Sungguh, suatu bangsa akan dipandang dari adat dan budayanya. Karena, dari budaya itulah lahir tatanan manusia yang penuh adab dan susila. Namun, menyemai budaya pada generasi masa kini ternyata tak semudah melafalkannya. Itulah tantangan besar, agar para penerus bangsa tak lupa akan jati dirinya.
RATNA IRTATIK, Batam
Suara dawai biola terdengar mengalun perlahan dari pemutar lagu. Itu adalah irama musik pengantar Tari Persembahan khas Melayu Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Berdiri di atas panggung, Marchel mulai menggerakkan tangan kanannya ke depan, disusul kakinya, mencoba mengikuti irama musik. Namun, gerakan bocah ini kaku. Tak ada gemulai dari goyangan tangannya, pun begitu kakinya. Badan bocah laki-laki itu menegang.
“Kaku sekali, menarinya seperti kayu,” kata Aziah, guru kelas sekaligus pelatih ekstrakurikuler (ekskul) tari tradisional di SDN 008 Sekupang, Kota Batam, Kepri, tempat Marchel bersekolah.
Kala itu, Marchel memang tengah diajari menari oleh Aziah. Keengganan memang nampak dari wajah Marchel, sekaligus termanifestasi dalam gerak badannya. Bukan keindahan tari yang tampak, tapi malah parade gerak jalan yang seolah diperagakan bocah kelas 2 sekolah dasar tersebut.
“Padahal menari itu kan badannya harus lemas dan gemulai, tak bisa kaku begitu,” kenang Aziah sembari tertawa.
Tak menyerah, wanita yang pandai menari semenjak masih duduk di bangku SD itu terus menyemangati dan melatih Marchel. Lambat laun, hasilnya mulai tampak. Gerakan tari bocah itu menunjukkan kemajuan.
“Itu saya latih pas kelas 2, dan ketika duduk di kelas 3, gerakan tarinya makin bagus dan tak kaku lagi,” tutur wanita pemilik Sanggar Tari Elang Perkasa Batam tersebut.
Kisah Marchel hanyalah sekelumit cerita dari sulitnya Aziah mengajar tari tradisional Melayu bagi murid SDN 008 Sekupang. Namun, satu hal yang melatari semangatnya mengajar menari tradisional, Aziah tak ingin budaya Melayu yang penuh sopan santun dan merupakan jati diri bangsa berabad-abad itu lenyap dan tak terwarisi ke genarasi masa kini.

Foto: Ratna/batampos.co.id
Meskipun tak bisa dipungkiri, perjuangan Aziah mengajar tari memang tak mudah, karena mayoritas murid sekolah itu tak begitu menyukai tari tradisional Melayu.
Ya, meskipun tinggal di daerah yang memiliki budaya Melayu, nyatanya anak-anak dan generasi kekinian Batam memang perlahan jauh dari budaya tempat bumi dipijak tersebut. Ada banyak faktor penyebabnya. Selain karena orang tua anak-anak tersebut berasal dari berbagai latar suku budaya berbeda di Indonesia yang merantau ke Batam, pengaruh budaya asing yang begitu masif juga punya andil mengikis kecintaan calon penerus bangsa terhadap budaya daerahnya.
Karena itu, sudah jadi panggilan hati Aziah untuk berperan menyemai budaya Melayu kepada anak didiknya, agar mereka kelak tetap mengenal identitas budayanya. Setidaknya, lewat tari tradisional.
“Karena dalam setiap gerak tari tradisional itu ada filosofi dan pelajaran yang bisa dipetik. Misalnya, Tari Persembahan, ketika penari masuk ke panggung itu gerakannya berjalan sambil membungkuk, itu maknanya menghormat pada para tamu,” terang Aziah.
Namun, ia menyadari, melatih tari tak seperti mengajar pelajaran di dalam kelas. Karena, perhatian dan ketertarikan anak yang berlatih menari tak sama seperti mereka ketika duduk menyerap pelajaran di bangku sekolah.
Rata-rata, muridnya memang terlihat antusias saat belajar akademis dan mengaku ingin berprestasi karena punya cita-cita tinggi. Namun, antusiasme serupa tak nampak saat berlatih tari. Padahal, Aziah ingin agar generasi penerus bangsa itu berprestasi di bidang pendidikan, tapi juga punya penyangga struktur budaya yang kokoh sebagai identitas dirinya.
“Ketertarikan anak-anak memang belum terlalu tinggi. Tapi saya rayu terus. Misalnya, saya ajari anak dan keponakan saya menari, lalu saya minta mereka tampil di sanggar sekolah biar murid yang lain tertarik. Sedikit banyak itu berhasil,” ujar dia.
Tak cukup di situ, Aziah lagi-lagi mencari cara agar banyak murid sekolah itu bersedia menari tradisional. Ia mengiming-imingi sertifikat bagi yang bisa menari dan lulus dalam pengujian yang ia buat. Rupanya, trik itu bisa menggaet puluhan murid bergabung dalam ekskul tari di sekolah.
“Karena sertifikat itu nanti memang dipersyaratkan bagi yang mau masuk jenjang SMP, jadi mereka pun mau,” katanya dengan terkekeh-kekeh.
Ketika sudah banyak yang mau bergabung dengan ekskul tari, harapan Aziah membuncah. Ia rutin mengajar murid-muridnya tiap akhir pekan. Sabtu adalah hari yang dipilihnya.
“Saya juga bersyukur karena selain masih ada siswa yang mau belajar tari Melayu, Kepala Sekolah juga sangat mendukung,” ujar wanita yang juga dosen Seni Etnis Melayu di Universitas Universal (Uvers) Batam tersebut.

