Sebelas tahun sudah, Abdullah mengabdikan dirinya sebagai pendakwah sekaligus pendidik bagi anak-anak Suku Laut di Pulau Air Mas, Kelurahan Ngenang, Kota Batam. Tak hanya pandai salat dan mengaji, kini anak-anak di sana juga mau bersekolah. Namun Abdullah belum berencana menyudahi pengabdiannya, meski usianya sudah hampir kepala tujuh.

SUPARMAN, Batam

Abdullah, 67, memandangi piagam yang tertempel di tembok rumahnya lekat-lekat. Anugerah Batam Madani. Begitu bunyi tulisan dalam piagam yang dibingkai dengan kayu ukiran warna cokelat keemasan itu.


Ya, pada 18 Desember 2018 lalu ia menerima penghargaan tersebut dari Pemko Batam. Ia bersama 10 tokoh Batam lainnya mendapatkan anugerah itu. Abdullah dinilai merupakan sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan, kebudayaan, dan pembinaan Suku Laut. Terutama pendidikan bagi anak-anak Suku Laut di Pulau Air Mas, Kelurahan Ngenang, Kota Batam.

Bangga, tentu saja. Senang, sudahlah pasti. Sebab Abdullah disandingkan dengan 10 tokoh besar lainnya yang memiliki andil penting bagi Kota Batam, di bidang masing-masing. Sehingga mereka dinilai layak mendapat anugerah tertinggi di Kota Batam tersebut.

Namun bagi Abdullah, piagam dan penghargaan bukanlah tujuan utama dari perjuangannya. Bagi dia, keberhasilan mendidik dan membimbing anak-anak Suku Laut di Air Mas jauh lebih membanggakan ketimbang selembar selempang dan sebingkai piagam penghargaan.

Abdullah menunjukkan piagam penghargaan Anugerah Batam Madani 2018 atas dedikasinya membina dan mendidik warga Suku Laut di Pulau Air Mas, Kelurahan Ngenang, Kota Batam.

“Saya sering menangis karena bahagia. Anak-anak Suku Laut itu sekarang pandai mengaji dan azan. Padahal dulu mereka hanya tau cara menombak ikan,” terang Abdullah saat ditemui di kediamannya di Pulau Ngenang, Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Sabtu (16/3) lalu.

Abdullah kemudian menceritakan awal perjuangannya pada 2008 lalu. Perjuangan itu berawal dari rasa keprihatinannya terhadap warga Suku Laut di Pulau Air Mas, pulau yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Pulau Ngenang, tempat tinggalnya. Di Pulau Air Mas ini terdapat 41 kepala keluarga (KK). Sebanyak 25 KK di antaranya merupakan warga muslim. Namun mereka tidak bisa salat dan mengaji.

Kondisi inilah yang membuat Abdullah rela menyeberangi lautan sejauh 3 kilometer setiap hari untuk membina dan mengajari mereka salat dan mengaji. Ia bekerja secara sukarela, tanpa digaji.

“Hampir setiap hari saya ke sana. Mengajar dan kadang ngisi ceramah. Khusus hari Minggu saya libur,” katanya.

Modal tekad dan ketulusan saja ternyata tidak cukup. Di tahun-tahun pertama, Abdullah juga harus memiliki kesabaran ekstra saat mengajari anak-anak Suku Laut salat dan mengaji. Sebab meski kini mereka sudah sedikit modern karena memiliki rumah dan tinggal di daratan, mereka masih kental dengan tradisi Suku Laut yang identik dengan ketertinggalan.

Tak hanya mengajari anak-anaknya, Abdullah juga mengajari para orangtua dan warga usia dewasa. Di tahap ini, kesabaran dan kegigihan Abdullah dituntut lebih ekstra lagi.

“Mereka tak bisa baca dan tulis. Jadi harus ekstra sabar saat mengajar,” kata Abdullah.

Karena tidak bisa membaca dan menulis, Abdullah harus mengajari mereka salah dengan cara menghafal saja. Itupun harus sedikit demi sedikit. Sebab jika hafalannya terlalu panjang, mereka akan mudah lupa.

“Satu hari satu ayat. Misalnya untuk salat, diawali dengan belajar niat. Satu hari itu ya menghafal niatnya saja. Begitu seterusnya sampai ke bagian salam,” kata Abdullah.

Kini, sudah 11 tahun Abdullah mengabdikan dirinya untuk warga dan anak-anak Suku Laut di Pulau Air Mas, Kelurahan Ngenang. Abdullah mengaku, kerja kerasnya selama satu dasawarsa lebih itu sudah terbayar. Anak-anak Suku Laut Pulau Air Mas kini sudah pandai salat dan mengaji. Bahkan beberapa di antaranya sangat mahir mengumandangkan azan.

Begitu juga dengan warga dewasa dan para orangtua di sana. Mereka sudah terbiasa salat dan berjamaah di masjid.

“Bahkan ada yang sudah bisa jadi imam. Kalau saya tak datang, mereka bisa memimpin salat berjamaah di masjid,” katanya.

Tak hanya itu, lanjut Abdullah, warga Suku Laut kini sudah terbiasa berbaur dengan warga daratan lainnya. Menurut Abdullah, tak jarang warga Suku Laut Air Mas ikut melayat jika ada warga Pulau Ngenang, atau pulau-pulau sekitarnya yang meninggal. Bahkan mereka juga ikut salat jenazah.

Satu hal yang membuat Abdullah bangga, ada warga Suku Laut yang pernah ikut lomba salat khusus untuk kaum mualaf yang digelar Kanwil Kemenag Kepri, tahun lalu. Tak disangka, warga Suku Laut tersebut berhasil menjadi juara ketiga.

“Saya merinding mendengar bacaan salatnya,” kenangnya.

