batampos.co.id – Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) merupakan masalah kesehatan paling dominan di Kecamatan Sagulung, sepanjang awal 2019 ini. Berdasarkan data Puskesmas Seilangkai dan Seilekop, dalam dua bulan terakhir, Januari dan Februari, sebanyak 686 warga Sagulung menderita ISPA. Dimana sebagian besar menyerang balita dan anak-anak.
Kepala Puskesmas Seilangkai Yuliadi mengatakan pihanya sudah menangani sebanyak 686 kasus ISPA selama Januari dan Februari ini. Penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang hidung, trakea (pipa pernapasan), atau paru-paru tersebut menye-rang siapa saja terutama anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh lemah.
“Jumlah pasti dari grafiknya saya belum lihat apakah me-nurun atau tidak dibanding dengan tahun lalu. Tapi memang data puskesmas penyakit ini paling tinggi dan dominan setiap bulan,” ujar Yuliandi, Selasa (12/3).
Dia menyebutkan tingginya penderita ISPA tidak lepas dari pola hidup masyarakat yang tidak sehat dan lingkungan. Selain itu, cuaca Batam yang belakangan ini cenderung tak menentu menambah penyebaran penyakit ISPA semakin meluas. Termasuk gejala awal dalam infeksi saluran nafas bagian atas adalah batuk pilek biasa, sakit telinga, radang tenggorokan, dan influenza.
“Faktor cuaca dan daya tahan tubuh. Makanya (penyakit ISPA, red) banyak yang menyerang anak-anak dan balita,” sebutnya.
Sementara itu, data Puskes-mas Seilekop, tercatat ada 200 kasus ISPA sepanjang awal 2019 ini. Senada disampaikan Kepala Puskesmas Seilekop Erizal Syafri bahwa tingginya jumlah kasus ISPA di Sagulung, disebabkan beberapa faktor. Yakni cuaca tak menentu, serta pola hidup kurang sehat menjadi salah satu pemicunya.
“Untuk angka pastinya saya tidak pegang datanya. Tapi memang ISPA ini selalu tinggi. Diimbau agar warga menjaga pola hidup sehat, biasanya dimulai dari lingkungan tempat tinggal,” ujar Erizal, kemarin.
Ia melanjutkan, sebulan penyakit ini biasa menyerang hingga ratusan orang. Dan saat ini rata-rata pasien tersebut sedang menjalani rawat jalan. “Paling tinggi, jumlahnya di atas 200 kasus setiap bulannya,” terangnya. (*)
