
batampos.co.id – Krisis air bersih yang berkepanjangan membuat sebagian penghuni rumah susun sewah (rusunawa) Pemko Batam I, Tanjunguncang menyerah. Mereka memilih pindah karena tak tahan lagi dengan situasi yang kurang nyaman tersebut.
Pengelolah rusunawa Pemko I di simpang PT Batamec, Tanjunguncang menyampaikan rata-rata 13 hunian yang kosong setiap bulan karena masalah pasokan air bersih ini.
“Tahun 2018 lebih dari 300 hunian yang terisi, sekarang tinggal 270 an saja. Tiap bulan rata-rata 13 hingga 14 keluarga yang keluar. Orang (penghuni) jadi malas (tidak betah) makanya cabut mereka,” kata M Syafik, petugas di kantor pengelolah rusunawa Pemko I Tanjunguncang, Senin (25/3/2019).
Mereka pindah, sebab krisis air bersih bukan sebulan dua bulan terakhir ini terjadi tapi sudah bertahun-tahun. Jikapun lancar pasokan air dari ATB, tidak membuat penghuni lega seutuhnya sebab mereka masih harus memikul air dari lantai satu ke lantai dua atau tiga tempat hunian mereka.
“Serba susah di sini kalau urusan air. Mau ngalirpun air itu tetap kami harus pikul. Air tak bisa dipompa ke atas karena terlalu kecil (volume aliran air),” kata Anisa, penghuni hunian di blok C.
Anisa sendiri mengaku sudah berencana akan pindah jika memang situasi yang tak nyaman itu tidak segera diatasi.
“Lagi nyari-nyari kontrakan ini. Menyerah saya dengan situasi ini,” katanya.
M Syafik sendiri tak menampik potensi berkurangnya penghuni rusunawa masih ada. Dia bahkan memprediksi dalam waktu dekat ini bisa sampai 50 kepala keluarga yang akan cabut dari rusunawa itu.
“Sekarang mulai terasa karena minat pembayaran sewa menurun drastis. Biasanya kalau sudah pembayar sewa tersendat, tak lama lagi cabut itu,” kata Syafik. (eja)
