ilustrasi

batampos.co.id – Rupiah mendapat tekanan sepanjang pekan lalu. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 171,5 poin pada posisi Rp 14.314 per dolar AS, Jumat (8/3).

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, kondisi rupiah yang terus terkontraksi sepenuhnya dipicu faktor eksternal.

’’Perkembangan di ekonomi global memang mendorong menguatnya dolar AS,’’ kata Perry.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira punya pendapat lain. Dia menuturkan, tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya dipicu faktor eksternal.


Beberapa faktor domestik turut berkontribusi. Misalnya, kekhawatiran pelebaran defisit neraca perdagangan lantaran harga sawit menurun bulan ini.

Karena sawit merupakan komoditas andalan ekspor, hal itu bisa jadi sentimen negatif bagi investor asing.

’’Kemudian, soal cadev (cadangan devisa, Red) yang naik, itu, kan, dari penerbitan utang pemerintah. Artinya, tidak berkelanjutan. Investor juga mulai keluar dari bursa karena melihat rilis kinerja emiten yang underperform, khususnya di consumer goods,’’ ujar Bhima. (*)

Loading...