Jumat, 10 April 2026

Menjelang Konsesi Berakhir, Batam Diambang Krisis Air Bersih

Berita Terkait

Dam tembesi.
foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Sumber air baku Pulau di Batam diperkirakan akan semakin menipis pada tahun 2020 mendatang. Saat ini, total kapasitas produksi dari lima waduk yang ada mencapai 3.610 liter per detik, dimana kebutuhan air bersih di Pulau Batam pada tahun 2019 diperkirakan mencapai 3.864 liter per detik.

Presiden Direktur PT Adhya Tirta Batam (ATB), Benny Andrianto mengatakan kondisi tersebut terjadi karena Waduk Tembesi yang digadang-gadang sebagai cadangan air baku masa depan Batam tak kunjung dioperasionalkan. Sedangkan waduk yang masih beroperasi Waduk Sei Harapan malah mengalami pendangkalan sehingga mengurangi kapasitas tampungannya.

“Bagian hulu di kiri dan kanan diisi perumahan. Dan itu tak mungkin digusur. Selain itu, warna air di dam itu seperti teh tarik,banyak garam sehingga belum bisa diolah. Juga banyak perkebunan dan tambang pasir ilegal yang merusak daerah tangkapan air (DTA),” katanya saat acara media gathering bersama ATB di Gedung ATB, Sukajadi, Batam, Sabtu (23/2).

Benny mengatakan DTA dari Waduk Tembesi sudah rusak dan jika dipaksakan beroperasi akan membuat air di Waduk tersebut terkontamintasi limbah dari perumahan di sekitarnya.”Rumah-rumah ini nanti airnya dibuang kemana. Jadi inilah masa depan Dam Tembesi. Mudah-mudahan pemerintah segera sadar dan insyaf,” katanya lagi.

Ia mengatakan perumahan-perumahan tersebut juga merupakan hasil investasi. Akan terjadi bencana sosial kalau digusur paksa oleh pemerintah.

Selain itu, jika waduk tersebut dioperasionalkan, maka kemampuannya sebagai cadangan air baku masa depan Batam tidak akan seperti yang digembar-digemborkan. Seperti yang diketahui, Waduk Tembesi mampu mengalirkan air sebanyak 600 liter per detik.”Tapi, 600 tahun itu dengan catatan hutannya harus utuh karena hutan merupakan tempat penyimpanan air,” katanya.

Namun, saat ini hutan di sekitar area Waduk Tembesi sudah dibabat habis. Sehingga sudah pasti akan mengurangi kapasitasnya

Ia mengatakan sudah mempresentasikan persoalan ini dengan BP Batam dengan dua pimpinan yang berbeda, yakni Hatanto Reksodipoetro dan Lukita Dinarsyah Tuwo. ATB memotret kondisi hulu Dam Tembesi dengan drone sejak dua tahun lalu dan mengaku pesimis mengenai masa depan sumber air bersih di Batam. Benny juga mengatakan persoalan Dam Tembesi ini tampaknya mulai disadari calon investor yang berminat ikut pelelangan. Dari 37 perusahaan yang berminat pada tahap sounding market, sekarang hanya tersisa sembilan perusahaan yang mengikuti tahapan pra kualifikasi lelang pengelolan Waduk Tembesi yang baru dimulai November 2018.

“Pemerintah mungkin sadar, namun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka mengatakan sudah memiliki master plan mengenai ini. Tapi daerah tangkapan air di Dam Tembesi sudah rusak parah, bahkan lebih parah daripada Dam Sei Harapan,” ungkapnya.

Dam Tembesi sudah dibangun sejak tahun 2008 dengan menghabiskan dana negara sebanyak 250 miliar. Waduk yang mampu mengalirkan 600 liter air per detik ini dirancang untuk menjadi sumber air bersih bagi warga Batuaji dan Tanjunguncang.

“Dan semestinya sudah bisa digunakan di awal tahun 2019. Namun sekarang kan masih dalam tahap lelang,” katanya.

Meskipun begitu, ATB tetap akan mengikuti lelang pengelolaan Dam Tembesi. ATB merasa memiliki pengalaman yang cukup dan memahami situasi Batam. Selain itu, Benny mengatakan ini merupakan soal pertanggungjawaban moral, bukan hanya sekadar mencari laba saja.

