batampos.co.id – Wali Kota Batam Muhammad Rudi meresmikan PT FCS RGP Plastik yang bergerak di bidang produksi palet plastik di Nongsa, Kamis (28/3/2019).
Perusahaan hasil investasi dari beberapa investor itu akan mengimpor 80 persen hasil produksi palet plastik tersebut ke Amerika, Eropa dan Jepang. Sedangkan sisanya, sebanyak 20 persen, untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
Chairman FCS Taiwan, Mr Wang Po Hsun mengatakan perusahaanya tersebut menyerap mayoritas tenaga kerja lokal. Ia menjamin, penggunaan tenaga kerja asing hanya beberapa persen saja dan itu untuk bagian teknis.
Ke depan, direncanakan juga ada transfer pengetahuan. Sehingga nantinya, pekerja di FCS RGP Plastik diisi tenaga kerja lokal.
”Saat ini, tenaga kerja lokal 300 orang, asing sekitar 30-an orang,” katanya, Kamis (28/3).
Ia mengatakan, perusahaanya itu berupaya agar meminimalisir penggunaan palet dari kayu. Adapun, plastik yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan palet berasal dari plastik-plastik yang sudah dibuang.
Untuk saat ini, Wang mengaku plastik tersebut didatangkan dari Jepang karena mutu dan kualitas plastiknya lebih baik.
”Plastik dari Jepang, masuk dalam kategori bagus. Dari Indonesia, bisa saja. Tapi dipilih-pilih, apakah sesuai dengan kebutuhan,” ungkapnya.
Kenapa memilih Batam untuk berinvestasi? Wang mengatakan situasi serta kondisi di Batam dinilainya sangat kondusif. Selain itu, ia merasa tidak ada hambatan dalam mengurus perizinan.
”Izin di sini semuanya cepat, tidak memakan waktu lama. Hanya 4 jam saja selesai semuanya,” tuturnya.
Saat ini, Wang beserta rekan-rekannya sudah menginvestasikan sekitar Rp 200 miliar untuk pembangunan PT FCS RPG Plastik. Ia beharap perusahaan ini dapat berkembang, dan mendukung perekonomian di Batam
Manager Operasional PT FCS RPG Plastik, Adi Zainal mengatakan dalam sehari perusahaan itu dapat memproduksi hingga 600 palet plastik, dengan enam jenis produk palet plastik berbeda.
”Beda-beda jenisnya dan tipe palet yang kami produksi,” tuturnya.
Terkait bahan baku, Adi mengaku masih mendatangkan dari luar negeri. Namun, ke depan penggunaan bahan baku dari luar negeri akan dikurangi dan diganti dengan bahan baku dalam negeri.
”Biaya bahan baku luar negeri cukup tinggi,” ujarnya.(ska)
