerah besar bagi Batam sebagai pulau dengan cadangan air baku terbatas dengan memiliki ATB sebagai operator handal dan profesional,” paparnya.

Ir. Benny Andrianto Antonius, MM mulai bergabung dengan ATB sejak Juli 2020. Posisi yang diembannya saat itu adalah Direktur Enginerring.

Posisi tersebut sangat sesuai dengan kompetensi yang ia asah di Fakultas Teknik Sipil Universitas Gajah Mada (UGM). Ia lulus pada tahun 1989.

Setelah itu, Benny bergabung dengan PT Bangun Citra Kontraktor yang merupakan anak perusahaan dari Bangun Cipta Group mulai tahun 1990 hingga tahun 2000.

Bangun Cipta Group merupakan salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia. Dan selama karirnya di perusahaan tersebut, Benny banyak terlibat dalam proyek infrastruktur di Batam dan Bintan sebagai pimpinan proyek (pimpro).

“Salah satunnya yakni Dam Duriangkang yang merupakan dam estuari terbesar di Indonesia,” ucapnya.

Kemudian, Benny bergabung dengan ATB. Setelah sembilan tahun menjadi Direktur Engineering, ia kemudian menjadi Wakil Presiden Direktur sejak April 2009 hingga 2015. Dan setelah itu, Benny duduk di pucuk pimpinan ATB sebagai Presiden Direktur.

Selain itu, Benny juga aktif berorganisasi di Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) sebagai Wakil Ketua Umum. Selain Perpamsi, ia juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Perusahaan Air Minum Swasta Indonesia (Aspasindo) yang menaungi 38 perusahaan air minum swasta di Indonesia.

“Pada tahun 2008, saya meraih gelar Master of Agreement (MM) dengan konsentrasi bidang keuangan dengan predikat Summa Cum Laude dari UGM,” ucapnya dengan penuh kebanggaan.

Benny memang merupakan pria yang kata-katanya selalu terucap dengan penuh keyakinan dan rasa bangga. Tetapi itu sepadan dengan prestasi yang sudah diraih oleh ATB selama berada di bawah kepemimpinannya.

Ia menyebut dalam enam tahun terakhir, ATB sudah menyabet 22 penghargaan prestisius. 20 diantaranya diperoleh saat Benny menjadi Presiden Direktur hingga saat ini.

Sejumlah penghargaan bergengsi yang diterima antara lain Perpamsi Award 2015 yang juga mengantarkan Batam sebagai kota dengan pelayanan air minum dan sanitasi terbaik untuk kota diatas 100.000 ribu pelanggan di wilayah satu Sumatera. Penghargaan ini diraih pada April 2015

President Director PT ATB, Ir Benny Andrianto, MM menerima penghargaan dari Majalah BusinessNews Indonesia dan lembaga Asia Business Research Center sebagai TOP CEO Perusahaan Air Minum 2017 di Rafflesia Grand Ballroom, Balai Kartini, Jakarta, Rabu(24/5/2017) siang

Berikutnya adalah Top Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) 2017 untuk kategori top perusahaan air minum (PAM) berdasarkan kinerja dan manajemen dan juga kategori Top CEO perusahaan air minum.

Ajang tahunan penghargaan TOP BUMD ini merupakan ajang terbesar bagi BUMD yang diberikan oleh Majalah Business News Indonesia bersama Asia Business Research Center. Pada tahun 2018, ajang ini diikuti oleh 750 peserta, termasuk Kepala Daerah dan Top Manajemen BUMD dari seluruh Indonesia.

“Penghargaan yang sama juga diraih pada tahun 2018. Dan dari Pemerintah Kota Batam, ATB juga mendapat Anugerah Batam Madani karena telah bersinergi untuk membangun Batam,” paparnya.

Beragam penghargaan tersebut sebenarnya membuat Benny terkejut, tapi ia mengatakan bahwa semuanya bisa diperoleh karena kinerja ATB yang mampu melayani masyarakat dengan baik.

“Saya juga jujur terkejut. Sebanyak itu kah. Tapi semua penghargaan ini original. Karena prosesnya pun melewati interview, presentasi dan berkompetisi dengan yang lain. Kami apresiasi karena kami tak gila penghargaan, tapi datang sendiri karena kinerja kami,” ujarnya.

Ketika mulai menjadi Presiden Direktur ATB, Benny berinovasi untuk menerapkan konsep teknologi industri 4.0 dalam mengelola sistem manajemen dan pelayanan ATB. Teknologi ini mengandalkan internet agar manusia bisa memantau atau mengendalikan pekerjaan dari jarak jauh. ATB memang sudah mulai mengembangkannya sejak tahun 2006, tetapi mencapai puncaknya beberapa tahun yang lalu.

