Sabtu, 4 April 2026

Kemarau, Air Waduk Surut

Berita Terkait

Dam Duriangkang.
foto: rani

batampos.co.id – Setelah sekian lama Batam menghadapi musim kemarau, akhirnya hujan turun kembali, kemarin (21/3) tepat sehari sebelum Hari Air Dunia yang jatuh pada esok hari (22/3).

Turunnya hujan ini sangat disyukuri karena akan menambah persediaan air di lima waduk yang menjadi penopang hidup utama masyarakat Batam.

Kepala Kantor Air BP Batam, Binsar Tambunan mengatakan bahwa sebenarnya hingga saat ini dampak musim kemarau belum akan mempengaruhi kapasitas dam dalam mensuplai kebutuhan air baku.

“Tapi kalau tidak hujan terus, maka cadangan air baku akan semakin berkurang. Jadi pengaruh untuk keberlangsungan sih,” katanya, Kamis (21/3).

Musim kemarau memang berdampak bagi penyusutan lima waduk di Batam, yakni Waduk Mukakuning, Waduk Duriangkang, Waduk Sei Harapan, Waduk Sei Ladi dan Waduk Nongsa.

Berdasarkan data yang dihimpun BP Batam per Kamis, 22 Maret,

Waduk Mukakuning surut 186 cm dari spillway atau lubang air, padahal pada awal Maret baru surut 151 cm.

Waduk Sei Harapan surut hingga 184 cm dari 126 cm pada awal Maret.

Waduk Nongsa surut hingga 75 cm dari 42 cm pada awal Maret.

Waduk Sei Ladi surut hingga 131 cm dari 92 cm pada awal Maret

Waduk Duriangkang surut hingga 130 cm.

Kebutuhan air bersih memang sangat krusial bagi Batam. Batam tidak memiliki sumber mata air selain mengandalkan air hujan yang ditampung dalam lima waduk besar, yakni

Waduk Sei Harapan dengan kapasitas produksi 210 liter per detik,

Waduk Sei Ladi dengan kapasitas produksi 240 liter per detik,

Waduk Nongsa dengan kapasitas produksi 60 liter per detik,

Waduk Mukakuning dengan kapasitas produksi 600 liter per detik

Waduk Duriangkang dengan kapasitas produksi 2.200 liter per detik.

Kapasitas produksi tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang secara otomatis meningkatkan jumlah kebutuhan air bersih. Hal ini benar-benar krusial saat konsesi pengelolaan air antara BP Batam dan ATB akan berakhir pada tahun 2020.

Pada tahun 2015, kebutuhan air bersih di Batam mencapai 2.948 liter per detik. Kemudian pada 2016 meningkat menjadi 3.154 liter per detik dan terus meningkat menjadi 3.375 liter per detik.

Pada tahun 2018, kebutuhan air bersih meningkat menjadi 3.611 liter per detik dan pada tahun ini perkiraannya mencapai 3.864 liter per detik.

Untuk solusi jangka pendek jika kemarau terus terjadi, BP akan memasang sediment trap di waduk-waduk, contohnya di Waduk Duriangkang.

“Sediment trap adalah bangunan air yang berfungsi untuk mengendapkan sedimen yang masuk dengan tujuan mengumpulkan dan memindahkan partikel-partikel pasir dan lumpur. Sediment trap dipasang di 10 titik. Baru terpasang satu, tapi tiap tahun kedepan akan dipasang dua unit, ujarnya.

Pemasangan sediment trap bertujuan untuk memaksimalkan air yang ada di waduk agar jangan sampai hilang. Selain itu melakukan daur ulang air limbah domestik dan mensuplai air dari Bintan dan Lingga. (leo)

Update