batampos.co.id – Pengamat Politik Linayati Lestari menyebutkan, secara garis besar masih banyak caleg yang tidak paham fungsi dan tugasnya. Akibatnya, janji-janji di lapangan kerap tidak sejalan.
“Yang harusnya perbaikan jalan, pengadaan infrastruktur, bantuan pendidikan, atau menjanjikan memberikan fasilitas. Itu kan fungsi eksekutif bukan legislatif. Caleg itu bukan pegadaian yang mengatasi masalah tanpa masalah seperti itu,” ujar Linayati ketika ditemui di Batam Center, Rabu (27/3) lalu.
Dosen Ilmu Pemerintahan di Universitas Riau Kepulauan (Unrika) ini mengungkapkan, saat ini tingkat kepercayaan publik terhadap anggota legislatif sangat rendah. Kinerjanya dianggap buruk, kurang beretika, dan kerap kali menjadi sorotan kala ada pengadaan fasilitas mewah, hingga kunjungan-kunjungan ke luar kota yang dianggap berlebihan dan tidak mewakili tugasnya sebagai wakil rakyat.
Menurut dia, sikap dan sifat caleg sebelum dan sesudah terpilih sebagai anggota dewan sangat berbanding terbalik. Tidak semua memang, tetapi menurut dia, sangat sedikit caleg yang memaparkan manifesto dan visi-misi pribadi untuk meyakinkan warga saat kampanye. Menurut dia, para caleg lebih banyak yang memamerkan biodata lengkap dengan gelar-gelarnya.
“Tak banyak yang menerangkan, nanti di dewan fungsinya apa? Hanya supaya dapat suara, yang penting dipilih, apa pun dilakukan,” jelas Lina.
Komitmen yang kuat, kata Lina, tak cukup untuk menjadi modal caleg maju ke kancah pesta demokrasi 2019 ini. Namun butuh pengalaman, pemahaman akan masyarakat, serta fungsi dan tugas legislatif itu sendiri.
“Bukan cuma tahu fungsi dan tugasnya saja secara harfiah ya. Legislation, budgetting, dan controlling. Tapi harus paham menjalankan ketiga tugas pokok ini,” jelasnya.
Namun pada kenyataannya, saat kampanye, kerap caleg berakting layaknya ‘dewa’. Mereka merasa diagungkan. Apapun yang menjadi permintaan masyarakat, dicatat, dikerjakan, bahkan diiming-imingi materi yang notabene minus edukasi politik, tanpa paham itu sebenarnya ada di bagian tugas legislatif atau eksekutif.
Memutuskan terjun ke politik, tambah Lina, perlu juga para caleg mengadakan pendekatan ke masyarakat. Dalam hal memilih, masyarakat itu terbagi atas tiga kelompok pendekatan. Yakni, sosiologis, psikologis, dan rasional. Dari sisi pengalaman, tentu saja para caleg pemula kalah dari politisi senior yang telah bertarung berulang kali dalam pemilu.
“Tapi itu bukan jadi alasan. Kalau berbicara mengenai caleg, mereka berangkat dari kepentingan partai. Masing-masingnya utusan partai,” ujar Lina.
Tidak pahamnya tugas dan fungsi legislatif, padahal mereka mencalonkan diri, tidak sepenuhnya salah si caleg sendiri. Melainkan kinerja partai yang dianggap tidak maksimal mengenai pengkaderan.
“Mari lihat kembali sistem perekrutannya. Pembekalan kader dari parpol kerap kali instan. Tak paham fungsi dan tugas dewan, bisa jadi tak paham juga visi dan misi partai politik pengusungnya, yang penting maju dulu,” ungkap Lina.

Lina pun mengungkapkan, gaya berpolitik sekarang di kalangan elite partai masih gaya konvensional. Belum ada yang sudah menjalankan gaya politik 4.0. Menurut dia, tingkatan 4.0 bukan hanya terjadi dalam teknologi dan ekonomi. Nyatanya juga kemajuan gaya berpolitik seperti itu juga penting. “Bayangkan kita hidup di era teknologi, revolusi industri yang begitu cepat. Dunia kini dalam genggaman di dunia serba digital, harusnya para caleg juga peka memanfaatkan momen ini. Tapi ini nyatanya tidak. Kerap kali think and act nggak sejalan,” ujarnya.