Sebagai contoh, petugas ATB tidak perlu lagi repot-repot menebak dimana titik kebocoran, karena hanya dengan bermodal gadget saja, ia sudah bisa mengetahui dimana terdapat titik kebocoran. Digitalisasi memang sudah merambah ATB secara maksimal.

Inovasi teknologi ini juga yang merupakan salah satu indikator kesuksesan ATB dalam meraih berbagai penghargaan.

“Penerapan teknologi sangat penting untuk menghasilkan pelayanan prima. ATB sudah menerapkan teknologi industri 4.0 dengan memanfaatkan otomasi dalam tiap yang dibangun untuk pengelolaan operasional maupun dalam pelayanan pelanggan,” ucapnya.

Teknologi industri 4.0 diwujudkan dalam sistem Smart Water Management System. Sistem ini dimulai dari penerapan Enterprise ATB Integrated System (EAIS) yang dikembangkan oleh sumber daya internal ATB.

“EAIS merupakan teknologi integrasi yang dibangun ATB dengan menggabungkan sejumlah sistem yakni Supervisoryu Control and Data Acquisition (SCADA), Geographic Information System (GIS), ATB Integrated System (AIRS), ERP dan BI dalam satu kesatuan sistem terintegrasi,” ucapnya.

Dalam proses operasional, ATB memanfaatkan teknologi SCADA, GIS dan mobile application untuk mendukung setiap pekerjaan.

“Teknologi SCADA memungkinkan petugas ATB melakukan kendali dan pengawasan jarak jauh terhadap proses produksi dan distribusi air bersih,” paparnya.

Lewat perangkat SCADA, operator dapat mendeteksi kekuatan aliran dan tekanan air, debit air, kapasitas dan kualitas air yang diproduksi dari instalasi pengolahan air yang dikelola ATB.

“SCADA berperan penting dalam upaya ATB menurunkan tingkat kebocoran. Integrasi GIS dan SCADA memungkinkan sistem SCADA menjadi lebih baik,” jelasnya.

GIS berfungsi membantu menyajikan pemetaan jaringan, lokasi logger, lokasi aset dan lokasi produksi sehingga memudahkan dalam memonitor proses dan analisa lokasi dalam SCADA. Dan tentu saja membantu menekan jumlah kebocoran.

GIS ini juga dibagi dalam sejumlah varian, yakni GIS Customer untuk keperluan meningkatkan pelayanan pada pelanggan. Kemudian, GIS Monitoring untuk keperluan pemantauan kebocoran secara real time.

Lalu ada GIS Pressure Monitoring untuk memantau tekanan air kepada pelanggan. GIS Meter Inventory untuk memantau inventaris meter air dan GIS Fleet Tracking untuk memantau kendaraan dinas ATB sehingga lebih mudah mendeteksi lokasinya masing-masing.

“ATB juga membangun GIS untuk analisa map yang berfungsi untuk mengetahui konsumsi air pelanggan dalam satu area dan demografi aset seperti panjang pipa serta aksesorisnya. Berkat GIS ini, tingkat kebocoran air ATB terus menurun,” ucapnya lagi.

Sedangkan AIRS merupakan kombinasi dari teknologi ERP dan BI yang dikembangkan ATB dalam mengelola manajemen operasi, pelayanan dan bisnis ATB.

“Dengan integrasi AIRS, SCADA, GIS menjadi satu kesatuan sistem, maka proses pelayanan dan pengoperasian bisnis air bisa dilakukan dengan baik. Ditambah lagi dengan dukungan sumber daya manusia yang kompeten di ATB,” jelasnya.

Lalu bagaimana dampaknya terhadap kinerja ATB dalam melayani masyarakat. Benny menyebut sangat luar biasa. Sejumlah data statistik memperlihatkan pertumbuhan kemajuan yang dialami ATB sejak mulai mengelola air bersih di Batam sejak 1995.

Pertama, mengenai cakupan pelayanan. Pada tahun 1996, ATB hanya melayani 36 persen dan saat ini cakupan pelayanan sudah mencapai 99,5 persen.

“Di Batam, service coverage-nya sudah mencapai 99,5 persen. Sedangkan di Jakarta cuma 60 persen. Kemudian, Surabaya yang punya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terbaik masih 90 persen,” ungkapnya.

Kedua, mengenai tingkat kebocoran. Pada tahun 1996, kebocoran air terjadi di mana saja karena persentasenya masih tinggi mencapai 46 persen. Tetapi sekarang dengan penerapan digitalisasi, angkanya bisa ditekan hingga 16,8 persen.

