Almarhum ayah saya pernah berkata: hidup itu keras, jangan pernah menyerah.
Tidak lama lagi, usia saya memasuki tahun ke-32. Kalau tidak ada halangan, delapan tahun lagi saya akan pensiun. Kebetulan, saya merencanakan istirahat di usia 40. Fokus keluarga.

Mungkin, ke depan akan banyak generasi saya yang memilih pensiun dini. Wajar. Kebanyakan perusahaan saat ini dipimpin anak muda. Hampir di semua bisnis. Ada yang jabatan karier, ada juga yang meneruskan usaha orangtua.

Kenapa demikian, karena ketika sudah memasuki usia 40, mereka akan bingung. Karier mentok. Berada di posisi puncak dengan sangat cepat. Itu hal yang wajar. Sangat lumrah.
Terlepas dari soal usia, siapa pun pemimpinnya, tua atau muda, yang pasti punya satu tujuan. Menjaga keberlang­sungan yang dipimpinnya agar tetap berdiri. “Still Standing”.


Kunci menjadi seorang pemimpin bukan lagi diukur dari faktor usia. Matang saja belum cukup. Banyak syarat lain. Bahkan setiap orang punya penafsiran berbeda. Syarat pemimpin ideal itu tidak ada yang baku.

Kalau saya pribadi, cukup meneladani sifat Rasulullah SAW. Sidik (benar atau jujur), amanah (bisa dipercaya), tablig (menyampaikan), dan fatanah (cerdas dan berpenge-tahuan).

Apakah saya sudah mencapai level itu? Belum. Masih sangat jauh. Yang pasti, saya terus berusaha. Minimal untuk diri sendiri. Menjadi pemimpin bagi badan saya. Hehehehehe

“Still Standing” menjadi tujuan kita semua. Baik di dalam kehidupan sehari-hari, perusahaan, hingga urusan negara. Untuk itulah, diperlukan visi dan tekad yang sama dalam mencapai tujuan itu.

Memang untuk mencapainya tidaklah mudah. Malahan lebih susah. Hidup itu keras, jangan mudah menyerah. Sekali jatuh, bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi, lagi, dan lagi. Begitu seterusnya.

Selama terus berusaha dan bekerja keras, “Still Standing” bisa kita raih. Tak ada yang tak mungkin.

Sudah banyak contohnya. Tidak usah jauh-jauh. Kita ambil contoh di Batam saja. 2017 pertumbuhan ekonomi jeblok. Bahkan di kisaran dua persen.

Apa yang terjadi? Ada perusahaan gulung tikar, ada yang masih bertahan. Alhasil, cobaan berat di tahun itu bisa dilewati. Perlahan tapi pasti, ekonomi Batam kembali ke “jalan” yang benar.

Apakah yang bangkrut itu karena kesalahan mereka? Tidak juga. Ada yang memang keputusan. Bisa jadi untuk menyelamatkan usaha yang lain. Demi kepentingan yang lebih besar.

Yang pasti kita semua bisa melalui cobaan dua tahun lalu. “Still Standing”. Toh memasuki tahun 2018, ekonomi mulai membaik. Dan, diharapkan tren ini terus berlanjut. Sekarang sudah tahun 2019. Tren positif terus nampak.

Dalam situasi sekarang, dibutuhkan inovasi dan kreativitas. Pemimpin mesti turun gunung. Ambil keputusan cepat. Bekerja keras bersama yang dipimpinnya. Dan yang palinh penting, berani ambil risiko.

Karena seorang pemimpin memang ditakdirkan menanggung semua risiko yang dihadapi. Sudah menjadi hukum alam. Jika berhasil dapat pujian, gagal akan disalahkan.

Itulah mengapa, banyak bermunculan pemimpin muda. Kebiasaan putuskan dulu, hasil belakangan jadi tren. Sama seperti saya. Simpel banget. Kebanyakan berpikir atau kelamaan menimbang, keburu disalip orang. Mending kerja sambil mikir.

Yang pasti, siap diganti jika gagal. Kwakakakakak.

Kendati demikian, tujuannya tetap sama. “Still Standing”. Mungkin hanya caranya saja yang beda. Dan realisasinya saja yang tidak sama. Yang pasti, dikotomi antara pemimpin muda dan tua sudah tidak ada. Siapa yang mampu, dia berhak memimpin.

Percaya atau tidak, menjadi seorang pemimpin itu mudah. Sangat gampang. Ketika berhasil memimpin diri sendiri, anda sudah layak disebut pemimpin.

Yang pasti: “Still standing when you fall”. Karena hidup itu keras, seorang pemimpin diharamkan untuk me­nyerah.(*)

Loading...