
batampos.co.id – Dinas Perumahaman, Permukiman, dan Pertamanan (Disperkimtan) Kota Batam mengakui pihaknyalah yang melakukan penebangan pohon di pinggir jalan di daerah Batuaji. Alasannya, pohon-pohon tersebut sudah lapuk.
“Yang ditebang itu karena sudah lapuk,” kata Kepala Disperkimtan Kota Batam Eryudi, Selasa (13/3).
Kenyataannya, klaim Disperkimtan tersebut bertolak belakang dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Dimana sebagian pohon yang dibabat masih muda.
Beda pula dengan pengakuan Kabid Pertamanan Disperkimtan Kota Batam Irwan Saputra. Irwan me-ngatakan, pohon-pohon tersebut ditebang oleh warga sekitar karena dianggap merusak aspal.
“Yang ditebang itu pohon Angsana. Pohon yang berisiko tumbang di lokasi perumahan, seharusnya menjadi kewajiban masyarakatnya untuk melakukan penanganan,” ujarnya.
Tetapi ketika disebutkan bahwa pohon tersebut berada di pinggir jalan raya dan bukan perumahan, Irwan tidak mau berkomentar. Apalagi setelah mengetahui bahwa beberapa pohon yang ditebang itu masih muda.
Sementara itu, Riko, warga Senawangi menyayangkan penebangan puluhan pohon tersebut, karena merusak penghijauan. Kini di jalan raya tersebut sangat panas.
“Itu masih muda-muda kok pohonnya. Lihat saja itu bekas penebangannya. Lagian ini pohon yang ditebang sangat rimbun,” jelasnya.
Seorang pedagang jok motor di sekitar tempat penebangan pohon tersebut menyebutkan bahwa penebangan dilakukan sekelompok orang berseragam Dinas Pertamanan. Dimana pohon yang ditebang langsung dipotong-potong dan diangkut ke dalam truk.
“Sudah sejak beberapa minggu lalu dipotong. Aneh saja, kok dipotong padahal masih muda. Kita warga ini mana tahu mau dikemanakan pohon-pohon itu,” katanya.
Menurutnya, jalan raya tersebut selama ini paling rimbun. Bahkan banyak pengendara yang berhenti di bawah pohon saat cuaca panas.
“Dulu dingin di sini, tetapi sekarang sudah panas. Aneh sih, kok main tebang,” tambahnya.
Minim Perawatan
Pemerintah Kota (Pemko) Batam dinilai belum serius menjalankan program penghijauan dalam kota. Pasalnya, masih banyak ruas jalan yang tandus dan gersang. Pohon penghijauan yang ditanam di pinggir jalan minim mendapat perawatan sehingga tidak bertahan lama.
Banyak pohon penghijau yang layu dan mati di sepanjang Jalan R Suprapto hingga Jalan Brigjen Katamso, Batuaji. Penyebab utama adalah tancapan paku papan iklan ataupun spanduk usaha di batang pohon penghijauan. Tancapan paku-paku yang dibiarkan berkarat itu menye-babkan batang pohon jadi keropos, mudah tumbang atau kerdil.
Lambat laun pepohonan ini akan habis jika tidak dibarengi dengan penanaman ulang dan perawatan.
Pantauan di lapangan, persoalan ini diperparah lagi dengan aksi pemotongan ataupun pembakaran pohon penghijau. Banyak ruas jalan yang semula rimbun dan adem kini jadi tandus dan gersang karena ada pemotongan pohon penghijauan. Bahkan di sepanjang Jalan Brigjen Katam-so, banyak dijumpai pepohonan yang layu dan kering karena kebakaran lahan penghijau.
Pepohonan penghijauan sepertinya sengaja dimusnah-kan untuk kepentingan tertentu karena di sepanjang row jalan tersebut marak terlihat bangunan liar untuk kepentingan usaha. Lahan penghijauan sengaja dibersihkan untuk kepentingan usaha pihak tertentu.
Ini jadi keluhan serius masyarakat di sana sebab di wilayah padat penduduk ini minim taman atau ruangan terbuka hijau. Masyarakat berharap agar pemerintah segara bertindak untuk mengembalikan fungsi lahan penghijauan yang ada.
“Jangan lagi ada kios liar atau bangunan apapun di lokasi row jalan. Warga butuh taman penghijauan. Cuaca sekarang tidak menentu. Panasnya minta ampun. Ini harus segera dibenahi biar tak susah orang cari taman untuk ngadem,” kata Ribka, warga Kompleks Pasar Melayu, Kelurahan Bukit Tempayang, Batuaji, Selasa (13/3).
Kesulitan Siram Tanaman
Cuaca panas yang belakangan terjadi membuat tanaman yang ada di taman hingga jalan layu, termasuk di Kebun Raya Batam (KRB). Kabid Pertamanan Disperkimtan Kota Batam Irwan Saputra mengakui kondisi cuaca membuat tanaman layu.
Dikatakan Irwan, armada dan tenaga yang ada saat ini belum bisa mengakomodir semua tanaman yang ada di Batam. Saat ini hanya dua armada tangki air yang secara bergantian menyirami tamanan mulai dari jalan hingga taman.
“Kami sudah usahakan dan menambah jam operasinal untuk menyiram tamanan tersebut. Bahkan Sabtu dan Minggu kami juga tetap turun, namun cuaca yang panas ini kan tak bisa kami hindari,” kata Irwan, kemarin.
Pihaknya juga telah mengajukan bantuan ke pusat untuk pengadaan armada untuk menyiram tanaman ini, namun ditolak karena tidak masuk program prioritas. “Nanti kami coba usulkan di APBD. Kami usahakan menambah kekuatan armada agar pekerjaan bisa lebih maksimal,” lanjutnya.
Irwan menjelaskan sejak musim panas memang ada beberapa tanaman yang layu bahkan mati. Untuk itu, ia mengoptimalkan jam kerja untuk petugas penyiram tanaman agar bisa mengurangi jumlah tanaman yang mati. “Kami jalan terus. Ya, semoga saja ada hujan nanti,” sebutnya.(ian/eja/une)