Peningkatan pelayanan yang semakin baik juga ikut berdampak pada peningkatan jumlah pelanggan. Masyarakat semakin percaya dengan ATB. Pada tahun 1996, jumlah pelanggan hanya 20.439 dan saat ini sudah mencapai 281.584 orang.

Kinerja ini juga ditunjang oleh sumber daya manusia (SDM) terbaik di bidangnya. Benny menggembleng karyawannya dengan tangan dingin dan menanamkan sejumlah nilai spiritualitas yang terwujud melalui kerja keras, saling menghargai, handal, peduli dan juga jujur.

“Dengan cakupan pelayanan capai 99,5 persen dan tingkat kebocoran air terendah di Indonesia untuk kategori PDAM besar, membuat ATB jadi rujukan perusahaan air minum nasional maupun internasional,” ungkapnya.

Sepanjang April 2018, ATB menerima kunjungan dari PDAM Tirtanadi Medan, Pemerintah Kota Banda Aceh, PT Aetra Air Jakarta, PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin dan lainnya untuk kunjungan perusahaan lokal.

Selain perusahaa air lokal, ATB juga rutin dikunjungi instansi mancanegara seperti CEO Danish Water Technology House (DWTH), Saman Corporation, Pemerintah kota Shanxi Tiongkok, Walikota Mbombela Afrika Selatan dan lainnya.

Karena prestasi tersebut, ATB memiliki nama di kancah nasional dan internasional. Dan bagi Benny sendiri, ia juga sering diundang sebagai pembicara dan narasumber di acara berskala nasional maupun mancanegara.

Contohnya seperti Manila Water Link, Water Loss Asia, JWWA, Indonesia Infrastructure Week dan sebagai panelis pada SIWW Singapore.”Baru-baru ini juga diundang sebagai salah satu pembicara pada acara SCADA World Summit di Singapura, dimana pesertanya terdiri dari para pakar yang aktif sebagai peneliti, pengajar, maupun praktisi di bidang SCADA dari seluruh dunia,” jelasnya.

ATB memang diakui dunia karena mampu mengelola sumber daya air yang sangat terbatas di Batam. Sebagai informasi, Batam sangat mengandalkan lima waduk yang menampung air hujan, yakni Waduk Duriangkang, Waduk Mukakuning, Waduk Sei Harapan, Waduk Sei Ladi dan Waduk Nongsa. Total kapasitas waduk tersebut mencapai 3.820 liter per detik dengan total kapasitas produksi mencapai 3.610 liter per detik.

Benny mengaku sangat menikmati rutinitasnya saat ini. Ia bisa berbagai pengalaman kepada teman-teman dari perusahaan air nasional. Ia menyadari bahwa masih butuh banyak waktu untuk membenahi pengelolaan air bersih di tanah pertiwi.

“Saya menayadari bahwa di Indonesia masih sedikit operator yang sudah terbukti berikan kualitas layanan terbaik. Makanya kami juga ingin berkiprah di kota lainnya di Indonesia, supaya ibu pertiwi tidak menjadi negara yang diremehkan oleh negara lain soal pengelolaan air bersih,” tegasnya.

Benny menyebut bahwa ATB dapat konsesi baru di Umbulan, Jawa Timur. Beberapa bulan lalu juga mendapat proyek pengelolaan air minum di Lampung melalui PT Adhya Tirta Lampung.

“Ada juga nanti tender di Gresik dan Bali. Masih banyak tempat yang lain sebelum 2020 berakhir. Kalau tuhan mengizinkan bisa dapat lima merupakan target yang tidak muluk, tapi itu untuk menjamin profil ketersediaan air di Indonesia,” katanya tegas.

Namun, Benny sangat berharap bahwa konsesi pengelolaan air bersih di Batam tetap berada di tangan ATB. Karena ATB sudah mengelola sistem pengelolaan air minum (SPAM) di Batam sejak tahun 1995, saat memperoleh hak konsesi dari Badan Pengusahaan (BP) Batam. ATB adalah Batam dan Batam adalah ATB, sebuah sinergi mendarah daging yang tidak terpisahkan.

Tahun 2020, konsesi tersebut berakhir. BP Batam akan menggelar tender pengelolaan air di Batam untuk mencari pengelola baru SPAM di Batam. Benny berjanji bahwa ATB akan mengikuti tender tersebut. Baginya, mengelola air di Batam bukan hanya mencari keuntungan semata, tapi juga menjadi tanggungjawab moral bagi pemenuhan ketersediaan air bersih di Batam.

“Pasca konsesi, kami punya itikad baik untuk tetap ikutin tender. Karena kami ini pemain profesional. Dengan siapa saja, kapan dan dimana, kami itu siap berkompetisi. ATB tak terganti,” tegasnya. (leo)

Loading...