Senin, 6 April 2026

Pengunjung Kebun Raya Batam Protes Pungutan Parkir Liar

Berita Terkait

batampos.co.id – Destinasi wisata butuh sentuhan baru untuk membuat wisatawan tertarik berkunjung ke Batam. Sebagai contoh, Kebun Raya Batam (KRB). Meski disebut sebagai kebun yang berisi banyak flora, tapi pada kenyataannya tumbuhan disana banyak yang layu dan tidak terawat, serta sampah berserakan di mana-mana.

Pantauan Batam Pos, Minggu (10/3) kawasan wisata ini memang banyak dikunjungi masyarakat. Mereka datang membawa keluarga dan teman-teman. Namun, tak banyak yang bisa dinikmati. Selain dari pintu gerbang yang merupakan spot favorit berswafoto, pengunjung hanya bisa berkeliling mengitari KRB melihat bunga-bunga yang tampak tidak terawat.

Haryanto, pengunjung asal Bengkong Pionir mengatakan, kunjungannya ke KRB untuk menikmati senja sambil memandangi flora.

“Tapi sayang, tumbuhan yang ada di sini masih sedikit dan banyak yang layu dan tidak terawat. Pemerintah harus benar-benar memperhatikan ini karena KRB punya peluang jadi lokasi pariwisata yang bagus,” ungkapnya.

Selain kondisi KRB yang kurang terawat, Haryanto juga mengeluhkan soal pungutan parkir liar. Pungutan tersebut membuat kunjungannya menjadi tidak nyaman, karena juru parkir tersebut bukanlah juru parkir resmi.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Pemukiman dan Pertamanan Kota Batam Eryudhi Apriadi mengatakan jumlah petugas sangat terbatas ditambah lagi saat ini kondisi kekeringan melanda seluruh Batam.

“Jadi, armada tidak cukup untuk meng-cover menyiramkan kebun raya itu. Saya juga akan menyampaikan ke Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) agar merapikan kembali,” ucapnya.

Mengenai parkir gratis, sebelumnya Pemko Batam sudah melarangnya. Jika masih ada praktiknya lagi, maka akan segera dikoordinasikan dengan pihak kecamatan untuk menyelesaikannya.

“Susah pas rame pengunjungnya. Ditambah lagi kesadaran pengunjung mengenai kebersihan masih sangat rendah. Sehingga sampah tidak tertata dengan baik,” ungkapnya.

Sebenarnya, Pemerintah Kota (Pemko) ingin membuka KRB lebih jauh ke dalam lagi, dimana pengunjung dapat mengeksplorasi waduk yang ada disana.

“Kalau bisa, kami ingin buka ke dalam. Sehingga orang bisa menikmati waduk dan pohon sekitarnya,” paparnya.

Tapi, kalau dibuka begitu saja, Pemko belum bisa menjamin keamanan pengunjung yang bersantai di sisi waduk. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat yang masih rendah soal kebersihan, maka pasti sampah akan berserakan dimana-mana. “Kita bukan ke dalam bisa terjadi lebih parah lagi karena di dalam lebih luas,” pungkasnya.

Pohon-Pohon di Pinggir Jalan Ditebang

Sementara itu, warga memprotes penebangan puluhan pohon di pinggir jalan di wilayah Batuaji. Bukan hanya pohon tua, pohon yang masih muda pun ikut ditebang. Selain membuat panas, juga mengurangi keasrian dan keindahan jalan.

“Aneh saja, pohon yang sudah besar kok malah dipotong. Padahal menunggu pohon itu tumbuh sangat lama,” kata Sarman, warga Perumahan Genta II, Batuaji, Senin (11/3).

Sarman mengatakan, pohon rimbun di pinggir jalan tersebut membuat nyaman pengendara dan pengguna jalan yang melintas. “Aneh saja. Sekarang belum ada pelebaran jalan, tapi kok ditebang. Harusnya dilestarikan,” tuturnya.

Di sepanjang jalan yang hanya berjarak ratusan meter dari Kantor Kecamatan Batuaji itu, terlihat sisa bekas pemotongan pohon. Bahkan masih terlihat beberapa potongan batang pohon berada di pinggir jalan.

“Setahu saya, pohon itu harusnya dirawat. Apalagi yang ada di pinggir jalan. Kalau banyak pohon, akan adem dan enak kalau jalan kaki,” katanya.

Anggota Komisi III DPRD Kota Batam Werton Panggabean juga meminta Pemko Batam untuk tidak melakukan penebangan pohon di pinggir jalan. Apalagi pohon yang masih kategori muda.

“Kalau memang di pinggir jalan ngapai harus dipotong. Kecuali memang untuk perawatan dan pelebaran jalan. Aneh ini, di daerah lain saja pohon itu dibiarkan sebesar mungkin,” ucapnya.

Kabid Pertamanan Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman dan Pertamanan (Disperkimtan) Kota Batam Irwan Saputra tidak mau berkomentar terkait hal ini. Ia mengaku belum mengetahui mengenai banyaknya pohon yang ditebang di daerah Batuaji.

“Saya akan coba cek dulu. Apakah anak buah saya yang menebang atau siapa. Memang sayang kalau pohon-pohon itu ditumbang,” katanya.(leo/ian)

Update