Perjuangan siswa-siswi SMKN 4 Batam untuk membuat serbuk minuman jahe instan boleh diacungi jempol. Pasalnya, meski pernah gagal saat proses produksi dan bersusah payah harus berdiri selama delapan jam mengolah bahan baku, kini mereka menuai hasil kerja kerasnya. Produk itu laris manis, dan omzet mengucur deras setiap bulannya.

Nurmamidah,17, sibuk mempersiapkan mesin pengu-apan atau evaporator. Mesin ini digunakan untuk mengolah air sari jahe jadi bubuk jahe. Setidaknya, butuh tiga jam pengolahan di mesin ini agar jahe parut bisa berubah jadi serbuk jahe dan siap untuk dikemas sebelum nanti dijual.

Ya, perempuan yang duduk di kelas XI Kimia Industri SMKN 4 Batam itu bersama siswa lainnya pada Senin (11/3) lalu membuat minuman serbuk jahe baru, karena produk yang dihasilkan sebelumnya sudah laku terjual.


Ia terlihat cekatan menjelaskan langkah-langkah pembuatan jahe dari proses awal hingga akhir. Masing-masing siswa juga telah paham tugasnya masing-masing. Di sudut ruangan, juga terlihat alat parut jahe. Di ruang produksi ini, siswa lainnya juga tengah sibuk menggunting label bertuliskan SMKN 4 Batam, yang akan ditempelkan di setiap bungkus jahe serbuk yang sudah dikemas.

Setelah diparut, siswa laki-laki terlihat mengambil perannya memeras jahe tersebut. Jahe yang telah diparut memang harus diperas terlebih dahulu untuk mendapatkan air sari jahe, yang merupakan bahan utama pembuatan jahe serbuk instan.

Maruf, Hafiz, Rendi dan siswa lainnya terlihat bergantian dan saling membantu men­dapatkan sari jahe sebaik mungkin. Tugas ini memang dibebankan untuk siswa lelaki, karena butuh tenaga yang kuat.

”Jadi, bahan yang sudah siap, kami parut dulu di mesin parut. Sebelumnya, jahe sudah dibersihkan terlebih dahulu,” kata Nur, di sela-sela proses pembuatan jahe.

Setiap kali produksi, pihaknya membutuhkan sedikitnya 10 kilogram (kg) jahe kualitas bagus untuk diolah. Selain itu, beberapa bahan tambahan juga harus disiapkan. Di antaranya gula 10 kg, minyak makan 10 liter dan bahan-bahan lainnya.

”Nanti, adonan dipanaskan selama dua jam, agar bisa menghasilkan bubuk jahe yang siap diseduh. Lebih cepat bila dibanding dulu karena prosesnya manual,” terangnya.

Ia menceritakan, sebelum memiliki mesin penguapan, ia bersama teman-temannya harus bergantian mengaduk adonan jahe kurang lebih selama delapan jam.

”Jadi bergiliran ngaduk-nya. Karena kalau tak diaduk nanti tumpah. Jadi delapan jam berdiri sambil ngaduk. Biar tak capek kami gantian. Ada sifnya juga,” cerita perempuan yang mengenakan jas putih ini.

foto-foto: batampos.co.id / yulitavia

Untuk proses pembuatan jahe, sebelum adanya mesin tersebut membutuhkan waktu sampai belasan jam. Siswa mulai praktik pembuatan dari pagi sekitar pukul 07.00 WIB dan selesai sore harinya.

”Keluar ruangan sudah bau jahe,” seloroh perempuan 17 tahun ini.

Selama memproduksi jahe, sambung dia, tidak semua berjalan sukses. Beberapa kali juga pernah gagal. Pernah waktu lupa tahap pembuatan, sehingga hasilnya gagal.

”Adonan malah jadi kayak permen,” ungkapnya.

Belajar dari kegagalan tersebut, ia dibantu guru dan kakak kelas berusaha tidak mengulangi kegagalan selama produksi.

”Alhamdulillah, sekarang kami sudah cukup menguasai, dan me-ngurangi kesalahan,” ucapnya.

