batampos.co.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam tahun mencatat usia masuk sekolah baik tingkat sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP) melebih daya tampung yang ada.
Sekretaris Disdik Batam, Andi Agung menyebutkan berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) usai 5-7 tahun sebanyak 21 ribu anak, ditambah mereka yang duduk di bangku taman kanak-kanak sebanyak enam ribu anak.
“Jadi total yang siap masuk dan melanjutkan pendidikan ke SD itu ada 27 ribu anak,” kata dia, Senin (1/4).
Sedangkan jumlah anak yang tamat SD tahun ini berjumlah 23.438 siswa. Hal ini artinya terdapat sekitar empat ribu lebih siswa yang belum bisa tertampung.
Lanjutnya begitu juga dengan daya tampung SMP. Saat ini total siswa yang akan menyelesaikan pendidikan mereka di bangku SMP sebanyak 16.901 siswa.
“Ada sekitar lima ribu siswa yang tidak tertampung, jika melihat perbandingan jumlah siswa yang lulus tahun ini,” terangnya.
Andi mengakui permasalahan daya tampung menjadi kendala pertama dalam proses penerimaan siswa baru. Meskipun begitu, pihaknya sudah memikirkan solusi dari permasalahan ini. Dua hal yang dilakukan adalah menambah ruang kelas baru (RKB) dan membangun sekolah baru.
Tahun 2017 lalu Disdik membangun sedikitnya 60 RKB, tahun 2018 meningkat menjadi 94 RKB serta dua sekolah baru yaitu SMPN 56 dan 57 Batam. Selanjutnya tahun ini terdapat 45 RKB dan SMPN 59 di Kampung Bagan.
“Jadi ini merupakan upaya dalam mengantisipasi membludaknya PPDB nanti, khususnya di sekolah negeri. Ini dipersiapkan untuk menampung siswa baru,” ungkapnya.
Ia mengatakan setiap tahunnya pertumbuhan peserta didik naik sebanyak 20 persen. Sehingga setiap PPDB berlangsung selalu terjadi kekurangan daya tampung.
Solusi lain yang ditawarkan Disdik Batam adalah, bagi siswa yang tidak memenuhi syarat untuk diterima di sekolah negeri bisa melanjutkan ke sekolah swasta. “Ini alternatif lainnya. Kalau semua masuk ke negeri sudah pasti tidak bisa tertampung. Masih ada sekolah swasta,” jelasnya.
Andi menambahkan, saat ini masih terus berusaha agar seluruh anak bisa mendapatkan pendidikan. Jangan sampai karena mereka tidak diterima di negeri mereka memutuskan untuk bersekolah.
Untuk itu, sekolah dua shift hingga saat ini masih menjadi solusi. Siswa harus dibagi menjadi dua sesi yaitu pagi dan siang. “Kalau orangtua tidak keberatan. Kalau hanya satu sesi bisa banyak siswa tak tertampung,” terangnya.
Untuk jumlah sekolah dasar negeri (SDN) rata-rata hampir di seluruh kecamatan ada. Namun ada beberapa yang sekolah yang terletak diperbatasan seperti Batuampar dengan Lubukbaja. Sedangkan untuk SMPN saat ini terdapat 59 sekolah, dua diantaranya masih menumpang karena belum memiliki gedung sekolah.
PPDB mendatang masih akan memberlakukan sistem zonasi. Proses penerimaan siswa 90 persen zonasi termasuk siswa tidak mampu, lima persen akademik dan non akademik serta lima persen untuk siswa pindahan.
“Penerimaan berbasis online. Saat ini masih dipersiapkan aplikasinya,” imbuh Andi.
Lanjutnya, PPDB rencananya akan dibuka paling cepat Mei atau Juni mendatang. Saat ini sebagian sekolah swasta juga sudah membuka pendaftaran sekolah lebih dulu. Bahkan beberapa sekolah swasta ada yang sudah penuh.
“Mereka diperbolehkan membuka lebih dulu. Mudah-mudahan semua berjalan dengan baik saat PPDB nanti berlangsung,” harapnya.
Sementara itu, sebelumnya, Kepala Disdik Batam, Hendri Arulan meminta kepada orangtua untuk bijak saat mendaftarkan anaknya ke negeri.
Ia menyebutkan ada persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa diterima di sekolah negeri. Untuk yang SD harus berusia minimal tujuh tahun dan diprioritaskan yang tinggal di dekat sekolah. Sedangkan untuk SMPN harus melihat nilai siswa atau perangkingan.
“Jadi tidak semua diterima walaupun lokasi dekat dengan sekolah. Ada ketentuannya,” ungkapnya.
Tahun lalu karena tingginya minat ke negeri, Disdik menambah dua sekolah meskipun belum ada gedung. Hal ini terpaksa dilakukan karena banyak orangtua yang kecewa karena anaknya tidak masuk di negeri.
“Tahun kemarin ada SMPN 58 dan 59 Batam yang sekarang lagi dipersiapkan gedungnya. Mudah-mudahan akhir tahun ini selesai dan siswa tidak menumpang lagi,” ujarnya. (yui)