Demi meningkatkan mutu sekaligus mengasah kepiawaian, Aziah juga tak segan mengajak peserta didiknya untuk mengikuti lomba tari, baik untuk skala nasional bahkan hingga ke level internasional. Kerja kerasnya berbuah manis. Beragam penghargaan tari berhasil disabet.
Sebut saja, Juara I Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kota Batam tahun 2017 sebagai Koreografer Tari, Juara II Tari Zapin di Malaysia tahun 2016 lalu, serta jadi bagian dari Pagelaran Seni untuk Tari se-Dunia di Malaysia.
“Sedikit banyak prestasi hingga ke mancanegara itu memang menarik murid maupun orang tuanya sehingga ikut mendorong banyak anak-anak yang bergabung di ekskul tari,” ujarnya.
Saat ini, ada sekitar 50-an murid SDN 008 Sekupang yang bergabung dalam ekskul tersebut. Dari jumlah itu, 12 murid di antaranya aktif berlatih dan ikut berbagai lomba maupun kegiatan tari tradisional Melayu yang kerap diadakan berbagai instansi di Batam. Saat ini, tari tradisional Melayu yang diajarkan di ekskul tari sekolah itu meliputi Tari Persembahan, Tari Mak Inang Pulau Kampai, dan Tari Zapin.
“Saya hanya ingin, budaya tari tradisional Melayu ini tetap hidup dan lestari hingga kelak nanti,” harap Aziah.
Perjuangan Aziah untuk melestarikan budaya Melayu nyatanya selaras dengan semangat Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam untuk memajukan kebudayaan Melayu di kota yang berjuluk, Bandar Dunia Madani itu.
Kepala Disdik Batam Hendri Arulan mengatakan, budaya Melayu yang merupakan payung bagi budaya lain di Batam harus dijaga sekaligus diajarkan ke peserta didik di sekolah. Karena itu, Disdik Batam mengharuskan adanya mata pelajaran Budaya Melayu untuk jenjang sekolah dasar.
“Di situ diajarkan berbagai hal tentang kebudayaan Melayu, dari tradisi dan tata aturannya hingga produk budaya yang dihasilkan seperti permainan dan sebagainya,” papar Hendri.
Begitu juga dengan tari Melayu, Kepala Disdik juga meminta sekolah-sekolah di Batam agar membuat ekskul dan mengajarkan tari tersebut kepada anak didik. Khususnya, agar mempelajari Tari Persembahan yang paling kerap ditampilkan di berbagai kegiatan formal atau kedinasan.
“Pihak sekolah dan guru mendorong agar siswa ikut ekskul itu, kemudian Dinas Pendidikan yang mengadakan lombanya. Jadi saling terkait dan mendukung,” jelas Hendri.

F. Dok Aziah untuk batampos.co.id
Selain itu, sambung Hendri, Disdik Batam juga beberapa kali memberikan bantuan alat musik untuk sekolah-sekolah di Batam. Termasuk, alat musik tradisional Melayu seperti kompang. Anggarannya, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) bantuan dari pemerintah pusat.
“Tujuannya sama, kita ingin agar seni dan budaya Melayu itu hidup. Tak Kan Melayu Hilang di Bumi,” tutur Hendri, mengutip petuah dari Hang Tuah yang terkenal di Bumi Melayu tersebut.
Menurut Kepala Disdik, peserta didik di pendidikan formal di Batam juga didorong agar belajar seni dan budaya. Pasalnya, selain terkait estetika, seni juga berfungsi menyeimbangkan sisi kognitif para siswa. Begitu juga aspek budaya, yang mesti diajarkan dan diamalkan sebagai suatu eksistensi identitas.
“Artinya, pendidikan itu penting tapi tetap tak mengesampingkan budaya dan seni, sehingga mereka mengenal jati dirinya. Pendidikan dan kebudayaan itu tak terpisah,” tegasnya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam Ardiwinata mengatakan, melestarikan budaya dan tari Melayu juga jadi konsentrasi dinas yang ia pimpin. Terlebih, sudah ada aturan dan payung hukumnya melalui Peraturan Daerah (Perda) Kota Batam Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pemajuan Kebudayaan Melayu.
“Inilah momentum untuk memajukan kebudayaan Melayu, termasuk Tari Persembahan yang harus makin dikuatkan dan diajarkan ke generasi penerus bangsa,” tutur Ardiwinata.
Pihaknya juga mengaku akan memberikan ruang berkembang bagi pagelaran budaya. Salah satunya, juga mengadakan lomba agar makin memotivasi tiap sekolah mengirimkan perwakilannya untuk turut serta.
“Karena tujuannya adalah agar transfer budaya ini terus terjadi dan ada regenerasi, sehingga budaya yang merupakan nyawa suatu bangsa tidak kering, karena itu adalah identitas bangsa,” tutupnya.(*)
