
Foto: batampos.co.id / Cecep Mulyana
batampos.co.id – Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK) akan membuka Rapat Kerja Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ke-29 sekaligus pelantikan pengurus baru Apindo Kepri 2019-2024 di Swissbell Hotel, Harbour Bay, Batam, Selasa (1/4).
Ketua Umum Apindo, Hariyadi B. Sukamdani mengatakan tema dari rakerkonas kali ini adalah Meningkatkan Daya Saing Melalui Reformasi Ketenagakerjaan dan Output Produksi Nasional.
“Rakerkonas merupakan pertemuan tahunan APINDO untuk mencermati dan menyikapi perkembangan dunia usaha, khususnya masalah ketenagakerjaan, Hubungan Industrial dan perkembangan investasi,” katanya saat konferensi pers di Swissbell Hotel, Senin (1/4).
Menurut Hariyadi, pelaku usaha di berbagai sektor industri tengah memasuki era revolusi industri 4.0 sehingga dituntut melakukan penyesuaian sehingga tercapai sasaran efnsiensi bagi kepastian besaran biaya produksi yang menjadi tolak ukur dunia usaha dan industri.
“Penciptaan efisiensi biaya produksi dan hasil produksi yang berlipat dapat diupayakan melalui pengembangan dan penyegaran industri manufaktur Indonesia yang berbasis ekonomi digital dalam memasuki era Industri 4.0,” terang Hariyadi.
Di tempat yang sama, Ketua Apindo Kepri terpilih, Cahya mengatakan akan menjadikan kesempatan ini untuk menyampaikan persoalan yang menghambat investasi di Batam kepada JK yang akan datang bersama dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution.
“Ini akan menjadi kesempatan untuk bertanya kepada Wapres mengenai status Batam. Dialog ini sangat potensial untuk kepentingan Batam,” ujarnya.
Cahya mengakui bahwa setelah pimpinan BP sebelumnya, Lukita Dinarsyah Tuwo, BP mulai stagnan kinerjanya.
“Kepri ini dilanda berbagai kepentingan. Dari Mustafa ke Hatanto, saat itu ekonomi sekian persen, terburuk kedua dari seluruh provinsi di Indonesia,” ujarnya.
Setelah itu, Hatanto diganti Lukita dan ekonomi tumbuh cukup signifikan hingga mencapai 4,5 persen.
“Kebijakan kontroversial dibenahi sehingga ekonomi meroket kembali,” ujarnya.
Kemudian, Lukita diganti. “Setelah itu saya merasakan ekonomi stagnan lagi. Apapun tak bisa jalan,” ungkapnya.
Ditambah lagi, sesaat menjelang pemilu. Banyak pengusaha lokal dan investor yang menunggu hasil pemilu presiden untuk mengetahui kebijakan yang akan diterapkan untuk pertumbuhan ekonomi.
“Wajar saja banyak tak berani ekspansi karena menunggu pilpres dan kejelasan status Batam. Yang masuk cuma plastik-plastik itu,” tegasnya. (leo)