“Kami ini berkepentingan untuk sediakan air untuk Batam. Suka tidak suka, kami harus ikut. Kalau tidak ikut, siapa nanti yang bisa menjamin operator lain bisa memberikan yang lebih baik,” ucapnya.

Benny mengatakan ATB sebagai perusahaan air minum (PAM) terbaik di Indonesia punya komitmen kuat untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Batam. “Kita tidak boleh hanya diam karena DTA-nya sudah hancur. Akan lebih buruk lagi kalau tak diolah. Jadi harus mengambil posisi dengan risiko suka atau tidak suka,” katanya lagi.

Kebutuhan air bersih memang sangat krusial bagi Batam. Batam tidak memiliki sumber mata air selain mengandalkan air hujan yang ditampung dalam lima waduk besar, yakni Waduk Sei Harapan dengan kapasitas produksi 210 liter per detik, Waduk Sei Ladi dengan kapasitas produksi 240 liter per detik, Waduk Nongsa dengan kapasitas produksi 60 liter per detik, Waduk Mukakuning dengan kapasitas produksi 600 liter per detik dan Waduk Duriangkang dengan kapasitas produksi 2.200 liter per detik.

Kapasitas produksi tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang secara otomatis meningkatkan jumlah kebutuhan air bersih. Hal ini benar-benar krusial saat konsesi pengelolaan air antara BP Batam dan ATB akan berakhir pada tahun 2020.

Pada tahun 2015, kebutuhan air bersih di Batam mencapai 2.948 liter per detik. Kemudian pada 2016 meningkat menjadi 3.154 liter per detik dan terus meningkat menjadi 3.375 liter per detik. Pada tahun 2018, kebutuhan air bersih meningkat menjadi 3.611 liter per detik dan pada tahun ini perkiraannya mencapai 3.864 liter per detik.

Benny kemudian mengilustrasikannya sesuai dengan permintaan sambungan baru di area Batuaji dan Tanjunguncang sekitarnya. Pada tahun 2015, jumlah pelanggan ATB di daerah tersebut mencapai 70.532 pelanggan dan tahun 2018 sudah bertambah menjadi 81.112 pelanggan.

“Tahun 2015 ada 4.871 permintaan sambungan baru. Tahun 2016, ada 4.810, tahun 2017 ada 3.262 dan tahun lalu ada 2.508 permintaan sambungan baru. Tapi sekarang warga di area tersebut sudah mulai merasakan kesulitan air,” ungkapnya.

Sedangkan Kepala BP Batam, Edy Putra Irawadi belum mengetahui secara persis mengenai persoalan Dam Tembesi ini.

“Mengenai Dam Tembesi ini soal penegakan hukum. Apalagi di sana ada perumahan. Maka kami akan bicara dulu dengan kawan-kawan di Pemko Batam,” ungkapnya.

Ia mengakui penguasaan lahan di Batam tidak terdistribusi dengan baik. Sehingga lahan yang seharusnya menjadi DTA untuk Dam Tembesi malah dialokasikan kepada pengembang properti.

“Artinya kalau saya pengusaha berat dan kaya banget, maka bisa kuasai beberapa lahan sekaligus. Makanya soal distribusi ini perlu dilihat lagi,” katanya.

Jika menempun cara penggusuran, maka akan menimbulkan gejolak sosial dari masyarakat. Maka cara lainnya yang dapat ditempuh adalah dengan pemutihan, tapi dengan konsekuensi daya tampung Dam Tembesi akan bergurang.

Selain berpengaruh pada tatanan masyarakat, krisis air yang terjadi juga akan berpengaruh pada investasi di Batam. Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing mengatakan dukungan utilitas yang memadai seperti listrik dan air sangat dibutuhkan untuk menjaga iklim investasi agar tetap kondusif.

“Bila Batam terjadi krisis air, bukan tak mungkin berpengaruh pada iklim investasi. Karena kawasan industri juga membutuhkan air bersih yang memadai,” katanya.

Ia memahami sebagai kota industri, satu-satunya kekurangan Batam adalah keterbatasan sumber daya air. Sehingga ia meminta agar BP dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam mencari solusi agar bagaimana ketersediaan air bersih dapat dipenuhi. (leo)

Update