Perempuan yang kini menempuh pendidikan S3 di bidang ilmu politik dan pemerintahan di Batu Pahat, Malaysia ini menyebutkan supaya warga cerdas dalam menggunakan hak pilihnya pada Rabu (17/4) mendatang. Berpikir rasional, sempatkan waktu untuk mendalami track record masing-masing caleg di daerah pemilihannya masing-masing.
Dan, bagi para caleg, Lina berharap mereka menyampaikan janji realistis yang memanusiakan manusia. Janji kampanye harus edukatif. Terutama bagi warga yang apatis terhadap pemilu. Harusnya mereka diedukasi supaya tidak golput.
Golput memang pilihan dan hak setiap warga. Tapi seorang caleg harus mampu meyakinkan mereka, bahwa dengan golput artinya mereka kehilangan hak untuk menilai bahkan memprotes kinerja pemerintahan baik eksekutif maupun legislatif. Karena pesta demokrasi ini biayanya mahal. “Jangan sampai sia-sia,” tegas Lina.
Mantan anggota KPU Batam yang juga dosen di Politeknik Negeri Batam, Muhammad Zaenudin, menyebutkan janji-janji kampanye caleg sekarang ini sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari realitas berpolitik di negeri ini. Mereka bisa masuk parpol lalu mencalonkan diri sebagai caleg karena beberapa alasan pragmatis. Pertama, kerena mereka memiliki uang. Kedua, karena mereka punya ambisi kekuasaan untuk melindungi kepentingan pribadi.
“Banyak yang belum siap menjadi pejabat politik sebenarnya,” ujar Zaenudin di Batam Kota, Kamis (28/3) lalu.
Karenanya, Zaenudin menekankan ke masyarakat supaya jeli dalam memilih caleg. Menurutnya, yang harus dipertimbangkan pemilih adalah, apa sebenarnya motif seorang individu maju menjadi caleg. Apakah ingin berinteraksi lebih dekat lagi secara sosial ke masyarakat dengan menjadi wakil rakyat yang sebenarnya, atau ada motif lain seperti menjadi pekerjaan baru atau melindungi kepentingan pribadi.
“Nanti akan kelihatan. Saat kampanye dan berorasi itu akan kelihatan. Di sini, kita sebagai masyarakat yang peduli perlu menjadi kontrol sosial,” ungkapnya.
Zaenudin mengatakan, caleg yang baik itu ketika dalam orasinya ia mengungkapkan dari hati. Dia sudah selesai dengan masalah pribadinya. Dia mau mengabdi menjadi legislatif. Nah ini nanti juga akan kelihatan benar atau tidaknya.
“Karena kompetisi ini adalah berebut kursi. Kursi itu ya kekuasaan. Penentunya ya masyarakat. Jadilah masyarakat cerdas yang kaya literasi akan hal ini,” kata Zaenudin.
Dia menyebutkan, janji-janji caleg kerap menjadi lagu lama. Berulang-ulang dari pemilu sebelumnya hingga pemilu saat ini. Cenderung mengabaikan atau bahkan tidak paham apa yang menjadi tugasnya kelak.
“Dari sisi kompetisi, si caleg layak atau tidak? fungsi budgetting, pengawasan, dan legislasi dia paham atau tidak saat pemaparan kampanye merebut simpati rakyat? Jangan sampai dia merasa eksekutif. Track record, perform yang bagus di masyarakat itu yang penting,” katanya.
Masyarakat juga harus selektif dalam memilih caleg. Lihat rekam jejaknya. Apakah pernah bersentuhan dengan masalah hukum, narkoba, atau sejenisnya. Lihat juga integritas dan cara berkompetensinya. Apakah caleg itu mencalonkan untuk pengabdian atau malah cari pekerjaan. Jadikan itu parameter utama.
“Warga jangan berpikir pragmatis, dibantu atau dikasih duit dulu baru kasih suara. Jangan!” katanya. (*)