Jahe yang telah diproduksi harus segera dipasarkan. Setelah dua kali produksi, ia bersama teman-temannya harus memasarkan jahe yang telah dikemas dalam bentuk sachet. Ia bersama siswa Kimia Industri lainnya turun langsung ke pasar-pasar dan rumah warga untuk menawarkan produk jahe tersebut.

Awalnya mungkin tidak percaya diri, karena produk jahe miliknya harus bersaing dengan produk yang sudah memiliki merek dan nama besar di Tanah Air.

”Sejauh ini produk kami diterima dengan baik. Malah pembelinya minta lagi karena rasanya enak,” ucap Nur.

Selain itu, pemasaran jahe juga memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan dan menjual produk asli buatan tangan para siswa ini. Satu bungkus besar jahe instan berisikan lima saset jahe dengan berat 20 gram per sasetnya.

”Setelah selesai, kami harus pasarkan ini jahe ini agar bisa balik modal lagi untuk produksi selanjutnya,” tambahnya.

Nur menyebutkan, satu sachet jahe di jual Rp 3 ribu. Karena dalam satu bungkus ada lima, jadi harganya Rp 15 ribu. Ia bersama teman-temannya bersama-sama memasarkan produk mulai dari pasar, pedagang wedang jahe dan lingkungan keluarga sendiri.

”Selama ini responsnya baik. Ini kan kami yang buat jadi kalau dibeli pasti sangat senang. Apalagi kalau bisa menjual lebih banyak lagi,” kata dia.

Siswa lainnya, Eliana Sya-firti,18, menceritakan dulu pembuatan jahe instan dengan proses manual sehingga siswa tidak bisa meninggalkan proses pembuatan hingga benar-benar selesai.

”Sekarang yang masih manu-al itu memeras sari jahe dari yang selesai diparut. Itu kami masih manual. Biasanya siswa laki-laki yang bagian ini, karena mereka punya tenaga lebih kuat,” ujarnya.

Dulu untuk menyelesaikan produksi jahe ia bersama temannya bahkan harus masuk Sabtu dan Minggu demi menuntaskan produksi.

”Iya, kan semua harus segera dijual. Jadi kami harus cepat selesaikan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Program Kimia Industri SMKN 4 Batam Hari Sugondo mengatakan, saat ini jahe instan hasil produksi anak didiknya juga dipasarkan dengan bekerja sama dengan salah satu pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang di Batam. Nantinya setiap ada pameran, produk jahe SMKN 4 Batam akan dilibatkan.

”Saat ini kami juga tengah mengurus izin usaha rumah tangga dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam. Jadi ada tambahan jaminan untuk produk yang dihasilkan anak-anak,” jelasnya.

Ia menceritakan, untuk menghasilkan 140 bungkus jahe dalam setiap kali produksi, membutuhkan modal Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu. Jika dipasarkan dengan baik, uang yang kembali bisa mencapai Rp 2 juta.

”Alhamdulillah dan lumayan juga. Jadi usaha kerja mereka ini ada hasilnya,” imbuh Hari.

Ia menjelaskan, saat memulai produksi jahe memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Siswa bahkan rela menggunakan waktu liburnya untuk menyelesaikan produksi jahe ini.

”Sampai sekarang sudah ribuan yang diproduksi. Waktu awal-awal masih terbatas. Sekarang mereka sudah bisa dapat untung dari hasil kerja mereka,” tambahnya.

Berbagai kegagalan pernah dialami saat praktik pembuatan jahe instan. Dari adonan tidak sempurna hingga yang dihasilkan malah berbentuk permen. ”Kalau gagal ya anak-anak belajar lebih baik lagi. Jangan sampai ada tahapan yang terlewatkan agar hasilnya baik,” ungkapnya.

Jahe yang diproduksi men­dapatkan sambutan yang sangat baik dari pasar. Saat anak-anak turun mereka mencoba menawarkan produk ini.

”Langsung turun ke lapangan. Jadi, mereka juga belajar menjadi pengusaha atau wirausahawan muda,” imbuhnya.

Menurut dia, para siswa juga mendapat pendampingan dari pelaku UKM. Siswa diajarkan menjadi enterpreneur muda. ”Selain produksi, mereka juga diberikan keterampilan bagaimana memasarkan produk jahe mereka,” tutupnya.(yui)

Loading...