Selain fokus pada pendidikan keagamaan, Abdullah juga terus mendorong anak-anak Suku Laut di Pulau Air Mas untuk mengenyam pendidikan formal. Menurut dia, saat ini hampir semua anak usia sekolah di kampung Suku Laut Pulau Air Mas sudah bersekolah di lembaga pendidikan formal. Yakni di SD negeri dan SMP negeri di Pulau Ngenang.

“Bahkan ada satu dua anak yang lanjut ke SMK,” katanya.

Abdullah memang tidak berjuang sendiri. Di Pulau Air Mas itu ada pihak-pihak lain yang ikut memberikan pendampingan dan pembinaan terhadap Suku Laut. Salah satunya Bank BNI yang menghadirkan Kedai Ilmu untuk anak-anak Suku Laut.

Selain itu, ada beberapa pendakwah lain yang juga fokus pada pendampingan warga Suku Laut di pulau lain di Ngenang. Seperti Pulau Todak, Pulau Bubung, dan Dapur Arang.

Namun, meski perjuangannya sudah membuahkan hasil, Abdullah mengaku tidak akan berhenti. Usia senja tidak akan membatasi dan jadi penghalang bagi langkahnya. Ia akan terus mengabdikan dirinya untuk anak-anak dan warga Suku Laut.

“Sampai kapan? Sampai saya tak sanggup lagi menyeberangi laut,” katanya.

Jadi Perhatian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tak hanya pendakwah dan para pejuang pendidikan seperti Abdullah, keberadaan Suku Laut di Kota Batam, khususnya di Pulau Air Mas juga menjadi perhatian pemerintah. Termasuk dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Lurah Ngenang, Raja Azman, mengatakan saat ini ada seratusan kepala keluarga (KK) warga Suku Laut di Kelurahan Ngenang. Mereka tersebar di beberapa pulau, seperti Pulau Air Mas, Pulau Bubung, Pulau Todak, dan Pulau Dapur Arang.

Meski namanya Suku Laut, namun sejak beberapa tahun terakhir mereka sudah tinggal di rumah-rumah yang ada di daratan. Setidaknya mereka tinggal di rumah-rumah panggung di pesisir pulau.

Deretan rumah warga Suku Laut di Pulau Air Mas, Kelurahan Ngenang, Kota Batam.

Hal ini berkat kepedulian pemerintah, baik pusat maupun di daerah, yang memberikan berbagai bantuan. Salah satunya bantuan rumah layak huni bagi warga Suku Laut.

“Dulu mereka tinggal di perahu. Mulai dari makan, tidur, menikah, hingga melahirkan dilakukan di dalam perahu,” kata Raja Azam, Selasa (19/3).

Selain membangun rumah, pemerintah juga menghadirkan sejumlah pembangunan infrastruktur. Seperti jalan, drainase, rumah ibadah, layanan air bersih, hingga listrik.

“Sudah dua tahun ini warga Suku Laut bisa menikmati listrik dari pemerintah,” katanya.

Dari sisi pendidikan, kata Raja Azam, pemerintah juga hadir bagi warga Suku Laut. Mereka terus didorong untuk bersekolah di lembaga pendidikan formal. Saat ini pemerintah telah membangun sekolah SD dan SMP negeri di Pulau Ngenang. Sehingga anak-anak Suku Laut di Kelurahan Ngenang bisa sekolah di sana.

“Bagi yang mau lanjut ke SMA atau SMK masih harus ke luar pulau lagi,” katanya.

Tak hanya itu, lanjut Azam, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam juga rutin memberikan bantuan pendidikan. Misalnya beasiswa bagi siswa kurang mampu atau siswa berprestasi. Sehingga mereka bisa tetap bisa sekolah.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan. Menurut Hendri, Kemdikbud dan Disdik Kota Batam memang berkomitmen meningkatkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) bagi anak-anak usia sekolah. Terutama anak-anak yang tinggal di pesisir pulau, termasuk anak-anak Suku Laut.

“Kami terus mendorong kepala sekolah di pulau-pulau untuk meningkatkan APS,” kata Hendri, Selasa (19/3).

Khusus anak-anak Suku Laut di Batam, sebut Hendri, saat ini sudah banyak yang mulai mau bersekolah. Selain karena kehidupan mereka yang semakin modern, tingginya APS anak-anak Suku Laut tersebut karena akses pendidikan di masyarakat makin terbuka lebar.

“Apalagi untuk jenjang SD dan SMP sekarang ini gratis,” sebutnya.

Sementara Peneliti Sejarah dari Balai Pelestarian Nilai Kebudayaan (BPNK) Dirjen Kebudayaan Kemdikbud UPT Kepri, Dedi Arman, mengatakan pihaknya juga memberikan atensi besar terhadap pembinaan Suku Laut.

“Saat ini kami sedang fokus pada pelestarian Tari Merawai. Menurut sejarah, ini tarian asli Suku Laut,” kata Dedi Arman, Selasa (19/3).

Menurut Dedi, modernisasi bukan berarti mengubah sebuah tradisi. Sehingga membina Suku Laut tidak harus mengubah tradisi mereka. Misalnya, mengubah kebiasaan mereka melaut dengan pekerjaan lainnya.

“Melaut itu sudah tradisi kehidupan mereka. Tak perlu diubah,” katanya.

Selain melestarikan nilai-nilai budaya, modernisasi bagi Suku Laut juga bisa dilakukan dengan mendorong perbaikan dari sisi ekonomi dan pendidikan. Namun bicara soal pendidikan, Dedi menyebut tingkat pendidikan warga Suku Laut di Batam dan Kepri masih jauh jika dibandingkan dengan pendidikan Suku Laut daerah lain. Misalnya Suku Laut di Riau. (*)

Loading...