Penduduk Palestina harus melalui lorong sempit di Checkpoint 300 di wilayah pendudukan Tepi Barat untuk bisa sampai ke Israel. Belakangan ini situasi kian buruk. Desak-desakan tak terhindarkan. Patah tulang, pingsan, kehabisan napas, dan kehilangan nyawa sudah jadi pemandangan harian.

”Dia pingsan. Semuanya minggir! Panggil ambulans.” Teriakan itu datang dari salah seorang warga Palestina yang tengah mengantre di Checkpoint 300. Orang-orang di sekitarnya langsung membaringkan pemuda berbaju cokelat itu di tanah. Resusitasi (CPR) coba dilakukan. Hasilnya nihil. Dia tetap tak sadarkan diri. Dia lantas ditandu dan dibawa dengan ambulans menuju rumah sakit.

”Israel memperlakukan hewan lebih baik dibanding mereka memperlakukan kami,” ujar pekerja lainnya seperti dikutip Al Jazeera.

Pemandangan orang pingsan itu terjadi setiap hari di Checkpoint 300. Itu adalah tempat pemeriksaan yang dibangun Israel lebih dari satu dekade lalu ketika mereka mencaplok wilayah Tepi Barat Palestina dan membangun tembok pembatas. Pengadilan Internasional (ICJ) pada 2004 menyatakan bahwa tembok tersebut ilegal.

Namun, Israel tak menggubris.

Setiap hari ribuan penduduk Palestina melewati tembok tersebut untuk menuju Jerusalem Timur dan wilayah Israel lainnya. Mereka bekerja di sana dengan berbagai alasan. Yang utama tentu saja karena peluang kerja di Palestina sangat minim. Alasan lainnya adalah gaji yang lebih tinggi. Namun, untuk mendapatkan semua itu, mereka harus berkorban.
Para pekerja itu tiba di pos pemeriksaan tersebut sejak pukul 03.00. Itu dilakukan agar mereka tak terlambat bekerja. Sebab, antrean luar biasa panjang. Saat jam sibuk, dibutuhkan waktu tiga jam untuk melewati tempat pemeriksaan tersebut. Tapi dalam kondisi sepi saat siang, hanya diperlukan waktu beberapa menit.

Situasi memanas begitu petugas asal Israel membuka pintu putar dan memperbolehkan penduduk Palestina masuk. Mereka berdesak-desakan agar segera terbebas dari lorong pengap tersebut. Imbasnya, bakal ada yang pingsan, jatuh dan patah kaki, serta patah tulang rusuk karena desak-desakan luar biasa. Ada pula yang tewas karena kehabisan napas.

”Setiap pagi setidaknya satu atau dua pekerja akan ping-san atau kehabisan napas karena kurangnya aliran udara,” ujar Abed Abu Shiera yang sudah 11 tahun berjualan kopi di luar area pemeriksaan.

Abu Shiera-lah yang biasanya menelepon ambulans untuk membawa orang yang ping-san. Oktober tahun lalu seorang pekerja dari kamp pengungsian Arroub di selatan distrik Hebron terpeleset di koridor sempit tempat pemeriksaan tersebut. Kepala pria 65 tahun itu terbentur. Dia dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sayang, nyawanya tidak tertolong.

Dulu, pintu putar itu ditutup setiap 5–15 menit sekali. Entah apa alasannya, selama dua bulan ini interval penutupannya lebih lama. Yaitu, hingga satu jam. Itu membuat antrean kian panjang dan tak tertahankan. Sejak saat itulah, orang-orang jadi lebih sering pingsan.

Pintu putar itu hanyalah tahap awal. Setelah lolos dari sana, mereka masuk ke ruangan lain dan lewat pintu putar sekali lagi. Kemudian, ada tempat pemeriksaan untuk barang-barang bawaan mereka, baru kemudian melewati alat deteksi logam. Setelah lolos semua, petugas akan memeriksa surat izin kerja mereka dan mengambil rekam sidik jari.
Penduduk Palestina berang dengan sikap Israel. Namun, mereka hanya pasrah.

Pemeriksaan seharusnya tidak berjalan lama. Sebab, mereka melewati gerbang tersebut hampir setiap hari selama bertahun-tahun. Kenyataannya, tiap hari kondisinya kian buruk.

”Melewati tempat pemeriksaan ini jauh lebih melelah-kan dibandingkan masa kerja saya selama 8 jam per hari,” ujar Nasser Abu Maria. Pekan lalu, dia pingsan di Checkpoint 300.(sha/c6/sof)