ilustrasi

batampos.co.id – Bupati Bintan Apri Sujadi mengatakan, dampak pembangunan Estuari dam Busung, Bintan, ada tiga kampung yang bakal di relokasi.

Ketiganya adalah

  • Kampung Lancang Kuning,
  • Kuala Sempang, dan
  • Busung.

”Kami sifatnya menunggu koordinasi dari Pemprov Kepri terkait rencana pembangunan infrastruktur strategis itu nanti. Karena sampai saat ini, belum ada koordinasi sama sekali,” ujar Apri Sujadi didampingi Sekda Kabupaten Bintan, Adi Prihantara di Gedung Daerah, pertengahan pekan lalu.

Pihaknya saat ini sedang melakukan inventarisir daerah yang akan terkena dampak. Bagi masyarakat yang terkena dampak, jangan dilakukan ganti rugi. Tetapi harus diberikan ganti untung.

”Dibalik pembangunan yang besar tentu ada resiko yang besar juga. Persoalan ini tentu harus ada penyelesaian yang setimpal. Sehingga tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat,” tegas Apri Sujadi.

Sementara itu, Ketua DPRD Bintan, Ade Ansar mengatakan, pihaknya juga belum menerima informasi terkait pembangunan Estuaridam Busung. Politisi Partai Golkar tersebut menegaskan, perlu kajian secara teknis untuk pembangunan tersebut. Karena banyak dampak yang harus ditangani.

”Tentu ini butuh waktu untuk menyelesaikan. Karena didalamnya ada masyarakat yang terkena dampak,” ujar Ade Ansar di Kantor Gubernur Kepri, Tanjungpinang belum lama ini.

Terpisah, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, Ismail mengatakan pembangunan Estuaridam Busung adalah satu keharusan untuk menyelesaikan persoalan defisit air baku Pulau Bintan (Tanjungpinang dan Bintan).

Ia berharap persoalan pembebasan lahan bisa disegerakan oleh pemerintah daerah.

”Memang ada banyak masyarakat yang terkena dampak. Tapi pembangunan infrastruktur bidang perairan ini juga untuk kepentingan masyarakat ramai,” ujar Ismail, kemarin.

Menurut Ismail, BWS Sumatera IV saat ini sudah menuntaskan pembangunan Waduk Sei Gong, Batam dengan kapasitas 400 liter per detik. Selain itu, pembangunan infrastruktur perairan yang sedang digesa adalah Waduk Kawal dengan daya mampu 400 liter per detik.

”Meskipun infrastruktur tersebut jadi, tetapi tetap tak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air baku di Pulau Bintan,” jelas Ismail.

Masih kata Ismail, berdasarkan analisasi neraca air baku oleh BWS Sumatera IV, pada 2016 lalu defisit air di Pulau Bintan adalah 211 liter per detik. Apabila tidak ada embung atau waduk yang segera dibangun, maka pada 2020 mendatang defisit air baku di Pulau Bintan mencapai pada angka 948 liter per detik.

Harapan jangka panjang untuk menuntaskan persoalan defisit air baku di Pulau Bintan hanya melalui Dam Busung, Bintan. Karena kawasan tersebut memiliki daerah tangkapan air sebesar 126 meter persegi.

”Sedangkan debit andalannya adalah 4.000 liter per detik. Adapun rencananya adalah 2.500 liter per detik untuk kebutuhan Kota Batam. Sementara itu 1.500 untuk kebutuhan Pulau Bintan,” tutup Ismail. (jpg)

Loading...