Senin, 6 April 2026

Seorang WNI Ditemukan Tewas Korban Kebrutalan Teroris di Selandia Baru

Berita Terkait

batampos.co.id – Teka-teki hilangnya seorang warga negara Indonesia dalam insiden penembakan di Christchurch akhirnya terjawab tadi malam. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington menyampaikan bahwa WNI atas nama Lilik Abdul Hamid tewas.

Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, ada enam WNI yang salat Jumat di Masjid Al Noor saat serangan terjadi. Lima orang telah melapor ke KBRI dalam kondisi sehat.

Sedangkan satu lainnya, Muhammad Abdul Hamid belum diketahui keberadaannya.

”Setelah kami konfirmasi ke keluarga, namanya adalah Lilik Abdul Hamid,” ucap Koordinator Fungsi Protkons KBRI Wellington Rendy Ramanda melalui pesan singkat kepada Jawa Pos, Mingu (17/3) malam.

Sementara itu, data korban jiwa karena teror penembakan di dua masjid Selandia Baru bertambah. Pemerintah Selandia Baru pun berusaha memprioritaskan identifikasi korban. Menurut otoritas, seluruh jenazah harus dipulangkan kepada keluarga pada Rabu (20/3).

Menurut Reuters, korban jiwa terbaru ditemukan di Masjid Al Noor saat petugas memindahkan jenazah-jenazah Sabtu lalu (16/3). Korban ke-50 itu tertimbun jenazah-jenazah yang lain. Di sisi lain, korban luka karena aksi terorisme di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood bertambah menjadi 50. ’’Hingga kini, 34 korban dirawat di rumah sakit.

Dua belas di antaranya kritis,’’ ujar Kepala Spesialis Bedah Christchurch Hospital Greg Robertson.Otoritas memang belum merilis daftar nama atau foto dari jenazah yang ditemukan. Meski begitu, beberapa jenazah sudah dipulangkan ke pihak keluarga. Enam ahli forensik dari Australia dikerahkan untuk mempercepat proses.

’’Kami harus mengetahui penyebab kematian yang pasti untuk proses hukum ke depan. Tak ada yang lebih buruk dari memulangkan jenazah ke keluarga yang salah,’’ ucap Deborah Marshall, Kepala Tim Koroner.

Terkait penyelidikan, otoritas sudah menentukan Brenton Harris Tarrant, 28, sebagai satu-satunya tersangka. Tiga orang lain yang sempat ditahan pada hari penyerangan sementara ini dinyatakan tak terlibat.

’’Belum sampai pada kesimpulan. Kami harap beberapa hari lagi mendapat hasil yang pasti,’’ tutur Komisioner Kepolisian Selandia Baru Mike Bush.

Tarrant, 28, warga Australia, tak punya rekam jejak kriminal sepanjang hidup. Namun, beberapa menit sebelum penyerangan, dia mengirim manifesto ke e-mail resmi Perdana Menteri Jacinda Ardern. Namun, menurut Andrew Campbell, jubir Ardern, e-mail itu tak menyebut lokasi penyerangan dan tidak sampai ke tangan perdana menteri.

’’Akun itu dikelola tim pemerintah dan belum disampaikan ke perdana menteri,’’ ungkapnya.

Dia juga mengunjungi Pakistan dan Turki sebelum melakukan aksi tersebut. Dalam manifestonya, dia meminta agar Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dibunuh.

’’Dia seperti turis kebanyakan. Pergi saat pagi dan kembali saat petang,’’ kata pemilik hotel di Nagar, Pakistan.

Sementara itu, Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya mengunjungi kediaman Lilik di Christchurch, kemarin. Dia menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan support kepada keluarga korban. Tantowi juga meninjau langsung lokasi penembakan di Masjid Al Noor. Bersama WNI dan tim konsuler KBRI Wellington, Tantowi menggelar doa bersama di Hagley Park untuk para korban.

”Dalam kondisi seperti ini, mari kita tingkatkan solidaritas, kekompakan, dan persaudaraan. Saling menjaga, melindungi, dan memberikan informasi,” ucap Tantowi melalui pesan singkat.

Pria kelahiran Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan itu mengimbau masyarakat untuk tenang. Namun, tetap waspada. Hindari tempat-tempat yang berpotensi menjadi target. Ikuti arahan Kepolisian Selandia Baru dan melapor ke KBRI jika mendapat informasi penting.

Tantowi juga menjeguk Zulfirman Syah dan anaknya yang menjadi korban selamat di Christchurch Public Hospital. Zul, sapaan akrab Zulfirman Syah, tertembak di sejumlah bagian tubuh.

Sedangkan, sang anak di bagian kaki.

”Beliau (Zul, red) telah menjalani multiple operations. Saat ini masih terus mendapatkan perawatan medis dari pihak rumah sakit,” terang pria dubes 58 tahun itu. Dia juga menampik kabarhoax yang menginformasikan bahwa Zul telah berpulang.

Koordinator Fungsi Penerangan Sosial, Budaya, dan Pendidikan KBRI Wellington Adek Triana Yudhaswari menuturkan, melarang WNI muslim beribadah ke masjid untuk sementara waktu. ”Sementara di rumah dulu sampai situasi memang benar-benar kondusif,” imbau Adek. Hingga tadi malam, lanjut dia, polisi bersenjata lengkap masih berjaga di beberapa tempat fasilitas umum. Khususnya, masjid.

KBRI Wellington terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI untuk memfasilitasi rencana kedatangan anggota keluarga dari Indonesia yang ingin mengunjungi kerabatnya di Christchurch. Mereka juga membentuk posko sementara pasca insiden penembakan yang bekerja 24 jam.

Posko tersebut bertugas memantau perkembangan situasi dan membantu WNI yang membutuhkan bantuan sehubungan dengan peristiwa penembakan di Christchurch. Apabila terdapat WNI yang belum bisa menghubungi anggota keluarganya yang berada di Christchurch, Pemerintah Selandia Baru membuka  di www.familylinks.icrc.org/new-zealand/en/. (han)

Update