Lokasi yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia, membuat pendidikan di Kepulauan Riau, seperti di Kabupaten Bintan masih kurang mendapatkan perhatian. Namun begitu, semangat belajar dari anak-anak di tepian negeri itu cukuplah tinggi.

Di tengah sulitnya akses jalan serta sarana sekolah dan tenaga pengajar yang masih minim, siswa di Sekolah Dasar Islam Terpadu An-Nahl masih semangat untuk belajar.

Menanggapi keadaan itu, Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui program Tepian Negeri pada Selasa (26/3) lalu menyerahkan bantuan ke SD IT An-Nahl. Bantuan yang disalurkan beripa paket sembako kepada orang tua siswa di sekolah yang ada di Kelurahan Teluk Lobam, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Bintan.

Intan Komalasari dari Global Zakat-ACT Kepulauan Riau mengatakan, pemberian bantuan ini merupakan bentuk perhatian kepada siswa sekolah yang dibangun pada 2015 oleh ACT melalui program yang sama.

“Sebanyak 30 paket pangan diberikan, itu merupakan dana zakat yang dikelola ACT untuk kemudian dikonversi dalam bentuk paket pangan,” jelasnya, Selasa (26/3).

Tidak hanya paket sembako, Global Zakat-ACT juga memberikan 10 beasiswa tunai kepada siswa SD IT An Nahl. Beasiswa yang diberikan akan mampu menunjang kebutuhan hidup siswa untuk bersekolah di sekolah yang sejak 2015 memiliki gedung sendiri. Sebelumnya sekolah menumpang di sebuah ruko.

Asisten 1 Pemerintah Kabupaten Bintan Setioso yang juga hadir saat acara serah teruima mengatakan, cukup terkejut atas bantuan ini. Ia kagum dengan kehadiran ACT yang datang di permasalahan kemanusiaan serta pengentasan kemiskinan di Bintan.

“Mewakili pemerintah kabupaten, saya mengucapkan terima kasih. Ini merupakan kejutan bagi kami (pemkab) atas kehadirannya membantu pendidikan di Bintan,” ungkapnya.

Saat ini, kondisi SD IT An Nahl masih belum teraliri listrik. Hanya genset dari Global Zakat-ACT juga, sekolah mengandalkan sumber listrik. Jalan sepanjang 1 kilometer menuju sekolah juga masih berupa tanah, yang menjadi lumpur saat hujan tiba. Air untuk kebutuhan kebersihan juga masih didapatkan dari membeli di luar sekolah. Mendidik 182 siswa, terdapat 12 tenaga pengajar. Untuk kebutuhan administrasi serta belajar, sekolah berbasis Islam itu hanya memiliki 1 komputer jinjing yang digunakan. (*)