
batampos.co.id – Warga Batam pasti sudah tahu konsensi ATB Batam mengelola air bersih di Batam akan berakhir pada 2020 mendatang. ATB hadir di Kota Batam sejak 1995.
Selanjutnya BP Batam, sebagai pemegang konsensi akan melakukan lelang untuk menentukan siapa yang akan mengelola air bersih di Batam. Apakah tetap ATB atau perusahaan lain.
Satu fakta yang ada saat ini ialah lelang belum dilakukan. Bahkan audit terhadap aset ATB pun belum dilakukan.
Kelak saat konsensi berakhir, seluruh aset akan dikembalikan ke BP Batam. Katakanlah ATB yang memenangi lelang, ya, ATB akan memulai dari nol lagi.
Pertayaannya mungkinkan ATB tidak lagi mengelola air bersih di Batam? Sangat mungkin. Namun dengan catatan.
Harus ada pernyataan bahwa kinerja ATB buruk.
Harus ada lembaga yang mengelola air bersih menggantikan ATB.
Harus ada sumber daya mumpuni untuk mengelola air bersih di Batam.
Nyatanya hingga saat ini cakupan sambungan air ATB ke pelanggan ialah 99,5 %
Adapun untuk tingkat nasional baru pada angka 70 %.
DKI, ibu kota negara saja masih 63 % warga di sana yang telah terlayani saluran air bersih.
Dari sisi pelanggan, melalui survei lembaga independen ATB Batam mendapat angka 92% pelanggan puas.
“Kami profesional, kami siap bertanding,” ujar Ir Benny Andrianto, Presdir ATB Batam. akhir bulan Februari lalu.
Prasyarat diatas ia nyatakan secara tersirat saat berdialog tentang fenomena pengelolaan air bersih di DKI Jakarta. Pemprov DKI ingin mengambil alih pengelolaan air bersih dari pihak swasta.
Pengelolaan air bersih di Jakarta dikelola swasta sejak 1997 dan akan berakhir pada 2023. Ada dua perusahaan air swasta yang mengelola, yakni Palyja dan Aetra.
Pertanyaan kala itu ialah, apakah mungkin fenomena Jakarta menggelinding ke Batam?
Benny tegas menjawab, sangat mungkin. Hanya saja fenomenanya berbeda. Dari sisi kinerja dan utang beda.
Bedanya lagi Jakarta punya PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), sedangkan di Batam tidak ada.
Andai diambil alihpun pertanyaan akan muncul lagi, apakah pelayanan akan lebih baik?!
Nah, apabila kinerja ATB baik lalu diambil alih, maka pelanggan akan menanyakan, alasannya apa?!
Air ialah masalah krusial. Ia bersifat tak terganti. Gampangnya bila listrik mati masih bisa gunakan lilin sedang air tidak mengalir?! Perlu keberlanjutan memberikan layanan air ke pelanggan.
Demi pelayanan kepada pelanggan itulah ATB Batam menyiapkan tenaga ahlinya dengan pelatihan dan sertifikat kompetensi di bidang masing-masing. Bahkan menjelang berakhirnya masa konsensi 2020 mendatang.
Benny menjamin teknologi ATB tidak bisa dijalankan oleh sembarang orang.
“Menyiapkan sistem itu gampang, menyiapkan SDM… ooo… entar dulu dik,” imbuhnya.
“Jadi andai hal ini merembet ke Batam akan saya hadapi, sejauh merujuk pada fakta bukan karena tendensius, ambisisus sebab yang jadi korban ialah pelanggan di Kota Batam,” ingatnya. (ptt)
